Pramono-Wiranto Hadiri Halal Bihalal Paguyuban Jateng: Keberagaman Jadi Kekuatan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (ketiga kanan) usai Halal Bihalal Paguyuban Jawa Tengah di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (ketiga kanan) usai Halal Bihalal Paguyuban Jawa Tengah di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan komitmennya menjadikan keberagaman sebagai kekuatan utama Jakarta. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai kebijakan terkait perayaan hari besar keagamaan.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri Halalbihalal Paguyuban Jawa Tengah di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4).

“Saya ingin persoalan keberagaman itu menjadi selesai untuk Jakarta. Apa itu keberagaman? Salah satu acara hari ini Halal Bihalal Paguyuban Jawa Tengah, ini menunjukkan bahwa guyub rukun selamanya yang migunani tadi, itu menjadi kekuatan,” kata Pramono.

Dia mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI telah memberikan kesempatan bagi berbagai perayaan keagamaan dan budaya di ruang publik.

“Jakarta ini harus menjadi rumah bagi semua kelompok agama, golongan, dan itu harus betul-betul diwujudkan, bukan hanya dikatakan,” tutur Pramono.

Menurut Pramono, kebijakan tersebut tidak hanya memperkuat toleransi, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Ia menyebut, transaksi saat perayaan Natal di Jakarta mencapai Rp 15,25 triliun setelah adanya insentif pajak dan diskon dari pemerintah.

Peserta mengikuti Parade Imlek Nusantara di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (28/2/2026). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Selain itu, perayaan Nyepi yang untuk pertama kalinya digelar di Bundaran HI dengan menghadirkan ogoh-ogoh dan penjor juga menjadi perhatian publik, termasuk dari luar negeri.

“Semakin orang melihat bahwa Jakarta keberagaman itu bukan hanya diucapkan, tapi pawai ogoh-ogoh membuat banyak orang, karena apa pun Bali ini adalah dilihat dunia,” ungkap Pramono.

Ia juga menyinggung perayaan Imlek yang melibatkan lebih dari 100 kantor, mal, dan hotel, hingga program Jakarta Festive Wonder selama Ramadan dan Idul Fitri.

Festival Nyepi 2026 yang menampilkan pawai ogoh-ogoh digelar di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pramono menilai rangkaian kegiatan tersebut berkontribusi pada peningkatan kondisi ekonomi dan keamanan Jakarta. Ia juga menyebut Jakarta kini menempati posisi kedua sebagai kota teraman di ASEAN.

“Maka dengan demikian saudara-saudara sekalian dalam halal bihalal ini, sekali lagi, kontribusi Paguyuban Jawa Tengah bagi Jakarta itu luar biasa. Luar biasa,” tutur Pramono.

Sementara itu, Dewan Kehormatan Paguyuban Jawa Tengah, Jenderal TNI (Purn) Wiranto, menekankan pentingnya keteladanan pemimpin melalui nilai-nilai budaya Jawa.

Ia menyampaikan pemimpin harus mampu mengendalikan hawa nafsu dan mengedepankan keluhuran budi demi kesejahteraan masyarakat.

“Jadi hawa nafsu itu dikurangi, yang muncul keluhuran budi sebagai seorang pemimpin,” ujar Wiranto.

“Jadi kalau pemimpin lupa untuk menyejahterakan masyarakatnya itu bukan pemimpin, kalau hanya menyejahterakan dirinya ya keluarganya partainya itu bukan pemimpin,” lanjutnya.

Dewan Kehormatan Paguyuban Jawa Tengah, Jenderal TNI (Purn) Wiranto, saat Halal Bihalal Paguyuban Jawa Tengah di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Wiranto juga menyinggung kondisi saat ini yang disebut sebagai masa penuh tantangan atau 'Kolobendu', yang ditandai berbagai bencana alam dan ekonomi.

“Zaman sekarang ini ya adalah zaman Kolobendu di sana diartikan gitu. Kolobendu itu banyak zaman yang banyak bencana alamnya ya. Ada tsunami di Aceh, ada gempa di Yogya, susul lagi kemarin ya ada tanah longsor di tiga provinsi, sekarang di beberapa tempat masih ada gempa-gempa bumi susul-menyusul. Itu namanya Kolobendu, zaman yang penuh bencana. Bencana itu tidak hanya alam tapi bencana ekonomi juga sama,” ungkap Wiranto.

Namun, ia optimistis akan datang masa yang lebih baik, yang disebutnya sebagai 'Kolosubo', dengan syarat hadirnya pemimpin yang bijaksana dan sederhana.

“Nanti ada zaman yang mengubah itu menjadi zaman yang membahagiakan, tapi ya harus ada para pemimpin yang seperti, ya pemimpin yang nggak butuh apa-apa,” tuturnya.

“Pemimpin seperti sederhana kehidupannya tapi ya dengan kebijaksanaan itu ya memancarkan cahaya kewibawaan yang luar biasa. Dia terus akan memantau rakyatnya, rakyat yang di atas, di tengah, di bawah, dipantau kehidupannya seperti apa baru dibuat mereka berbahagia,” ucap Wiranto.