Prananda-Kader PDIP Pakai Baju 'Pro Mega' di Peringatan Kudatuli, Apa Maknanya?

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPP PDIP Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital, Muhammad Prananda Prabowo Saat Peresmian Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (27/7). Foto: Dok. PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPP PDIP Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital, Muhammad Prananda Prabowo Saat Peresmian Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (27/7). Foto: Dok. PDIP

Sejumlah kader PDIP mengenakan atribut bertuliskan "Pro Mega" saat menghadiri peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7).

Pantauan di lokasi, atribut tersebut dikenakan dalam bentuk ikat kepala maupun kemeja. Ketua DPP PDIP Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital sekaligus Kepala Pusat Analisa dan Pengendali Situasi PDIP, M. Prananda Prabowo, tampak mengenakan kemeja bertuliskan "Pro Mega". Sejumlah fungsionaris DPP PDIP dan kader lainnya juga terlihat memakai ikat kepala dengan tulisan serupa.

Ketua DPP PDIP Bidang Keanggotaan dan Organisasi Andreas Hugo Pareira mengatakan penggunaan atribut itu bukan simbol gerakan baru di internal partai, melainkan bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pendukung Megawati Soekarnoputri pada era Orde Baru.

"Pro Mega atau PDI Pro Mega adalah kelompok atau lebih tepatnya gerombolan massa militan pendukung Megawati Soekarnoputri yang muncul dari akar rumput masyarakat pada periode pertengahan dekade 1990-an setelah Kongres Luar Biasa (KLB) PDI 1993 di Surabaya," kata Andreas kepada kumparan.

Menurut Andreas, kelompok Pro Mega merupakan basis massa akar rumput yang tetap bertahan mendukung Megawati dan melawan pemerintahan Orde Baru.

"Gerombolan Pro Mega merupakan basis akar rumput massa pendukung yang dengan gagah berani, pantang menyerah melawan rezim zalim Orde Baru Soeharto," ujarnya.

Ia mengatakan Tragedi Kudatuli pada 27 Juli 1996 menjadi puncak tekanan terhadap kelompok pendukung Megawati. Namun, peristiwa itu juga menjadi bukti ketahanan gerakan akar rumput yang kemudian ikut mendorong lahirnya era Reformasi.

"Peristiwa Kudatuli 1996 adalah puncak kezaliman Orde Baru, sekaligus juga bukti daya tahan PDI Pro Mega melawan kelaliman Orde Baru yang kemudian membawa perubahan menuju pada reformasi pada tahun 1998 dengan diturunkannya Soeharto dan tumbangnya rezim Orde Baru," kata Andreas.

Dia juga menambahkan, kelompok Pro Mega kemudian menjadi cikal bakal lahirnya PDI Perjuangan yang memenangi Pemilu 1999, pemilu pertama setelah Reformasi.

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan pidato pada peresmian Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (27/7/2026). Foto: Dok. PDIP

Karena itu, kata dia, atribut Pro Mega kembali dikenakan dalam peringatan 30 tahun Kudatuli sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para kader dan pendukung Megawati pada masa itu.

"Mengapa kader-kader partai hari ini 27 Juli 2026 mengenakan ikat kepala Pro Mega adalah untuk mengenang heroisme kader-kader akar rumput pendukung Megawati 30 tahun lalu yang berani, berjuang membela kebenaran. Kami tidak lupa!," tegasnya.

Ketua DPP PDIP Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah Ganjar Pranowo juga menanggapi hal tersebut. Dia mengatakan atribut tersebut mengingatkan pada situasi politik saat penyerbuan Kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996.

"Itu mengingatkan posisi kader pada saat terjadinya penyerbuan kantor PDI 27 Juli 1996. Pro Mega vs Pro Suryadi," kata Ganjar kepada kumparan.

Peristiwa Kudatuli merupakan penyerbuan terhadap Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996. Berdasarkan catatan Komnas HAM, peristiwa tersebut mengakibatkan 5 orang meninggal dunia, 149 orang luka-luka, dan 23 orang hilang. Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu momentum penting yang mengawali gerakan Reformasi 1998.