Prancis Perkuat Kerja Sama Riset dengan BMKG & Kampus RI: Mitigasi Bencana-Iklim
·waktu baca 4 menit

Institut de Recherche pour le Développement (IRD) atau Lembaga Penelitian Nasional Prancis untuk Pembangunan Berkelanjutan memperkuat kerja sama riset dengan sejumlah lembaga di Indonesia, mulai dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), perguruan tinggi, hingga lembaga penelitian nasional.
Kerja sama tersebut difokuskan pada pengembangan teknologi mitigasi bencana, riset perubahan iklim, pemantauan gunung api, biodiversitas laut, hingga penguatan sistem peringatan dini di Indonesia.
Penguatan kolaborasi itu disampaikan dalam agenda kunjungan Direktur Utama IRD, Valérie Verdier, ke Indonesia pada 1–7 Juni 2026 mendatang dalam rangka peringatan 50 tahun kehadiran IRD di Indonesia.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, mengatakan Prancis dan Indonesia sebenarnya telah lama bekerja sama dalam berbagai proyek penelitian. Namun kini kedua negara ingin membuat kerja sama yang lebih terstruktur dan berorientasi jangka panjang.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, Prancis dan Indonesia telah menjalankan banyak proyek sejak lama. Tetapi yang ingin kami lakukan adalah menata kerja sama ini dengan lebih baik. Artinya, mengidentifikasi prioritas utama jangka panjang yang sesuai dengan kebutuhan kedua negara kami terkait tantangan internasional dan global yang kami hadapi bersama," kata Fabien Penone di Résidence de France, Jakarta Pusat, Kamis (4/6).
Menurut Fabien, pemerintah kedua negara akan fokus memberikan dukungan pendanaan dan komitmen jangka panjang, sementara implementasi teknis dilakukan melalui kolaborasi antarilmuwan dan institusi riset.
Ia menyebut sejumlah bidang yang menjadi prioritas baru kerja sama Indonesia-Prancis, antara lain energi terbarukan, kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, kesehatan, teknologi antariksa, hingga mitigasi perubahan iklim.
Salah satu kerja sama konkret yang sedang diperkuat ialah kolaborasi IRD dengan BMKG di bidang klimatologi, geofisika, dan pemantauan bencana.
Dalam kunjungan tersebut, IRD juga menandatangani dokumen kerja sama dengan BMKG untuk memperkuat pemantauan risiko bencana dan pengembangan riset kebumian di Indonesia.
Valérie Verdier mengatakan kerja sama itu mencakup pengembangan teknologi pemodelan bencana, pengolahan data satelit, hingga penggunaan peralatan baru untuk mendeteksi aktivitas vulkanik dan gempa bumi.
“Yang baru-baru ini kami berikan adalah peralatan baru untuk mendeteksi dengan lebih baik, misalnya dalam vulkanologi atau gempa bumi,” ujar Valérie kepada wartawan, Kamis (4/6).
Menurut dia, teknologi tersebut nantinya digunakan untuk membantu masyarakat memahami potensi risiko di wilayah tertentu, termasuk ancaman tsunami, gempa bumi, erosi, hingga dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian dan kelautan.
"Jadi kami akan bekerja dalam hal itu, tentang pemodelan, tentang menangkap data dari satelit, dan kemudian mengolah semua itu agar bisa memberikan informasi kepada masyarakat," katanya.
Valérie mengatakan kerja sama riset tersebut berbasis kebutuhan konkret Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan risiko bencana alam.
Selain BMKG, IRD juga bekerja sama dengan berbagai universitas dan lembaga penelitian Indonesia. Salah satunya melalui Laboratoires Mixtes Internationaux (LMI).
IRD saat ini mengoperasikan dua laboratorium bersama di Indonesia, yakni LMI SELAMAT yang berfokus pada penelitian keanekaragaman hayati laut dan perubahan lingkungan, serta LMI SIR yang meneliti dinamika subduksi dan mitigasi risiko vulkanik serta geologi.
Dalam agenda kunjungannya, Valérie juga dijadwalkan mengunjungi Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta dan lokasi pemantauan Gunung Merapi bersama peneliti Indonesia yang terlibat dalam mitigasi risiko gunung api.
Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Mohammad Fauzan Adziman, mengatakan pemerintah Indonesia kini mendorong posisi yang lebih setara dalam kerja sama riset internasional.
“Indonesia ini bukan lagi tanah untuk riset atau research ground, tetapi sebagai partner research,” ujar Fauzan.
Menurut dia, Indonesia dan Prancis kini menjalankan skema pendanaan bersama atau co-funding dalam pengiriman mahasiswa dan proyek riset bersama.
Fauzan mengatakan kerja sama riset Indonesia-Prancis saat ini difokuskan pada delapan bidang utama, yakni pangan, energi, kesehatan, hilirisasi industri, material dan manufaktur, maritim, pertahanan, serta digitalisasi termasuk AI dan semikonduktor.
Ia menyebut sejumlah program quick win yang sedang dipercepat antara lain kerja sama bidang pangan, geologi, pertanian, dan kedirgantaraan.
IRD sendiri telah beroperasi di Indonesia sejak 1976. Sepanjang periode 2020–2024, peneliti IRD dan peneliti Indonesia tercatat menghasilkan 266 publikasi ilmiah bersama.
Lembaga riset asal Prancis itu juga menjalankan program di lebih dari 50 negara dan dikenal fokus pada penelitian pembangunan berkelanjutan, termasuk perubahan iklim, biodiversitas, ilmu kebumian, dan lingkungan.
