Prancis-RI Akan Prioritaskan Kerja Sama Pendidikan, Budaya, hingga Keamanan
·waktu baca 3 menit

Kerja sama Indonesia dan Prancis menginjak usia 75 tahun. Mengawali momentum baru ini, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia berupaya memperkuat kolaborasi dengan berbagai sektor di Tanah Air, dari pendidikan hingga keamanan.
Dalam sambutannya, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menegaskan bahwa kemitraan kedua negara tak dimulai dari nol, melainkan memperkuat apa yang sudah dibangun tujuh dekade ke belakang.
“Indonesia bukan sekadar subjek uji coba, melainkan mitra sejajar. Banyak desainer dan ilmuwan hebat berasal dari Indonesia, dan ini menjadi alasan kami untuk meningkatkan skala kerja sama yang telah ada,” ujar Penone di Kediaman Duta Besar Prancis di Jakarta, Rabu (11/12).
Tahun ini pendidikan akan menjadi salah satu prioritas utama. Hal ini ditunjukkan dengan rencana perluasan program pertukaran pelajar bersama LPDP, serta keberadaan sembilan pusat kebudayaan Prancis yang aktif di berbagai kota di Indonesia.
Kerja sama keamanan dan pertahanan juga menjadi agenda penting. Menurutnya hubungan pertahanan Prancis dengan Indonesia yang sudah kuat akan terus diperkuat di masa mendatang.
“Kami memiliki kerja sama keamanan dan pertahanan yang sudah berjalan dengan baik. Namun, bagi kami penting untuk mendiversifikasi hubungan ini, karena Indonesia adalah mitra sejati di semua bidang. Kami ingin memperdalam kerja sama di setiap sektor,” tegasnya.
Kolaborasi Budaya, Sastra, hingga Sains Teknologi
Perayaan ini turut menghadirkan pandangan dari pelaku kreatif Indonesia yang terinspirasi oleh hubungan kedua negara, salah satunya aktris Asmara Abigail. Prancis memiliki tempat khusus dalam perjalanan kariernya di dunia film.
“Prancis adalah tempat kelahiran sinema. Pertama kali saya ke Paris tahun 2013, dan sepuluh tahun kemudian, film saya diputar di sana selama empat hari dengan apresiasi luar biasa dari masyarakat Prancis,” kenangnya.
Asmara menilai hubungan budaya antara kedua negara bukan sekadar formalitas, melainkan ikatan yang mendorong kreativitas dan apresiasi seni lintas budaya.
Senada dengan itu, penulis Ayu Utami menyampaikan bahwa banyak filsuf dan penulis Prancis yang telah memberikan pengaruh besar pada dunia sastra Indonesia.
“Pertukaran budaya antarbangsa, khususnya dalam bentuk people-to-people exchange, sangat penting. Banyak karya sastra Prancis yang menginspirasi penulis Indonesia dan dunia,” ujarnya.
Tak hanya budaya, kerja sama ilmiah juga menjadi fokus hubungan bilateral ini. Kepala Organisasi Riset Nasional BRIN, Nugroho Dwi Hananto, mengungkap rencana pembangunan laboratorium bersama antara Indonesia dan Prancis.
“Kami akan memperkuat hubungan ilmiah melalui kolaborasi antarilmuwan. Ini bukan hanya soal penelitian, tetapi membangun ekosistem yang mendukung pengembangan sains di kedua negara,” kata Nugroho.
Merayakan Hubungan Panjang
Selain kerja sama strategis, rangkaian perayaan sepanjang 2025 akan mencakup berbagai acara.
Mulai dari forum bisnis, tur grup jazz Prancis, hingga program residensi seniman yang mempertemukan talenta Indonesia dan Prancis.
“Hubungan ini adalah contoh nyata dari kolaborasi negara dari belahan utara dan selatan yang berbagi nilai-nilai multilateralisme. Kami ingin lebih banyak pertukaran antarindividu—dari pelajar, seniman, hingga ilmuwan—untuk memperkuat jaringan yang sudah ada,” ujar Penone.
Acara perayaan ini juga menjadi ajang peluncuran logo 75 tahun hubungan bilateral, yang menampilkan simbol Wayang Kulit dan Menara Eiffel.
Didit Hediprasetyo, putra Prabowo Subianto, turut andil dalam peresmian ini. Dirinya cukup dekat dengan Prancis lantaran sempat lebih dari empat tahun tinggal di sana dan namanya tersohor sebagai desainer Indonesia.
“Logo ini melambangkan keindahan dan kedalaman hubungan kedua negara,” tutup Penone.
