Prediksi BMKG soal Cuaca Ekstrem, Gelombang Tinggi hingga Angin Kencang

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi cuaca ekstrem Foto: Zabur Karuru/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cuaca ekstrem Foto: Zabur Karuru/Antara Foto

BMKG memprediksi cuaca ekstrem, gelombang tinggi hingga angin kencang diberbagai wilayah di Indonesia masih akan terjadi. Selain itu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Indonesia juga diprediksi terjadi hingga Jumat (5/2).

Bahkan ada potensi hujan lebat dan angin kencang disertai petir hingga 2 Februari 2021.

Cuaca Ekstrem Masih Berlangsung hingga Maret

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memberi peringatan, cuaca ekstrem saat ini masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Bahkan, bisa sampai Maret hingga April.

"Dalam prediksi kami masih akan berlangsung hingga bulan Maret paling tidak. Bahkan mungkin di beberapa wilayah mundur dapat terjadi pula di bulan April," kata Dwikorita dalam konferensi pers virtual, Minggu (31/1).

Cuaca ekstrem ini disebabkan sejumlah faktor. Misalnya El Nino yang membuat musim kering lebih panjang dan La Nina yang membuat musim hujan lebih panjang.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan

Kondisi ini mulai memberi dampak pada keadaan cuaca di Indonesia dalam 30 tahun terakhir. Tak hanya itu, konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer juga menyumbang perubahan iklim.

"Kami tonjolkan adalah data dan fakta menunjukkan tren itu meningkat seiring dengan peningkatan temperatur udara di wilayah Indonesia dan seiring dengan korelatif dengan peningkatan intensitas hujan selama 30 tahun terakhir dan juga semakin seringnya periode ulang atau semakin pendeknya periode ulang kejadian hujan ekstrem," jelas dia.

Karena itu, Dwikorita meminta semua masyarakat Indonesia menyimak betul pesan Presiden Jokowi terkait perubahan iklim global. Sebab, penyebab dan dampak yang ditimbulkan sudah sangat nyata.

Ilustrasi Perubahan Iklim Foto: Pixabay

BMKG Ungkap Dampak Perubahan Iklim Global Sejak 1950-2019 di Indonesia

Perubahan iklim global berdampak pada kondisi cuaca di Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG memberi sejumlah fakta.

"Jadi kami akan menunjukkan bahwa perubahan iklim global dan dampaknya itu nyata berdasarkan data," kata Kepala BMKG Dwikorita dalam jumpa pers secara virtual, Minggu (31/1).

Nah data tersebut antara lain kejadian ekstrem yang meningkat yaitu misalnya ini salah satu contoh saja kejadian El Nino yang mengakibatkan pada kekeringan yang panjang dan kejadian La Nina yang mengakibatkan musim hujan basah yang panjang

Kepala BMKG Dwikorita

Dwikorita lalu membeberkan data, sebetulnya kejadiannya lebih panjang lagi, data BMKG sejak 1950 sampai tahun 2019 terdapat perubahan cuaca yang siginifikan.

"1950 Itu sudah terjadi La Nina dan seterusnya. Yang menarik adalah kejadian ini diikuti setiap 2 sampai 3 tahun terjadi fenomena ekstrem El Nino kekeringan yang panjang dan La Nina ya itu musim hujan basah yang panjang," beber Dwikorita.

Penyebab perubahan iklim global ini, salah satu penyebabnya terlihat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca ada di atmosfer. BMKG mencatat, gas rumah kaca antara lain CO2.

"Semuanya sudah paham CO2 itu akibat dari pembakaran fosil fuel akibat dari kegiatan industri transportasi penggundulan dan seterusnya," terang dia.

Ilustrasi Hujan. Foto: Shutterstock

Puncak Musim Hujan di Jakarta Awal Februari

Beberapa hari belakangan, Jakarta dilanda cuaca ekstrem. Hujan lebat turun begitu cepat membuat sejumlah jalan di Jakarta tergenang, meski tak sampai banjir besar.

BMKG memprediksi, puncak musim hujan di Jakarta ada pada awal Februari 2021. Hal ini terlihat dari gambaran atmosfer yang terpantau BMKG.

"Jabodetabek kita lihat dari 1 Februari, lalu lihat ada peningkatan di 3 Februari. Kita lihat semua itu tergantung dengan dinamika atmosfer, untuk berikan gambaran ini adalah analisis curah hujan yang sudah terjadi dari 27-31 Januari," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dalam konferensi pers virtual, Minggu (31/1).

Warga Jakarta dan sekitarnya memang masih harus waspada dengan curah hujan beberapa hari ke depan. Meski begitu, catatan BMKG, curah hujan tidak akan lebih dari 100 mm per detik.

"Jadi kalau kita lihat curah hujan tertinggi belum ada yang sampai 100 dalam baru 95 belum ada 100," tambah dia.

Ilustrasi angin kencang Foto: REUTERS/Alvin Baez

Ada Potensi Angin Kencang dan Banjir di Jateng, NTT, Sulteng, hingga Papua

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Indonesia terjadi hingga Jumat (5/2). Bahkan ada potensi hujan lebat dan angin kencang disertai petir hingga 2 Februari 2021.

"Untuk perkiraan cuaca untuk Indonesia, ada potensi hujan lebat, angin kencang, banjir serta potensi hujan disertai dengan petir 31 Januari-2 Februari," Deputi Bidang Meteorologi Guswanto dalam siaran virtual, Minggu (31/1).

Untuk itu, ia meminta warga untuk selalu waspada selama tiga hari ke depan hingga pukul 07.00 WIB. "Meliputi hujan Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dengan NTT dan Papua,” tambahnya.

"Kemudian di Februari Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat. Kalau kita lihat konsisten. Untuk 2 Februari ada di NTB, NTT, dan Papua," ujarnya.

Sementara itu, Guswanto mengatakan, bila dilihat dari data yang ada, puncak musim hujan di Jakarta diperkirakan terjadi pada akhir Januari hingga awal Februari 2021.

Ilustrasi gelombang tinggi. Foto: Pixabay

Gelombang 4 Meter di Sabang, Laut Jawa Selatan hingga Sumbawa

Kapala BMKG Dwikorita Karnawati memberi peringatan, cuaca ekstrem saat ini masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Bahkan, bisa sampai Maret hingga April.

"Dalam prediksi kami masih akan berlangsung hingga bulan Maret paling tidak. Bahkan mungkin di beberapa wilayah mundur dapat terjadi pula di bulan April," kata Dwikorita dalam konferensi pers virtual, Minggu (31/1).

Cuaca ekstrem ini disebabkan sejumlah faktor. Misalnya El Nino yang membuat musim kering lebih panjang dan La Nina yang membuat musim hujan lebih panjang. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto memprediksi terjadinya tingginya gelombang di sejumlah perairan di Indonesia. Prediksi tingginya gelombang perairan itu pada 31 Januari 2021 hingga 2 Februari 2021.

"Prakiraan gelombang perairan Indonesia berlaku 31 Januari sampai 2 Februari 2021, kalau kita lihat gelombang tinggi sampai ketinggian 4 meter di perairan Sabang, Mentawai hingga Papua," ujar Guswanto, dalam konferensi pers virtual, Minggu (31/1).

Guswanto juga mengatakan institusinya memprediksi terjadi gelombang setinggi 4 meter hingga 6 meter di selatan laut Jawa hingga Sumbawa.

"Nah inilah sangat berpengaruh dengan low level jet, angin dengan kecepatan lebih dari 35 knot akan bangkitkan gelombang lebih tinggi dibanding normal," ujar dia.

Awan hitam Cumulonimbus bergelayut di langit Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Selasa (22/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Rahmad

BMKG Beri Peringatan Bagi Penerbangan: Awan Cumulonimbus di Sumatera

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengeluarkan peringatan cuaca ke aktivitas penerbangan. BMKG memperkirakan akan ada awan Cumulonimbus di beberapa daerah.

“Ini untuk penerbangan, BMKG telah memberikan informasi, ini produk layanan peringatan, prakiraan,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto saat jumpa pers secara virtual, Minggu (31/1).

“Di sini adalah prakiraan awan CB (Cumulonimbus) di udara, warna biru itu dibawa 50 warna ungu dengan ada di Aceh, Sumatera, Papua Barat,” tambahnya.