Presiden Bank Dunia: Pengelolaan Sampah Masih Jadi Masalah

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim (Foto: Cisilia Agustina Siahaan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim (Foto: Cisilia Agustina Siahaan/kumparan)

Kurang tiga bulan lagi IMF and World Bank Annual Meeting 2018 akan berlangsung di Bali. Pertemuan itu tidak hanya membicarakan permasalahan ekonomi, tapi juga akan permasalahan lingkungan.

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim menyebutkan, mengenai isu lingkungan, pengelolaan sampah masih jadi masalah global, termasuk di Indonesia. Dia menilai perlu ada forum untuk penyelesaian masalah tersebut.

"Kami di sini untuk bicara lingkungan. Bagaimana orang menghilangkan plastik dari lingkungan. Seringkali urusan lingkungan dianggap untuk segelintir kelompok saja, urusan scuba divers, surfer, padahal ini masalah yang fundamental. Kami tahu ketika plastik dibuang ke lautan, dia akan hancur dan dimakan oleh ikan ujung-ujungnya ikan itu kita konsumsi dan masuk ke tubuh kita," kata Presiden Kim usai pertemuan di Hutan Mangrove Bypass Ngurah Rai, Denpasar, Jumat (6/7).

Tak hanya itu, Ia juga mengundang sejumlah lembaga, komunitas dan NGO yang bergerak di bidang lingkungan dalam pertemuan tersebut. Tampak hadir BKSDA Bali, Bye Bye Plastic Bag, termasuk produk Avani Eco dan yang lainnya. Dalam kesempatan itu, Avani Eco menunjukkan kantung plastik produksi mereka yang terbuat dari singkong.

"Di sini saya ingin menunjukkan plastik terbuat dari singkong, hal-hal seperti ini yang kita butuhkan. Penanganan ini, seperti yang disampaikan oleh Pak Luhut, butuh tim terpadu," kata Kevin Kumala dari Avani Eco.

Rombongan Menko Maritim, Luhut Binsar Panjaitan (tengah) bersama Presiden Bank Dunia (World Bank) Jim Yong Kim di kawasan wisata Mangrove di Denpasar. (Foto: ANTARA FOTO/Wira Suryantala)
zoom-in-whitePerbesar
Rombongan Menko Maritim, Luhut Binsar Panjaitan (tengah) bersama Presiden Bank Dunia (World Bank) Jim Yong Kim di kawasan wisata Mangrove di Denpasar. (Foto: ANTARA FOTO/Wira Suryantala)

Kevin menyampaikan, plastik berbahan dasar singkong buatannya sudah diekspor ke 26 negara. Namun, di Indonesia sendiri pasarnya masih kecil. Menurutnya perbandingan ekspor dan penjualan dalam negeri 70:30.

"Yang paling mengagetkan adalah ekspor ini terbanyak di Afrika, Madagaskar, Malaysia. Indonesia sendiri, sayangnya masih belum sebesar negara lain. Paling 30 persen, 70 persen saya ekspor," ujar Kevin

Pada tahun 2018 ini Ia menargetkan dapat mengganti sampah plastik sebanyak 3.000 ton atau 3 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dengan menggunakan plastik singkong produksinya. Dengan adanya event ini juga Ia berterima kasih World Bank mau menjadi jembatan untuknya bertemu dengan berbagai stakeholder lain.

"Kami di tahun 2017 me-replace sampah plastik sebesar 1.000 ton. Di 2018 target kami 3.000 ton. World Bank sendiri mengajak kolaborasi memperkenalkan ke negara-negara lain. Seperti menjembatani, dan ini sebuah kehormatan untuk saya," kata Kevin.

Menko Maritim, Luhut Binsar Panjaitan (kiri) berjalan bersama Presiden Bank Dunia (World Bank) Jim Yong Kim, saat kunjungan kerja di kawasan wisata Mangrove di Denpasar. (Foto: ANTARA FOTO/Wira Suryantala)
zoom-in-whitePerbesar
Menko Maritim, Luhut Binsar Panjaitan (kiri) berjalan bersama Presiden Bank Dunia (World Bank) Jim Yong Kim, saat kunjungan kerja di kawasan wisata Mangrove di Denpasar. (Foto: ANTARA FOTO/Wira Suryantala)

Bank Dunia Dukung One Map

Sementara itu Bank Dunia sendiri berkomitmen mendukung Indonesia dalam pengelolaan sampah. Hal tersebut disampaikan oleh Rodrigo Chaves, Country Director of World Bank Indonesia yang menyampaikan ada dana hibah untuk permasalahan lingkungan di Indonesia, termasuk untuk sektor kehutanan.

"Ada beberapa hal yang didukung Bank Dunia terkait masalah lingkungan di Indonesia, baik sampah plastik maupun sampah padat. Bank Dunia juga punya dana hibah untuk kehutanan, penanganan kebakaran hutan, dan perubahan iklim," katanya.

Namun, menurut Rodrigo, paling transformatif adalah Bank Dunia mendukung kebijakan One Map yang bisa digunakan pemerintah Indonesia untuk memetakan wilayah hutannya.

"Agar Indonesia punya satu peta untuk keseluruhan lahan hutannya yang bisa digunakan untuk pemerintah. Ini penting tak hanya untuk Indonesia tapi juga untuk dunia karena Indonesia salah satu penghasil emisi partikel dan polutan terbesar di dunia," kata Rodrigo.