Presiden Filipina Bongbong Marcos Janji Tak Akan Salahkan Warga Ikut Demo Besar
·waktu baca 2 menit

Presiden Filipina Ferdinand ‘Bongbong’ Marcos Jr tak akan menyalahkan warga yang ikut demo besar. Rencananya warga Filipina akan menggelar demo selama sepekan mulai Senin (15/9) ini.
Demo itu dipicu dugaan korupsi yang terjadi pada proyek penanganan banjir di Filipina. Sejak beberapa pekan demo sebenarnya sudah terjadi. Yang paling besar diikuti 3 ribu orang dari berbagai kampus di Manila.
Sedangkan demo-demo lain skalanya lebih kecil. Diprediksi demo pekan ini akan menarik massa dalam jumlah besar.
Kini, militer Filipina menetapkan status siaga merah jelang demo. Status itu berlaku sebagai tindakan pencegahan.
Saat memberikan keterangan pada Senin ini, Bongbong tidak menyalahkan demo. Dia menyebut kemarahan publik atas dugaan skandal korupsi dapat dibenarkan.
“Untuk menunjukkan bahwa Anda marah, untuk menunjukkan bahwa Anda naik pitam, untuk menunjukkan bahwa Anda kecewa, untuk menunjukkan bahwa Anda menginginkan keadilan, apa yang salah dengan itu?" kata Marcos dalam sebuah jumpa pers seperti dikutip dari Reuters.
"Saya tidak menyalahkan mereka. Sama sekali tidak,” sambung dia.
Sepupu Bongbong Diduga Korupsi
Bongbong lalu menekankan, sekutu maupun mitranya tak akan luput dari pemeriksaan korupsi. Sepupu Bongbong yang sekarang menjabat Ketua DPR Filipina Martin Romualdez diduga terlibat skandal korupsi penanganan banjir.
Romualdez sendiri sudah membantah keterlibatannya dalam kasus korupsi. Selain Romualdez, 30 anggota DPR dan Dinas Pekerjaan Umum Filipina diduga terlibat kasus itu.
Adapun pada Senin ini Bongbong menunjuk eks Hakim MA Filipina Andre Reyes memimpin komisi penyelidikan proyek pengendalian banjir, yang berjalan selama 10 tahun.
Kerap Lolos Penjara Berat
Adapun Filipina punya sejarah panjang skandal penyelewengan dana publik. Terduga pelaku kerap lolos hukuman penjara berat.
Bongbong, kendati namanya tak terkait korupsi, juga disorot dalam demo. Sebab, Filipina pernah memberlakukan darurat militer ketika demo besar menghantam pada 1972.
Saat itu perintah darurat militer diberlakukan Ferdinand Marcos Sr yang adalah ayah Bongbong.
Sekilas Kasus Korupsi Penanganan Banjir
Filipina yang rawan bencana banjir, mengalokasikan ratusan miliar peso untuk proyek pengendalian banjir, namun bencana terus terjadi dengan kerusakan parah.
Proyek-proyek ini banyak yang terbengkalai, tidak berfungsi, atau bahkan fiktif, sementara yang selesai pun seringkali berkualitas buruk dan tidak sesuai standar. Kondisi ini memunculkan kecurigaan kuat bahwa dana mitigasi bencana telah disalahgunakan.
