Presiden Iran: Kami Tidak Menginginkan Senjata Nuklir

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, berpidato di hadapan para hadirin setelah upacara pengambilan sumpah jabatan di parlemen di Teheran, pada 30 Juli 2024. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, berpidato di hadapan para hadirin setelah upacara pengambilan sumpah jabatan di parlemen di Teheran, pada 30 Juli 2024. Foto: AFP

Presiden Iran Masoud Pezeshkian memastikan negaranya tidak punya niat memproduksi senjata nuklir. Akan tetapi, Pezeshkian akan mempertahankan hak Iran dalam penggunaan nuklir untuk urusan damai.

Pernyataan Pezeshkian disampaikan menyusul kesepakatan gencatan senjata dengan Israel pada Selasa (24/6) kemarin. Kesepakatan itu mengakhiri perang 12 hari Israel-Iran.

Selang gencatan senjata tercapai, Pezeshkian berkomunikasi dengan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Selasa kemarin. Dalam sambungan telepon itu Pezeshkian menegaskan kembali tujuan Iran mengembangkan nuklir.

Kepemilikan nuklir Iran dipakai Israel sebagai dalih serangan yang sempat pula dibantu oleh sekutu dekatnya, Amerika Serikat (AS).

"Kami berharap Anda menjelaskan kepada mereka, dalam hubungan Anda dengan Amerika Serikat, bahwa Republik Islam Iran hanya ingin menegaskan hak-haknya yang sah," kata Pezeshkian saat menelepon Mohammed bin Zayed.

“Kami tidak pernah berusaha memperoleh senjata nuklir dan tidak menginginkannya," kata dia.

Pezeshkian lalu menambahkan bahwa Iran siap merundingkan setiap masalah di meja perundingan.

Adapun serangan Israel ke Iran sejak 13 Juni 2025 menewaskan sejumlah pejabat tinggi militer serta ilmuwan nuklir ternama Iran. Sejumlah serangan turut merusak fasilitas nuklir Iran.

Citra satelit menunjukkan fasilitas Piranshahr di Iran dalam gambar selebaran tertanggal 22 Mei 2025. Foto: Maxar Technologies/Handout via REUTERS

Kemudian serangan AS yang dilakukan akhir pekan lalu mengincar fasilitas nuklir di Fordo, Isfahan dan Natanz. Presiden AS Donald Trump menyebut serangan merusak total program nuklir Iran yang mereka tuduh sedang membuat senjata.

Namun, laporan Trump dibantah Badan Intelijen AS. Mereka melaporkan serangan itu hanya memperlambat pengelolaan dan pengayaan nuklir Iran.

Laporan itu memastikan bahwa Iran tidak punya atau mengembangkan senjata nuklir. Program itu sudah dihentikan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada awal 2000-an lalu.