Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.7
25 Ramadhan 1446 HSelasa, 25 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
"Saya ingin tidak ada darah yang tumpah untuk membuat saya tetap berkuasa," ujar Keita dalam pidato singkat yang disiarkan di televisi pemerintah seperti dilansir Reuters pada Selasa (18/8) waktu setempat.
Keita yang terlihat lelah dan mengenakan masker bedah, menyatakan tak punya pilihan lagi setelah ditahan bersama Perdana Menteri Boubou Cisse dan pejabat tinggi lainnya.
"Jika hari ini elemen tertentu dari angkatan bersenjata kita ingin ini diakhiri melalui intervensi mereka, apakah saya benar-benar punya pilihan?" ucapnya dari pangkalan militer di Kati di luar ibu kota Bamako tempat dia ditahan.
Belum jelas siapa yang memimpin pemberontakan, siapa yang akan memerintah pasca-Keita mundur dan apa yang diinginkan para pemberontak.
Adapun dalam beberapa gambar yang diposting di media sosial, nampak Keita dan Cisse dikelilingi tentara bersenjata. Namun Reuters belum memverifikasi kebenaran gambar tersebut.
ADVERTISEMENT
Sejak Juni, puluhan ribu orang di Bamako sudah turun ke jalan untuk menuntut Keita mundur. Mereka menuding pemerintahan Keita korupsi dan memperburuk keamanan di Mali.
Pemberontakan di Mali bukan kali ini saja terjadi. Terakhir pada 2012, kudeta militer menggulingkan Amadou Toumani Toure dari kursi Presiden Mali.