Presiden Palestina Picu Kecaman Jerman Akibat Sebut Israel Lakukan 50 Holocaust

18 Agustus 2022 1:27 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Presiden Palestina Mahmoud Abbas saat pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (11/2). Foto: REUTERS / Shannon Stapleton
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Palestina Mahmoud Abbas saat pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (11/2). Foto: REUTERS / Shannon Stapleton
ADVERTISEMENT
Kanselir Jerman, Olaf Scholz, mengutuk pernyataan Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, yang menyamakan pembantaian Israel terhadap warganya dengan Holocaust pada Rabu (17/8).
ADVERTISEMENT
Scholz sempat memberikan bantahan ketika Abbas menyinggung Holocaust. Menurutnya, istilah tersebut tidak digunakan dengan benar oleh Abbas.
Kendati demikian, Scholz tidak sungguh menantang pendapat Abbas. Menyusul kritik dari berbagai sisi, Scholz baru menyuarakan 'rasa jijik' terhadap komentar itu. Scholz menggarisbawahi, Abbas meremehkan pentingnya peristiwa genosida tersebut.
"Saya mengutuk setiap upaya untuk menyangkal kejahatan Holocaust," cuit Scholz, dikutip dari AFP, Kamis (18/8).
Kantor Scholz kemudian memanggil misi diplomatik Palestina di Berlin. Pihaknya menekankan, Abbas telah membawa rintangan terhadap hubungan Jerman dengan Palestina.
Menteri Keuangan Jerman, Olaf Scholz Foto: REUTERS/Axel Schmidt
Abbas turut menuai kecaman dari para pemimpin Israel. Menteri Pertahanan Israel, Benny Gantz, menuduh Abbas berupaya menulis ulang sejarah.
Kecaman serupa datang pula dari Perdana Menteri Israel, Yair Lapid. Dia akan mengadakan panggilan telepon untuk membahas insiden itu dengan Scholz pada Kamis (18/8).
ADVERTISEMENT
"Mahmoud Abbas menuduh Israel telah melakukan '50 Holocaust' saat berdiri di tanah Jerman bukan hanya aib moral, tetapi juga kebohongan yang mengerikan," cuit Lapid.
"Enam juta orang Yahudi dibunuh dalam Holocaust, termasuk satu setengah juta anak-anak Yahudi. Sejarah tidak akan pernah memaafkannya," imbuh dia.
Seorang perempuan menaruh lilin di Memorial Holocaust, dalam memperingati para tahanan di Stutthof, kamp konsentrasi selama perang dunia kedua, Yantarny, Kaliningrad, Rusia (27/1/2019). Foto: REUTERS/Vitaly Nevar
Merespons arus kecaman, Abbas mengeluarkan klarifikasi pada Rabu (17/8). Dia mengaku tidak bermaksud menyangkal pembantaian selama era Nazi Jerman. Tetapi, Abbas berniat menyerukan agar dunia tidak melupakan kekerasan yang menghantui rakyat Palestina.
"Holocaust adalah kejahatan paling keji dalam sejarah manusia modern," bunyi pernyataan Abbas.
"[Komentar] Abbas tidak dimaksudkan untuk menyangkal kekhasan Holocaust yang terjadi pada abad terakhir, tetapi untuk menyoroti kejahatan dan pembantaian yang dilakukan terhadap rakyat Palestina sejak Nakba di tangan pasukan Israel," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Nakba atau 'malapetaka' merujuk pada Eksodus Palestina 1947-1949 yang mendorong pembentukan negara Israel. Ratusan ribu orang Palestina dianiaya dan diusir dari rumah mereka oleh pasukan Israel.
Warga Palestina melihat sebuah rumah yang terkena serangan udara Israel, di Kota Gaza, Sabtu (6/8/2022). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
Abbas mengacu terhadap peristiwa itu saat berdiri di samping Scholz di Berlin pada Selasa (16/8). Sebab, dia mendapatkan pertanyaan seputar penyanderaan di Olimpiade Munich 1972.
Milisi Palestina menewaskan 11 orang Israel dalam serangan itu. Menjelang peringatannya, Abbas ditanya tentang kemungkinan permintaan maaf darinya atas nama para milisi tersebut.
Sebagai tanggapan, Abbas mengalihkan perhatian terhadap situasi yang dihadapi warganya sejak lama. Dia menuduh, Israel justru bersalah atas '50 Holocaust' terhadap Palestina.
Abbas sering kali menggunakan istilah 'genosida' dan 'apartheid' untuk membahas kekerasan Israel. Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengadopsi pandangan serupa dengan Abbas, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch (HRW).
ADVERTISEMENT
Mereka menyimpulkan, perlakuan Israel terhadap Palestina sama dengan apartheid. Walau begitu, Abbas jarang membandingkannya dengan Holocaust.
"Dari tahun 1947 hingga hari ini, Israel telah melakukan 50 pembantaian di desa-desa dan kota-kota Palestina, di Deir Yassin, Tantura, Kafr Qasim dan banyak lainnya, 50 pembantaian, 50 Holocaust," tegas Abbas.
"Tuntutan kami adalah untuk mengatakan: cukup. Saya tidak menginginkan apa pun selain perdamaian," tambah pria berusia 87 tahun itu.