Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Presiden Peru Umumkan Keadaan Darurat setelah Penyanyi Populer Ditembak Mati
18 Maret 2025 12:30 WIB
·
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
Pemerintah Peru menetapkan keadaan darurat di Ibu Kota Lima dan mengerahkan tentara setelah lonjakan kekerasan yang memuncak dengan terbunuhnya penyanyi cumbia ternama, Paul Flores.
ADVERTISEMENT
Keputusan itu diumumkan Presiden Dina Boluarte pada Senin (17/3), sehari setelah insiden penembakan Flores.
Keadaan darurat berlaku selama 30 hari, membatasi kebebasan berkumpul dan bergerak. Polisi dan tentara diberi wewenang untuk menahan orang tanpa perintah pengadilan.
“Dalam perang melawan kejahatan terorganisasi, semua warga Peru harus bersatu,” tambahnya, seperti diberitakan CBS News.
Flores, vokalis grup Armonía 10, ditembak mati saat meninggalkan konser di luar Lima.
Penyerang menyergap bus yang ditumpanginya bersama anggota band lain.
Mengutip CBS News, Kementerian Kebudayaan Peru menyebutnya sebagai musisi yang “memenangkan hati ribuan warga Peru”.
Perwakilan band mengatakan mereka telah menerima ancaman dari geng kriminal yang memeras uang.
Kekerasan Meningkat
Kekerasan di Peru meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Polisi mencatat 459 pembunuhan sejak awal tahun, dengan lebih dari 1.900 laporan pemerasan hanya pada Januari.
ADVERTISEMENT
Insiden terbaru memperdalam ketidakpuasan publik terhadap pemerintah. Menteri Dalam Negeri Juan José Santiváñez menghadapi mosi tidak percaya dari parlemen, yang menilai kebijakannya gagal menekan kriminalitas.
Pada hari yang sama dengan serangan terhadap Flores, sebuah ledakan di restoran ibu kota melukai sedikitnya 11 orang.
Pemerintah sebelumnya juga sempat memberlakukan keadaan darurat antara September hingga Desember 2023, tetapi tingkat kekerasan terus meningkat.
Pemerasan telah menjadi ancaman serius di Peru, sebagian disebabkan oleh infiltrasi geng kriminal dari Venezuela seperti Tren de Aragua.
Pada Januari, seorang jurnalis yang melaporkan pemerasan tewas ditembak, sementara dua orang terluka dalam serangan bom di kantor kejaksaan.
Dalam 10 bulan pertama tahun ini, lebih dari 14.000 laporan pemerasan masuk ke polisi, meski jumlah sebenarnya diyakini lebih tinggi karena banyak korban enggan melapor.
ADVERTISEMENT