Presiden Sri Lanka Kabur saat Pengunjuk Rasa Serbu Kediamannya
ยทwaktu baca 3 menit

Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, melarikan diri dari kediaman resminya di Kolombo tak lama sebelum para demonstran menyerbu dan menduduki kompleks itu pada Sabtu (9/7/2022).
Seiring pengunjuk rasa membanjiri kediamannya, pasukan penjaga melepaskan tembakan ke udara hingga Rajapaksa berhasil meninggalkan lokasi dengan aman.
Rumah sakit di Kolombo melaporkan, 14 demonstran mendapatkan perawatan akibat terkena tabung gas air mata dalam aksi tersebut.
"Presiden dikawal ke tempat yang aman," terang pejabat pertahanan yang tidak menyebutkan namanya, dikutip dari AFP, Sabtu (9/7/2022).
"Dia masih presiden, dia dilindungi oleh unit militer," lanjutnya.
Kerumunan mengepung rumah sang pemimpin untuk menuntut pengunduran dirinya. Mereka menunjuk pemerintah yang tidak becus sebagai dalang krisis ekonomi yang sedang menggerogoti Sri Lanka.
Menggunakan media sosial, kerumunan itu menyiarkan rekaman langsung dari lokasi. Ratusan orang terlihat berjalan melalui Istana Presiden.
Rumah negara era kolonial tersebut adalah salah satu simbol kunci kekuatan negara. Melihat kepergian Rajapaksa, para pejabat lantas mempertanyakan niatnya untuk tetap memimpin negara.
"Kami sedang menunggu instruksi," ujar seorang pegawai negeri tinggi.
"Kami masih tidak tahu di mana dia, tetapi kami tahu dia bersama Angkatan Laut Sri Lanka dalam kondisi aman," sambung dia.
Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, telah mengadakan rapat kabinet untuk membahas solusi terhadap krisis politik tersebut. Bila Rajapaksa mengundurkan diri, Wickremesinghe akan mengisi posisi presiden.
Sri Lanka telah mengarungi kekurangan makanan dan bahan bakar, pemadaman listrik, dan inflasi yang tinggi selama berbulan-bulan.
Masyarakat berjuang bertahan hidup setelah negara itu kehabisan mata uang asing untuk mengimpor produk-produk penting.
Krisis itu telah memicu gelombang kerusuhan di seantero negeri. Ribuan orang membanjiri ibu kota untuk mengadakan demonstrasi.
Berupaya meredam protes, polisi memberlakukan jam malam. Namun, pihaknya mencabut perintah itu usai menghadapi perlawanan dari partai-partai oposisi, aktivis hak asasi manusia, dan asosiasi pengacara.
Mereka mengancam akan menuntut kepala polisi.
Sejak diberlakukan, ribuan pengunjuk rasa anti-pemerintah telah mengabaikan perintah jam malam. Mereka memaksa otoritas kereta api untuk mengoperasikan transportasi itu pula untuk menghadiri demonstrasi teranyar di Kolombo.
"Jam malam bukanlah penghalang, bahkan mendorong lebih banyak orang untuk turun ke jalan untuk memprotes," ungkap seorang pejabat pertahanan.
Sri Lanka nyaris kehabisan persediaan bensin yang kini telah menjadi komoditas langka. Tetapi, demonstran mendapatkan dukungan dari partai-partai oposisi utama.
Mereka menyewa bus pribadi untuk melakukan perjalanan ke ibu kota. Para pengunjuk rasa kemudian berkemah di luar kantor Rajapaksa.
Pihak berwenang telah mengerahkan tentara bersenjatakan senapan serbu untuk memperkuat penjagaan di lokasi.
Mereka mengaku telah menugaskan hampir 20.000 tentara dan petugas polisi.
