Presiden Zelensky: Rusia Ingin Menghapus Sejarah dan Rakyat Ukraina
·waktu baca 2 menit

Memasuki hari ketujuh invasi Rusia, situasi di Ukraina semakin mencekam. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pun menuduh Moskow hendak “menghapus” negaranya.
Dalam sebuah video yang diunggah pada Rabu (2/3), Zelensky turut meminta dukungan internasional untuk Ukraina.
Saat ini, tak sedikit wilayah Ukraina yang sudah luluh lantak akibat serangan Rusia.
“Serangan ini membuktikan bahwa bagi banyak orang di Rusia, Kiev kami benar-benar asing,” ucap Zelensky, tampak tak bercukur dan hanya menggunakan kaus berwarna khaki.
“Mereka tak tahu apa pun mengenai Kiev, mengenai sejarah kami. Namun, mereka semua diberi perintah untuk menghapus sejarah kami, menghapus negara kami, menghapus kami semua,” tuturnya, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Berbagai kota kunci di Ukraina, seperti Kharkiv, Kherson, Mariupol, dan Odessa dilaporkan berada di bawah kepungan Rusia.
Kharkiv, kota di timur Ukraina, menjadi sasaran serangan Rusia sejak Senin (28/2). Beberapa kali ledakan dan hujan roket menghantam. Akibatnya, sebanyak 21 warga sipil dikabarkan tewas.
Sedangkan pertempuran sengit disebut terjadi di Kherson dan Mariupol. Bahkan, pasukan Rusia mengeklaim berhasil merebut kendali Kherson, kota yang berlokasi dekat Semenanjung Krimea.
Serangan juga kerap terdengar di Ibu Kota Kiev, meskipun Pemerintah Ukraina menegaskan ibu kota masih tetap berada di bawah kendali mereka.
Selain meminta dukungan internasional, Zelensky kembali menegaskan harapannya agar Ukraina dapat bergabung dengan Uni Eropa.
“Ini bukan lagi saatnya untuk netral,” tegas Zelensky.
Menurut data PBB, sebanyak 136 warga sipil tewas sejak serangan Rusia pada Kamis (24/2) pagi. Namun, jumlah korban dikhawatirkan jauh lebih tinggi lagi. Sedangkan menurut Pemerintah Ukraina, per Minggu (27/2) warga sipil yang tewas mencapai 352 orang.
Kendati demikian, Kremlin menegaskan warga sipil bukanlah target. Infrastruktur militer Ukraina, menurut Moskow, adalah sasaran mereka.
Pada Rabu (2/3), Kementerian Pertahanan Rusia mengkonfirmasi serangan jarak jauh dengan senjata presisi tinggi yang menargetkan infrastruktur komunikasi Ukraina.
Menurut kantor berita Rusia TASS, fasilitas lembaga intelijen Ukraina merupakan salah satu target yang berhasil dihantam pasukan Moskow.
