Prestasi Berjenjang Jadi Kendala Siswa Masuk Jalur Prestasi di DKI

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana PPDB Hari Pertama di SMAN 2 Bandung, Jawa Barat. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana PPDB Hari Pertama di SMAN 2 Bandung, Jawa Barat. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

SMP dan SMA di Jakarta akan mulai menerima siswa baru melalui Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) melalui jalur prestasi. Namun, tak sedikit orang tua yang tidak tahu dengan syarat prestasi berjenjang.

Ambil contoh SMA 70 Jakarta dan SMA 6 Jakarta. Kedua sekolah tersebut harus sering mengingatkan orang tua bahwa prestasi yang diterima adalah prestasi berjejang.

Kepala Sekolah SMA 6 Helmi Rosana mengatakan, pihaknya sering menemukan orang tua yang bersikeras untuk memasukkan anaknya masuk di sekolah tersebut.

“Orang tua kadang tidak tahu soal berprestasi berjenjang. Kalau dijukniskan, nggak bisa kalau tidak berjenjang. Jadi prestasinya harus dari wilayah, ke provinsi, terus ke nasional,” ujar Helmi di SMA 6 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (17/6).

“Sebenarnya mungkin tahu, tapi orang tua kadang suka nyoba kalau saja masuk. Tapi kan kalau nggak berjenjang, kalau langsung loncat tetap saja nggak bisa,” tambahnya.

Karena itulah, terkadang dari 15 kuota jalur prestasi yang disediakan oleh SMA 6 tidak terpenuhi karena sedikit yang memenuhi syarat, seperti yang terjadi tahun lalu.

Dengan sistem prestasi berjenjang, harusnya prestasi berasal dari, misalnya, juara di tingkat wilayah/kota, lalu juara tingkat provinsi, lalu juara tingkat nasional. Prestasi yang berjenjang seperti itulah yang masuk dalam kategori prestasi dari syarat PPDB.

Hal serupa dialami oleh SMA 70 Jakarta. Kepala Sekolah SMA 70 Ratna Budiarti mengatakan, prestasi yang tidak berjenjang tidak bisa masuk dalam kategori prestasi.

“Ini yang harus digarisbawahi, prestasi ini biar masuk ke kategori berprestas ini harus berjenjang. Misalnya dari provinsi dulu, lalu ke nasional. Kalau nggak kaya gitu masuknya eksibisi, nggak masuk prestasi,” ujar Ratna.

Bahkan kejuaraan internasional yang tidak berjenjang, tidak bisa masuk ke dalam kategori prestasi yang dimaksud.

Ratna juga menyayangkan karena banyak potensi siswa yang juara dari lomba-lomba yang tidak berjenjang. Tapi peraturan tetap peraturan.

“Dari sananya begitu. Saya juga sayang sih, kan misalnya kejuaraan robotik, nggak berjenjang. Tapi nggak masuk ke jalur prestasi,” tandasnya.

PPDB jalur prestasi dilaksanakan di SMA se-DKI Jakarta dari tanggal 17-19 Juni. Barulah nanti dilanjutkan PPDB jalur zonasi pada tanggal 24 hingga 29 Juni.