Pro-Kontra Stafsus Jokowi: Antara Gimik dan Regenerasi

kumparanNEWSverified-green

Presiden Joko Widodo bersama staf khusus yang baru dari kalangan milenial ketika diperkenalkan di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11).  Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo bersama staf khusus yang baru dari kalangan milenial ketika diperkenalkan di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Presiden Joko Widodo menunjuk 7 milenial untuk menjadi staf khususnya. Bukan tanpa alasan, Jokowi ingin mendengar ide dan masukan dari kalangan muda dalam menjalankan pemerintahannya.

"Saya ingin ada inovasi-inovasi baru, ada gagasan-gagasan baru, ada ide baru, dan terobosan baru, sehingga memudahkan kita mengelola negara ini. Goal-nya ke sana," ucap Jokowi Istana Kepresidenan, Kamis (21/11).

Keputusan Jokowi menunjuk stafsus dari kalangan milenial tersebut menuai komentar dari sejumlah pihak. Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat misalnya.

Djarot mengatakan, kehadiran anak-anak muda di Istana tersebut diharap memberi solusi di tengah sistem birokrasi yang selama ini dianggap kaku.

"Dengan masuknya darah-darah muda seperti ini maka ini akan membikin terobosan-terobosan supaya birokrasi kita tidak kaku, dan tidak antiperubahan. Bagaimana birokrasi kita itu akan bisa menjangkau tantangan tuntutan zaman 5 tahun hingga 10 tahun ke depan," ujar Djarot saat ditemui di acara Sekolah Dewan PDIP, Depok, Jawa Barat.

Djarot mengatakan, hadirnya ide baru dari milenial tersebut bisa menjadi modal bagi Jokowi. Khususnya saat berkutat dengan birokrasi.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengikuti rapat kerja bersama Komisi II DPR di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (13/11/2019). Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Kepala staf kepresidenan Moeldoko juga mengatakan, para milenial tersebut diharap menjadi penghubung, jembatan antara Istana dengan masyarakat.

"Presiden ingin ada yang menjadi jembatan, bridging. Bridging antara Istana dengan publik, bridging antara senior dengan junior, bridging antara orang yang gagap teknologi dengan yang maju di pemikiran teknologi," kata Moeldoko.

Mantan Panglima TNI tersebut juga mengatakan, Jokowi tak ingin lingkungan Istana menjadi menara gading, dengan kata lain menjadi tempat yang tinggi tapi tak tahu apa yang menjadi realita di lapangan.

"Maka agar Istana tidak menjadi menara gading maka perlu ada penjembatan. Penjembatan ini anak-anak muda di mana sekarang milenial ini jumlahnya sangat banyak, pemikirannya advance, kita kadang-kadang kaget dengan pemikiran itu," jelas Moeldoko.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Gerindra Hendarsam Marantoko mengatakan, hadirnya kalangan milenial di lingkaran Istana diharap bisa mengakomodir pemikiran anak muda dalam urusan politik hingga pemerintahan. Mematahkan anggapan selama ini anak muda cenderung alergi membahas isu politik.

"Kaum muda selama ini sangat alergi politik, alergi sekali. Dengan ini (7 staf khusus milenial Jokowi) akan mulai masa transisinya akan mulai meningkat animo dari masyarakat, dari kaum-kaum muda terhadap politik," kata Hendarsam dalam diskusi 'Efek Milenial di Lingkaran Istana' di Hotel Ibis, Jakarta Pusat, Sabtu (23/11).

Presiden Joko Widodo bersama staf khusus yang baru dari kalangan milenial ketika diperkenalkan di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Ada yang pro, ada pula yang mengkritik. PKS misalnya, Mereka menganggap stafsus tersebut tak punya peran yang jelas.

"(Adanya stafsus muda semoga) bukan hanya gimmick milenial, bukan hanya gimmick tapi policy," kata Juru bicara PKS, Muhammad Kholid dalam diskusi 'Efek Milenial di Lingkaran Istana' di Hotel Ibis, Jakarta Pusat, Sabtu (23/11).

Selain itu penunjukkan stafsus tersebut dianggap membuat lembaga pemerintahan semakin gemuk. Sebab pemerintah telah memiliki sejumlah lembaga yang punya tugas memberi masukan ke presiden.

"Lembaga kepresidenan kalau kita lihat desainnya itu sudah sangat tambun sekali. Ada Mensesneg, ada KSP dan sejumlah deputi-deputinya, ada utusan khusus, ada wantimpres dan sekarang ditambah lagi 14 stafsus," kata dia.

Fadli Zon saat menghadiri peluncuran buku di pressroom DPR, Jakarta, Jumat (27/9/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Waketum Gerindra Fadli Zon juga melontarkan kritik. Menurutnya, upaya Jokowi menunjuk stafsus dari kalangan muda dianggap formalitas untuk menunjukkan pemerintah melibatkan anak muda.

"Cuma lipstik saja, pajangan saja lah itu," kata Fadli.

Penunjukkan stafsus kata dia, seharusnya didasarkan pada kapasitas, kapabilitas, dan kualitas, bukan berdasarkan kepentingan kelompok atau usia.

"Kita mau melihat kinerja orang pada kapasitas, kapabilitas, tidak melihat umur, harusnya. Best of the best," kata Fadli.

"Cari orang yang punya kapasitas, kapabilitas, integritas dan tepat. Atau right man atau right woman in the right place," lanjutnya.

Pernyataan Fadli itu cukup berbeda dengan sikap beberapa kader Gerindra lain seperti Waketum Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad. Ia menganggap pemilihan stafsus dari kalangan milenial sudah sesuai dengan kebutuhan Jokowi untuk menjalani masa pemerintahannya periode kedua.

Politisi Gerindra, Sufmi Dasco. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Berikut 7 stafsus dari generasi milenial yang diumumkan Jokowi pada Kamis (21/11):

1. Adamas Belva Syah Devara, 29 tahun, pendiri Ruangguru

2. Putri Indahsari Tanjung, 23 tahun, CEO dan Founder CreativePreneur

3. Andi Taufan Garuda Putra, 32 tahun, CEO PT Amartha Mikro Fintek

4. Ayu Kartika Dewi, 36 tahun, perumus Gerakan Sabang Merauke

5. Gracia Billy Mambrasar, 31 tahun, putra asli Papua dan CEO Kitong Bisa

6. Angkie Yudistia, 32 tahun, penyandang disabilitas yang aktif di bidang sociopreneur. Akan menjadi juru bicara Jokowi di bidang sosial

7. Aminudin Maruf, 33 tahun. Aminudin akan ditugaskan Jokowi untuk berkeliling pesantren sehingga dapat melahirkan talenta-talenta baru dan hebat.