Prof Abdul Mu'ti Terbitkan Buku 'Guyon Maton; Lucu Bermutu ala Muhammadiyin'

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Buku 'Guyon Maton' karya Prof. Abdul Mu'ti. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Buku 'Guyon Maton' karya Prof. Abdul Mu'ti. Foto: Dok. Istimewa

"Kalau mencari mubalig berilmu jumlahnya segudang. Mubalig lucu sangat jarang. Mubalig lucu di Muhammadiyah itu terbatas, limited edition," tulis Abdul Mu'ti dalam pengantar buku 'Guyon Maton; Lucu Bermutu ala Muhammadiyin, dikutip Jumat (2/9).

Buku yang ditulis Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu berisi 54 humor yang pernah dia sampaikan di berbagai kesempatan ceramah sebagai mubalig, maupun di postingan media sosial. 54 tahun merujuk pada usia Abdul Mu'ti sekarang.

Guru Besar Bidang Pendidikan Agama Islam UIN Jakarta itu memang termasuk tokoh Muhammadiyah yang dikenal kerap menyelipkan humor baik dalam sambutan maupun pengajian. Maton yang menjadi judul buku bisa diartikan sebagai kepatutan atau sesuai ukuran.

"'Guyon maton' bukan 'guyon waton', asal lucu, atau 'guyon saru': lucu jorok,"

- Abdul Mu'ti.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof Abdul Mu'ti. Foto: Dok. Istimewa

Melucu bagi warga Muhammadiyah, kata Abdul Mu'ti, adalah tabu. Sama halnya seperti merokok dan poligami. Padahal, melucu sangat digemari masyarakat. Mubalig lucu, dia sebut, menjadi legenda dan idola di masyarakat.

Mu'ti menyebut tokoh Muhammadiyah yang dikenal senang melucu adalah KH Abdur Rozak (AR) Fachrudin yang merupakan Ketum PP Muhammadiyah terlama selama 22 tahun (1968-1990).

Menurut Mu'ti, Pak AR begitu lekat di hati warga Muhammadiyah, umat dan masyarakat karena keulamaan, kesederhanaan, dan yang khas kelucuannya. Mu'ti mengatakan ceramah-ceramah Pak AR mencerahkan dan menyenangkan.

Karena itu, mantan Ketua Badan Standar Pendidikan (BSNP) itu menulis buku untuk merekam jejak kelucuan yang selama ini dia posting di medsos atau disampaikan dalam berbagai ceramah, sehingga menampilkan sisi lain Muhammadiyah.

Buku disusun atas permintaan pengikutnya di Instagram, Twitter, maupun Facebook. Semula ragu karena cerita-cerita itu dia anggap biasa saja, tapi akhirnya Mu'ti diyakinkan untuk menulis cerita-cerita itu.

"Melucu itu manusiawi. Lucu adalah salah satu ciri manusia. Meluculah agar tetap menjadi manusia dan tidak kehilangan sifat kemanusiaan. Melucu adalah cara berkomunikasi yang mudah, murah, dan meriah," kata Abdul Mu'ti.

"Seringlah melucu agar hari bungah dan wajah semringah. Melucu adalah cara mudah membangun persahabatan," imbuhnya.