Prof Tjandra Usul 5 Hal Ini Digalakkan Guna Tangani Tuberkulosis

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota IAVG COVAX dan Guru Besar FKUI, Prof Tjandra Yoga Aditama. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Anggota IAVG COVAX dan Guru Besar FKUI, Prof Tjandra Yoga Aditama. Foto: Dok. Pribadi

Fokus dunia saat ini tertuju ke pandemi COVID-19. Tanpa disadari pemerintah dunia yang semula terfokus menangani kasus kesehatan lainnya seperti Tuberkulosis mulai berkurang.

Padahal penyakit menular seperti Tuberkulosis harusnya tetap menjadi perhatian pemerintah agar tidak kembali muncul peningkatan kasus berbarengan dengan pertumbuhan angka COVID-19.

Untuk itu, mantan Direktur World Health Organization (WHO) Asia Tenggara sekaligus ahli di bidang paru atau pulmonologis, Prof. Tjandra Yoga Aditama mengusulkan 5 poin penting untuk diterapkan pemerintah dalam mengatasi kasus Tuberkulosis.

“Harus di tentukan penanganan untuk menanggulangi TB dan Covid bersama-sama, kita selama ini selalu mengatakan akan recover terhadap COVID-19, tapi kita juga harus perkuat penanggulangan TB,” kata Tjandra saat mengisi webinar Tuberkulosis di Indonesia Masa Pandemi COVID 19 dan Pasca Pandemi COVID 19 yang diselenggarakan secara virtual oleh FNM Society Minggu (14/11).

Sebagaimana dikutip dari keterangan Tjandra, 5 poin tersebut adalah;

  1. Penanganan Tuberkulosis menjadi kegiatan lintas program atau sektor, dengan program dan dukungan sumber daya manusia

  2. Implementasi nyata dari penanggulangan Tuberkulosis di lapangan dengan membuat rencana kerja, monitoring, dan juga evaluasi

  3. Penanganan Tuberkulosis juga meliputi masalah kesehatan terkait HIV, rokok, gizi, dan lain-lain.

  4. Penanganan dengan berorientasi ke pasien dan keluarganya

  5. Penanggulangan Tuberkulosis menjadi target dunia (SGD), target nasional (eliminasi 2030), dan target daerah baik di ranah Pemprov dan Pemkot.

Perlu diketahui saat ini temuan kasus Tuberkulosis si Indonesia menurut data dari Kementerian Kesehatan terus naik dari waktu ke waktu. Namun semenjak fokus pemerintah terbagi karena harus menangani pandemi COVID-19, temuan kasus Tuberkulosis cenderung menurun.

“Begitu tahun 2020, turun dia (data notifikasi kasus Tuberkulosis), jadi makin jauh dari target yang harus dicapai, begitu juga dengan cakupan pengobatannya, terus naik tapi di tahun 2020 turun lagi, makin jauh dari target yang harusnya dicapai,” terang Tjandra.

Sebelumnya, mantan Menteri Kesehatan Indonesia, Nila Moeloek sekaligus founder FNM Society mengatakan bahwa saat ini Di Indonesia, dari 271 juta jiwa penduduk, dilaporkan ada sekitar 845 ribu kasus Tuberkulosis dengan rata-rata 96 ribu kasus kematian

Menurut Tjandra, sebenarnya penanggulangan COVID-19 dengan Tuberkulosis tidak jauh berbeda karena memang bentuk penyebaran yang kurang lebih sama yaitu lewat udara dan kotak dengan penderita.

“Memang penggunaan surgical mask itu bisa digunakan untuk mengurangi transmission Tuberkulosis sampai 56 persen, nanti setelah Covid ini selesai, penggunaan masker ini diteruskan, secara ilmiah ada dampaknya dengan pengurangan TB,” pungkas Tjandra

Ke depannya Tjandra berharap saat kasus COVID-19 sudah semakin membaik, pemerintah bisa kembali fokus menangani kasus Tuberkulosis.