Profil 4 Ulama Anggota Wantimpres Prabowo: Quraish Shihab-Said Aqil

Presiden Prabowo Subianto melantik sejumlah tokoh sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (watimpres) di Istana Presiden, Jumat (2/10).
Di antaranya terdapat empat tokoh yang memiliki latar belakang kuat di dunia ulama dan organisasi kemasyarakatan Islam, yakni Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, K.H. Anwar Iskandar, K.H. Said Aqil Siradj, dan K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Keempatnya memiliki kiprah panjang di bidang pendidikan Islam, pesantren, organisasi keagamaan hingga pemerintahan. Berikut Profil singkat mereka berempat:
1. Muhammad Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, 16 Februari 1944. Ia tumbuh di lingkungan keluarga akademisi Islam. Ayahnya, Prof. Abdurrahman Shihab, merupakan Guru Besar Tafsir Al-Qur’an di IAIN Alauddin Makassar sekaligus pendiri Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Quraish Shihab menempuh pendidikan di Pesantren Ma’had Dar Al-Hadist Al Faqihiyah, Malang, sebelum melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Ia meraih gelar sarjana muda pada 1967, magister pada 1969, dan doktor bidang tafsir pada 1982 dengan predikat summa cum laude.
Sepulang dari Mesir, Quraish Shihab aktif sebagai akademisi dan pernah menjadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama dua periode. Ia juga pernah dipercaya menjadi Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII pada 1998.
Setahun kemudian, Quraish Shihab ditunjuk sebagai Duta Besar RI untuk Mesir, merangkap Djibouti dan Somalia, pada periode 1999-2002.
Di bidang keagamaan, ia aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lajnah Pentashih Al-Qur’an Departemen Agama, serta Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional.
Quraish Shihab juga mendirikan Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) pada 2004. Lembaga tersebut bergerak dalam kajian Al-Qur’an, kaderisasi mufasir, literasi Al-Qur’an, serta dialog keagamaan dan keindonesiaan.
Ia juga dikenal melalui kiprahnya di tingkat internasional. Quraish Shihab tercatat sebagai anggota Muslim Council of Elders yang berbasis di Abu Dhabi dan terlibat dalam berbagai forum terkait moderasi beragama, perdamaian, serta hubungan antarmazhab.
2. K.H. Yahya Cholil Staquf
K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, 15 Februari 1966. Ia merupakan putra K.H. M. Cholil Bisri dan Nyai Hj. Muchsinah Cholil. Gus Yahya juga merupakan kakak dari Yaqut Cholil Qoumas dan keponakan K.H. Mustofa Bisri atau Gus Mus.
Gus Yahya tumbuh dalam lingkungan pesantren. Ia pernah belajar di Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, di bawah asuhan K.H. Ali Maksum. Setelah itu, ia menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada.
Sebelum aktif di kepengurusan PBNU, Gus Yahya pernah menjadi juru bicara Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Pada 31 Mei 2018, Presiden Joko Widodo melantiknya sebagai anggota Wantimpres menggantikan K.H. Hasyim Muzadi yang wafat. Pelantikan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2018.
Karier Gus Yahya di NU kemudian berlanjut hingga ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021 untuk masa khidmat 2021-2026. Pada 2024, ia juga terpilih sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia periode 2024-2029.
Dengan latar belakang pesantren, organisasi NU, akademik, dan pengalaman di pemerintahan, Gus Yahya menjadi salah satu tokoh yang memiliki pengalaman dalam urusan keagamaan sekaligus kebangsaan.
Keempat tokoh tersebut memiliki jalur kiprah yang berbeda. Quraish Shihab dikenal melalui kajian Al-Qur’an dan akademik, Anwar Iskandar melalui pesantren serta MUI dan NU, Said Aqil melalui kepemimpinan PBNU dan pendidikan Islam, sedangkan Yahya Cholil Staquf melalui NU, pesantren, diplomasi keagamaan, dan pengalaman sebagai Wantimpres.
3. K.H. Anwar Iskandar
K.H. Anwar Iskandar merupakan ulama kelahiran Berasan, Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, 24 April 1950. Ia merupakan putra K.H. Iskandar, pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Mambaul Ulum, Banyuwangi.
Pendidikan Anwar Iskandar ditempuh melalui jalur pesantren dan pendidikan formal. Setelah belajar di Mambaul Ulum, ia melanjutkan pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri. Ia kemudian menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Tribakti Kediri dan melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengambil jurusan Sastra Arab.
Anwar Iskandar dikenal aktif dalam kegiatan dakwah dan pendidikan. Ia mengelola Yayasan Pendidikan Assa’idiyah di Jamsaren dan Al-Amin di Ngasinan, Rejomulyo, Kediri.
Kiprahnya di Nahdlatul Ulama juga cukup panjang. Ia pernah menjadi Ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kediri, Rais Syuriyah NU Kediri, hingga Wakil Rais Syuriyah NU Jawa Timur.
Di tingkat nasional, Anwar Iskandar kemudian dipercaya sebagai Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022-2027. Pada 2023, ia ditetapkan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), menggantikan K.H. Miftachul Akhyar. Presiden Prabowo juga menyebut Anwar Iskandar sebagai Ketua MUI sekaligus Wakil Rais Aam PBNU dalam sejumlah agenda kenegaraan pada 2026.
Anwar Iskandar juga pernah terjun ke politik. Pada 1998, ia menjadi Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur dan pernah menjadi anggota MPR sebagai utusan daerah Jawa Timur.
4. K.H. Said Aqil Siradj
K.H. Said Aqil Siradj merupakan ulama yang memiliki perjalanan panjang di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia lahir pada 3 Juli 1953 dan pernah menjabat Ketua Umum PBNU selama dua periode, 2010-2021.
Said Aqil menempuh pendidikan di sejumlah pesantren, antara lain Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Pesantren Lirboyo, Kediri, dan Pesantren Al-Munawwir, Yogyakarta.
Pendidikan tingginya ditempuh di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah, pada Fakultas Ushuluddin. Ia kemudian melanjutkan studi di Universitas Ummul Qura, Makkah, hingga meraih gelar doktor dalam bidang Aqidah dan Filsafat Islam pada 1994.
Sebelum menjadi Ketua Umum PBNU, Said Aqil pernah menduduki sejumlah posisi dalam organisasi tersebut, mulai dari Wakil Katib Aam, Katib Aam, Rais Syuriah hingga Ketua PBNU.
Selama memimpin PBNU pada 2010-2021, ia menjadi salah satu figur utama dalam perkembangan organisasi Islam tersebut. Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua umum, Said Aqil menjadi Mustasyar PBNU periode 2022-2027.
Di luar NU, Said Aqil juga pernah menjadi anggota MPR, Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK), serta terlibat dalam sejumlah forum lintas agama.
Di bidang akademik, Said Aqil pernah menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi Islam dan hingga kini tercatat memiliki kiprah dalam pendidikan tinggi dan pesantren. Ia juga pernah menjadi Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon.
