Profil Budiman Sudjatmiko: Aktivis 98, Dukung Prabowo, Terancam Dipecat PDIP

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Politisi Budiman Sudjatmiko usai berkunjung ke Kediaman Prabowo di Rumah Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (18/7/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Politisi Budiman Sudjatmiko usai berkunjung ke Kediaman Prabowo di Rumah Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (18/7/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Aktivis 98 yang juga merupakan politikus PDIP, Budiman Sudjatmiko, menjadi sorotan karena mendeklarasikan dukungan untuk mendukung Prabowo Subianto dalam kontestasi pilpres 2024.

Sikap Budiman ini dianggap kontradiktif dengan perannya sebagai aktivis kontra kebijakan Orde Baru. Dulu Prabowo merupakan Mayor Kopassus yang bertanggung jawab terhadap kasus penculikan para aktivis.

Belum lagi statusnya saat ini yang masih jadi politikus PDIP. PDIP mengajukan Ganjar Pranowo sebagai capres.

Prabowo pun membenarkan hal itu, capres usungan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya itu sempat bercerita bahwa Budiman masuk dalam salah satu daftar buruannya.

“Dulu saya diperintah untuk ngejar-ngejar saudara Budiman. Tapi sejak dulu dalam hati saya, saya sudah merasakan bahwa anak muda ini, karena 30 tahun yang lalu masih muda,” kata Prabowo saat menggelar pertemuan dengan Budiman di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (19/8) lalu.

Lalu seperti apa sepak terjang Budiman Sudjatmiko sejak menjadi aktivis hingga menjadi pendukung Prabowo?

Pria kelahiran 10 Maret 1970 ini tumbuh besar di Cilacap, Bogor, dan Yogyakarta. Dalam website pribadinya, ia bercerita bahwa ia sudah aktif terlibat dalam diskusi politik bahkan sejak duduk di bangku SMP.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) bersama politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko (kanan) berpose sambil mengepalkan tangan usai menghadiri deklrasi Gerakan PraBu di Gedung Marina, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/8). Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar

Pengalaman itu terus ia pupuk sampai ia berkuliah di Fakultas Ekonomi UGM. Selama aktif sebagai mahasiswa ia tergabung dalam sebuah komunitas yang bergerak dalam proses pemberdayaan politik, pengembangan petani, buruh, dan perkebunan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Budiman tidak bisa menyelesaikan pendidikannya di UGM. Tidak lama setelah mendeklarasikan PRD (Partai Rakyat Demokratik), pada tahun 1996, ia dituduh mendalangi gerakan menentang Orde Baru dan divonis hukuman penjara 13 tahun.

Budiman dituduh sebagai dalang insiden penyerbuan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia. Insiden ini pun dikenal sebagai Sabtu Kelabu.

Namun di tahun 1999, Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) memutuskan untuk memberikan amnesti sehingga Budiman hanya menjalani hukuman penjara selama 3,5 tahun.

Setelah bebas, Budiman pun melanjutkan pendidikannya ke Ilmu Politik Universitas London dan Master Hubungan Internasional di Universitas Cambridge, Inggris.

Sukses Nyaleg Diantar PDI-Perjuangan

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (tengah) didampingi politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko (tengah, kanan) memberikan keterangan pers usai menghadiri deklarasi Gerakan PraBu di Gedung Marina, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/8). Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar

Setelah menamatkan pendidikannya, Budiman kembali ke Indonesia dan bergabung dengan PDIP pada 2004. Ia pun membentuk organisasi sayap partai yang bernama Relawan Perjuangan Demokrasi (Redpem) bersama 50 aktivis lainnya.

PDIP pun berhasil mengantarkannya menuju Senayan. Budiman menjadi anggota DPR RI dari PDI Perjuangan daerah pemilihan Jawa Tengah VIII. Ia bergabung dalam Komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur negara, dan agraria.

Selama menjadi anggota dewan, ia aktif menyuarakan pembentukan UU Desa hingga akhirnya Presiden SBY mengeluarkan amanet presiden (Ampres) RUU Desa pada Januari 2012.

Budiman juga cukup aktif di media sosial untuk menyuarakan pendapatnya. Ketika menjadi oposisi Prabowo dalam Pilpres 2019 lalu, ia pernah menyebut Prabowo adalah produk gagal manusia Indonesia.

Kini nasib Budiman sebagai anggota partai terancam buntut deklarasi dukungannya kepada Prabowo Subianto. Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto bahkan tegas mengultimatum Budiman.

“Partai akan mengambil suatu tindakan yang tegas. Opsinya mengundurkan diri atau menerima sanksi pemecatan,” kata Hasto dalam keterangan tertulis, Minggu (20/8).