Profil Gus Dur: Bapak Pluralisme, Resmi Bergelar Pahlawan Nasional

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ahli waris Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menghadiri penganugerahan gelar Pahlawan Nasional 2025 di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ahli waris Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menghadiri penganugerahan gelar Pahlawan Nasional 2025 di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur resmi diberikan gelar Pahlawan Nasional. Presiden Prabowo Subianto menyematkan gelar itu lewat istri Gus Dur, Sinta Nur Wahid, di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11).

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur juga berbarengan dengan 9 tokoh lainnya.

Presiden Prabowo Subianto memberikan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional 2025 kepada ahli waris Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Istana Negara, Jakarta Pusat,Senin (10/11/2025). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden

Seperti apa profil Gus Dur?

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan "darah biru".

Ayahnya, KH. Wahid Hasyim adalah putra KH. Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU), sekaligus sebagai pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Ibunda Gus Dur adalah Nyai Sholehah adalah puteri pendiri Pesantren Denanyar Jombang.

Salah satu turning point pemikiran Gus Dur adalah ketika tahun 1959 ia pindah ke Pesantren Tambak Beras Jombang. Kesibukannya mengajar dan jadi jurnalis di majalah Horizon dan Majalah Budaya Jaya.

Pada tahun 1964, ia melanjutkan studinya ke Al-Azhar University Kairo Mesir dengan mengambil jurusan Departement of Higher Islamic and Arabic Studies.

Selama tiga tahun di Mesir, ia lebih banyak meluangkan waktunya untuk mengunjungi berbagai perpustakaan yang ada di Mesir.

Namun, pada akhirnya Gus Dur memutuskan untuk menghentikan studi di tengah jalan. Salah satunya karena, menurut dia, situasi Kairo sudah tak kondusif. Lalu, ia pindah ke Universitas Baghdad, Irak, untuk meneruskan kuliahnya dan berkuliah di Fakultas Sastra.

Setelahnya, Gus Dur ke Eropa untuk belajar hal baru. Namun, di sana ia lebih aktif berorganisasi hingga akhirnya mendirikan perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia.

Sepulangnya dari luar negeri, Gus Dur sibuk dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan lan Penerangan Ekonomi lan Sosial (LP3ES) organisasi yang terdiri para kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berbicara dengan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab setelah tiba di gedung parlemen di Jakarta, pada 27 April 2000. Foto: OKA BUDHI / AFP

LP3ES mendirikan majalah yang disebut Prisma. Dan Gus Dur jadi salah satu kontributor utama majalah tersebut.

Pada tahun 1979 Gus Dur mulai banyak terlibat dalam kepemimpinan NU, yaitu di Syuriah PBNU. Namun kegiatan di dunia pesantren tidak ditinggalkan. Gus Dur tetap mengasuh pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan.

Pada tahun 1982-1985 Gus Dur masuk sebagai Ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), bergaul akrab dengan para pendeta bahkan sampai pada aktivitas semacam pelatihan bulanan kependetaan protestan, menjadi ketua dewan juri Festival Film Nasional di tahun 70-an dan 80-an.

Karier politik Gus Dur dimulai pada tahun 1982. Pada Pemilihan Legislatif di tahun tersebut, Gus Dur berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). PPP adalah gabungan 4 partai Islam, termasuk Nahdlatul Ulama.

Karier politik Gus Dur mencapai puncaknya ketika ia terpilih sebagai Presiden ke-4 RI pada tahun 1999, melalui Sidang MPR pasca-reformasi.

Sebagai Presiden, Gus Dur dikenal sangat pluralis, demokratis, dan berani mengambil langkah berbeda.

Ia dikenal selalu membuka ruang kebebasan pers, memberi pengakuan terhadap kelompok minoritas, dan mendorong dialog lintas agama.

Gus Dur juga dikenal dengan slogan 'Gitu Aja Kok Repot' karena pemikirannya yang santai dan sangat terbuka terhadap perbedaan.

Salah satu buktinya adalah Gus Dur adalah Presiden pertama yang mengakui agama Konghucu pada tahun 2000.

Di masanya, TNI dipisahkan dari Polri untuk memperkuat reformasi militer. Namun, kepemimpinannya juga diwarnai tantangan politik, hingga akhirnya ia diberhentikan MPR pada tahun 2001.

Meski masa jabatannya singkat, warisan pemikiran Gus Dur tetap hidup hingga kini. Ia dikenang sebagai “Bapak Pluralisme Indonesia”, sosok yang menekankan pentingnya kemanusiaan di atas sekat-sekat identitas.

Humor, keberanian, dan ketulusannya membuat Gus Dur dicintai banyak kalangan, bahkan oleh mereka yang berbeda keyakinan sekalipun.

Gus Dur meninggal dunia pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi berbagai penyakit.