Profil Ikhwanul Muslimin yang 3 Cabangnya Ditetapkan Trump Organisasi Teroris
·waktu baca 3 menit

Presiden AS Donald Trump meneken keppres yang menetapkan cabang Ikhwanul Muslimin di Mesir, Lebanon, dan Yordania sebagai organisasi teroris. Ikhwanul Muslimin merupakan salah satu gerakan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia Arab.
Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi pan-Islamis yang didirikan di Mesir pada 1928 sebagai gerakan politik Islam untuk melawan penyebaran gagasan sekuler dan nasionalis. Gerakan ini dengan cepat menyebar ke negara-negara Muslim dan menjadi pemain utama, tapi diduga sering beroperasi secara rahasia.
Dikutip dari The Guardian, Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Hassan al-Banna, seorang guru sekolah Mesir yang percaya bahwa menghidupkan kembali prinsip-prinsip Islam dalam masyarakat dapat memungkinkan dunia Muslim untuk melawan kolonialisme Barat.
Ikhwanul Muslimin awalnya berdiri sebagai gerakan keagamaan dan amal. Kelompok ini melakukan dakwah, mengajar mereka yang buta huruf, mendirikan rumah sakit, dan perusahaan bisnis. Namun, gerakan ini perlahan berubah menjadi gerakan politik.
Ikhwanul Muslimin akhirnya menyebar ke negara-negara Muslim lainnya. Di Barat, Ikhwanul Muslimin sering dikaitkan dengan Al-Qaeda, meski faktanya ideologi Ikhwanul Muslimin berbeda jauh dengan Al-Qaeda dan apa yang dilakukan oleh Al-Qaeda ditolak dengan tegas oleh Ikhwanul Muslimin.
Ikhwanul Muslimin sempat menerima penindasan dari pemerintah Mesir. Ikhwanul Muslimin sempat pula dibekukan oleh Perdana Menteri Mesir Fahmi Naqrasyi pada 1948.
Namun pada 12 Februari 1949, Hassan al-Banna tewas karena dibunuh. Setelah al-Banna tewas, pemerintah Mesir beberapa kali mencoba merangkul Ikhwanul Muslimin, salah satunya saat Muhammad Najib memimpin Mesir pada 1950-an menawarkan kerja sama dalam rencana menggulingkan kekuasaan monarki Raja Farouk pada Revolusi Juli. Namun, rencana ini ditolak oleh Ikhwanul Muslimin dan sejak itu Ikhwanul Muslimin kembali dibenci pemerintah.
Ikhwanul Muslimin akhirnya dilarang di Mesir sejak 2013, setelah Mohammed Morsi digulingkan dalam kudeta militer yang dipimpin Abdel Fattah el-Sisi. Sisi hingga kini memimpin Mesir dan menjalin kedekatan dengan AS.
Ikhwanul Muslimin juga merupakan gerakan yang populer di Yordania dan terus beroperasi di sana meski pengadilan tinggi Yordania memerintahkan agar gerakan itu dibubarkan pada 2020. Otoritas menutup mata atas aktivitas Ikhwanul Muslimin di negara itu.
Yordania pada April lalu menutup cabang lokal Ikhwanul Muslimin dan melarang keanggotaan kelompok itu. Keputusan ini diambil usai pemerintah Yordania menangkap 16 anggota Ikhwanul Muslimin yang dituduh mengancam keamanan nasional dengan melatih militan, membuat peledak, dan berencana menyerang Yordania dengan roket dan drone. Ikhwanul Muslimin membantah terlibat dalam dugaan rencana itu.
Sementara pada Mei lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan pemerintahannya untuk menyusun proposal guna melawan pengaruh Ikhwanul Muslimin dan penyebaran politik Islam di sana.
