Profil Ki Anom Suroto, Dalang Maestro yang Sudah Pentas di 5 Benua

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dalang Ki Anom Suroto. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dalang Ki Anom Suroto. Foto: kumparan

Dalang Ki Anom Suroto meninggal dunia dalam usia 77 tahun di Rumah Sakit Dr Oen Kandang Sapi, Solo, Kamis (23/10) pukul 07.00 WIB karena sakit jantung.

Suasana duka menyelimuti rumah dalang Ki Anom di Solo, Jawa Tengah. Pelayat berdatangan menyampaikan ucapan bela sungkawa.

Ki Anom merupakan dalang maestro yang lahir pada 11 Agustus 1948 di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah.

Pemilik nama lengkap Ki KRT H Lebdo Nagoro Anom Suroto itu sudah menjadi dalang sejak usia dini. Ki Anom Suroto mendalami ilmu pedalangan sejak umur 12 tahun dari ayahnya, Ki Sadiyon Harjadarsana.

Kemudian secara langsung dan tak langsung, Ki Anom Suroto juga banyak belajar dari Ki Nartosabdo dan beberapa dalang senior lainnya.

Dalang maestro itu juga pernah belajar di kursus pedalangan yang diselenggarakan Himpunan Budaya Surakarta (HBS). Dia juga belajar secara tidak langsung dari Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN), Pawiyatan Kraton Surakarta. Bahkan, dia pernah belajar di Habiranda, Yogyakarta.

Ilustrasi wayang kulit. Foto: fadiprasada/Shutterstock

Tak hanya di Tanah Air, Ki Anom Suroto juga mendalang hingga ke lima benua seperti di Afrika, Amerika Serikat pada tahun 1991 dalam rangka pameran KIAS (Kebudayaan Indonesia di AS). Pernah juga mendalang di Jepang, Spanyol, Jerman Barat, Australia. Pada awal 2018, Ki Anom Suroto juga mendalang di Rusia.

Pada 1995, dia memperoleh Satyalencana Kebudayaan RI dari Presiden Soeharto. Tahun 1993, dalam Angket Wayang yang diselenggarakan dalam rangka Pekan Wayang Indonesia VI-1993, Anom Suroto terpilih sebagai dalang kesayangan.

Ki Anom Suroto juga aktif di organisasi pedalangan, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) dan pernah menjabat sebagai Ketua III Pengurus Pusat Pepadi untuk periode 1996 – 2001.

Anom Suroto yang pernah mendapat anugerah nama Lebdocarito dari Keraton Surakarta, pada 1997 diangkat sebagai Bupati Sepuh dengan nama baru Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Lebdonagoro.

Selain aktif mendalang, ia juga giat membina pedalangan dengan membimbing dalang-dalang muda dari seluruh wilayah Indonesia.

Secara berkala, ia mengadakan forum kritik pedalangan dalam bentuk sarasehan dan pentas pedalangan di rumahnya di Surakarta. Acara itu diadakan setiap hari Rabu Legi, sesuai dengan hari kelahirannya, sehingga akhirnya dinamakan Rebo Legen.