Profil Komjen Wahyu Hadiningrat, Wakapolri Pengganti Dedi Prasetyo

Presiden Prabowo Subianto melantik Komjen Pol Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri menggantikan Komjen Pol Dedi Prasetyo, Kamis (1/10).
Wahyu merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1992. Sepanjang kariernya di kepolisian, Pria kelahiran 4 Juni 1970 itu malang melintang di bidang reserse.
Karier Wahyu di kepolisian dimulai pada 1993 sebagai Perwira Pertama (Pama) di Polda Jawa Barat. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Wakapolsekta Cirebon Selatan.
Pada 1995, Wahyu menjabat Kapolsek Soreang, Polres Bandung. Pengalaman di tingkat kewilayahan tersebut menjadi bagian awal dari perjalanan kariernya di bidang operasional kepolisian.
Karier Wahyu kemudian berkembang ke tingkat kewilayahan. Pada 2011, ia dipercaya menjadi Kapolres Metro Bekasi. Setahun berselang, ia menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Selatan.
Pengalaman di bidang reserse juga mengantarkan Wahyu ke posisi strategis di Polda Metro Jaya. Pada 2016, ia dipercaya menjadi Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Metro Jaya.
Sebagai Dirreskrimsus, Wahyu menangani bidang penegakan hukum yang berkaitan dengan tindak pidana khusus, termasuk perkara ekonomi, korupsi, dan kejahatan siber.
Dua tahun kemudian, pada 2018, Wahyu mendapat tugas sebagai Wakapolda Metro Jaya. Pada 2020, Wahyu dipercaya menjadi Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim) Polri.
Saat menjabat Wakabareskrim, pangkat Wahyu naik menjadi Inspektur Jenderal Polisi atau bintang dua.
Wahyu mendapat penugasan sebagai Asisten Kapolri Bidang Perencanaan dan Anggaran (Asrena) pada 2021 atau kini berubah menjadi Asisten Utama Kapolri Bidang Perencanaan dan Anggaran (Astamarena).
Perubahan jabatan tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi organisasi Polri. Pada September 2024, Wahyu dikukuhkan sebagai Astamarena dan pangkatnya naik menjadi Komisaris Jenderal Polisi atau bintang tiga.
Dalam posisi tersebut, Wahyu menangani bidang perencanaan program dan penganggaran institusi Polri. Pada Rapim Polri 2026, Wahyu tercatat sebagai salah satu pejabat utama yang memberikan materi dalam agenda internal Polri.
Sebelum masuk ke bidang perencanaan strategis, Wahyu juga memiliki pengalaman panjang di bidang reserse. Ia disebut pernah terlibat dalam penanganan perkara terorisme yang berkaitan dengan Bom Bali II pada 2005.
Dari sisi pendidikan, Wahyu juga menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespim), serta Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri (Sespimti).
