Profil Mahsa Amini, Perempuan yang Tewas di Tangan Polisi Moral Iran
·waktu baca 6 menit

Awan kelabu membayangi seluruh Iran ketika mendengar kabar kematian Mahsa Zhina Amini. Ia meninggal dunia setelah ditangkap oleh Guidance Patrol Iran atau Polisi Moral Iran pada 13 September.
Perempuan berusia 22 tahun tersebut sedang berlibur bersama keluarganya ketika mobil polisi berhenti di sampingnya dan adik laki-lakinya, Kiarash Amini. Mahsa berada dalam keadaan sehat saat itu. Selang beberapa jam kemudian, dia mengalami kematian otak.
Kronologi dari momen ketika Mahsa ditarik secara paksa untuk 'bimbingan' di kantor polisi di Vozara Avenue hingga dia dilarikan ke Rumah Sakit Kasra belum terungkap hingga kini. Saksi mata mengatakan, Mahsa mengalami pemukulan dalam kendaraan polisi.
Amarah masyarakat lantas meluap tak terbendung dalam seruan 'Matilah sang diktator!' yang menggema di seluruh Iran akibat kematian Mahsa.
Disadur dari IranWire, Mahsa adalah perempuan asal Kota Saghez, Provinsi Kurdistan. Dia lahir pada 21 September 1999. Mahsa seharusnya merayakan hari ulang tahun ke-23 pada Rabu (21/9) lalu.
Mahsa merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya, Armin Amini, meninggal dunia sebelum usia remaja. Ketika Mahsa lahir ke dunia, kedua orang tuanya merasa memiliki harapan baru, sebelum akhirnya dipadamkan oleh rezim otoriter Iran.
Adiknya, Kiarash, masih berusia 17 tahun saat dia menyaksikan sang kakak direnggut dari tangannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Saya tidak bisa kehilangan apa-apa lagi sekarang. Saya akan memberi tahu semua orang di Iran apa yang terjadi," ungkap Kiarash.
Keluarganya menggambarkan Mahsa sebagai gadis manis yang senang melancong, serta menyukai musik dan seni etnis Kurdi. Mahsa juga disebut sebagai seorang perempuan progresif yang gemar membaca.
Dia mengisi waktunya dengan menjalankan sebuah toko manteau (mantel). Sebelum meninggal dunia, Mahsa memiliki mimpi yang sederhana: untuk hidup mandiri jauh dari hiruk-pikuk.
Sayangnya, Mahsa belum sempat mewujudkan harapan tersebut sebelum tewas dengan mengerikan di tangan otoritas. Dalam cara-cara lain, Mahsa terus hidup. Citra dan ceritanya kini menggema dari media internasional, layar-layar ponsel, dan bibir orang-orang.
"Mahsa, atau Zhina kami yang tersayang, selalu tersenyum, penuh antusiasme dan energi. Mahsa kami sangat baik dan polos, dan menurut saya tidak ada salah satu pun dari kerabat, teman, dan kenalan kami yang memiliki kenangan sedih tentang dia," ujar sepupu Mahsa, Erfan Mortezaei.
Penangkapan Mahsa Amini
Tragedi yang telah memantik amarah di seluruh negara tersebut bermula ketika Mahsa sedang berjalan keluar dari Stasiun Metro Haqqani bersama Kiarash pada 13 September. Tepat pada pukul 18.30 malam, sebuah mobil patroli menghalangi jalan mereka.
Para petugas menyeret Mahsa ke dalam kendaraan polisi. Kiarash berusaha untuk mencegah penangkapan itu, tetapi diperlakukan keras oleh otoritas. Setelah berhasil melepaskan diri, Kiarash diberi tahu bahwa Mahsa akan dibawa ke stasiun untuk 'bimbingan' selama sejam.
Kenyataan yang berderai justru berbeda. Saksi menerangkan, petugas mengambil ponsel semua perempuan yang ditangkap sebelum mereka diantarkan untuk duduk dalam satu ruangan.
Seorang petugas perempuan mengarahkan mereka di ruangan itu. Sesaat kemudian, Mahsa tiba-tiba terjatuh dan kepalanya terbentur kursi. Situasi dalam ruangan tersebut seketika menjadi kacau balau. Walau sebelumnya memberikan pengarahan keras, petugas perempuan itu hanya berdiri tidak berkutik melihat Mahsa.
Dalam kepanikan, kerumunan perempuan lainnya kemudian berusaha menyelamatkan Mahsa. Mereka memercikkan air pada wajahnya dan memanggilnya, tetapi tidak mendapatkan respons. Hanya dalam beberapa menit, seorang paramedis datang untuk memeriksa Mahsa.
Para perempuan lainnya menangis ketika matanya terlihat hanya menampakkan warna putih. Merasa ngeri, mereka berteriak kepada para petugas 'Kalian pembunuh! Kalian membunuhnya!'.
Sementara itu, puluhan orang sudah berkumpul di luar pusat tersebut. Mereka adalah para kerabat yang diminta untuk membawakan baju ganti yang lebih 'pantas' bagi para perempuan yang ditangkap. Salah satunya adalah Kiarash. Setibanya di lokasi, dia mendengar teriakan.
"Kami semua menggedor pintu. Tiba-tiba para petugas bergegas keluar dari gedung dan menyerang kami dengan tongkat dan gas air mata. Seluruh tubuh saya hitam dan biru dan mata saya terbakar," terang Kiarash.
Ketika Mahsa mendapatkan CPR, seorang petugas menyuruh semua orang meninggalkan ruangan. Para perempuan lain lantas mengambil ponsel mereka. Sebelum bisa melangkahkan kaki ke luar gedung, mereka kembali dihalangi. Para petugas memeriksa ponsel mereka untuk memastikan tidak ada yang merekam insiden tersebut.
Ketika para perempuan itu berlari keluar, Kiarash menanyakan tentang keadaan kakaknya. Seorang perempuan mengonfirmasikan bahwa Mahsa juga berada dalam ruangan tersebut.
Merasa kaget dan ketakutan, Kiarash berbicara kepada seorang tentara dan diberi tahu bahwa seorang personel terluka. Namun, dia kemudian melihat Mahsa dibawa dengan tandu menuju ambulans.
"Saya berlari sampai saya mencapai Rumah Sakit Kasra," kata Kiarash.
Kiarash melihat tubuh sang kakak yang diselimuti bengkak dan memar. Fotonya menunjukkan, Mahsa terbaring dengan pendarahan. Hanya dua jam setelah penangkapan, Mahsa mengalami koma.
Keluarganya belum sempat berkata-kata sebelum dokter mengatakan bahwa Mahsa tidak dapat diselamatkan. Mahsa dilaporkan menderita serangan jantung dan stroke. Meskipun jantungnya masih berdetak, otaknya sudah tidak berfungsi. Dia meninggal pada 16 September.
Pemeriksaan Medis
Dilansir IranWire, sepuluh dokter menyatakan bahwa foto-foto korban dari rumah sakit menunjukkan tanda-tanda pukulan pada kepala. Mereka menegaskan, stroke pun tidak mungkin menyebabkan pendarahan maupun perubahan pada warna kulit.
"Gambar ini menunjukkan fraktur dasar kulit kepala," papar seorang dokter.
"Ini termanifestasi sebagai ekimosis [pengumpulan darah di bawah kulit] di sekitar kedua mata, yang disebut 'mata rakun', atau pada satu atau kedua telinga. Ini hasil dari trauma parah, seperti kecelakaan atau jatuh dari ketinggian," lanjutnya.
Pengadilan Iran menyibak hasil berbeda pada Rabu (21/9). Pihaknya mengatakan, Mahsa tidak memiliki tanda-tanda cedera maupun memar. Pengadilan itu menambahkan, dia menderita masalah kesehatan setelah menjalani operasi otak di Teheran pada 2007.
Kendati demikian, kerabatnya membantah klaim-klaim riwayat penyakit tersebut. Gambar-gambar dari rumah sakit menampakkan pendarahan yang jelas pada tubuh Mahsa. Pihak berwenang bahkan tidak memberikan bukti pemeriksaan mereka kepada keluarga Mahsa.
Keluarganya pun tidak diizinkan melihat jasadnya untuk terakhir kalinya. Iran International kemudian menerbitkan CT scan dari Rumah Sakit Kasra. Gambar itu menunjukkan retakan pada tengkorak. Sementara itu, tanda operasi otak tidak terlihat pada hasil scan.
Intimidasi
Organisasi HAM, Hengaw, melaporkan bahwa otoritas menekan keluarga agar mengubur putri mereka tanpa upacara pemakaman. Mereka juga diminta mengadakannya jauh dari ibu kota demi menghindari 'kekacauan' atau 'kerusuhan'.
Petugas berseragam terlihat memblokir akses menuju Rumah Sakit Kasra, sedangkan ersonel keamanan berjaga-jaga selama upacara peringatan di Masjid Chahar Yar Nabi di Kota Sarvabad. Polisi anti huru-hara mengubah sekolah di seberang masjid menjadi markas.
Ketika demonstrasi meletus, keluarganya kembali mengadang intimidasi. Petugas ditempatkan di luar rumah ayahnya, sehingga menghalangi kerabat dan kawan yang ingin berkunjung. Kementerian Informasi Iran mengirimkan petugas pula ke rumah keluarga Mahsa.
Mereka tidak menawarkan belasungkawa sama sekali, melainkan menyebut bahwa simpatisan dari kota itu tidak berhak berada di sana. Para petugas lalu menuntut keluarganya agar mereka menyerukan kepada masyarakat untuk menghentikan protes.
Pihak berwenang juga membujuk agar mereka tampil dalam wawancara televisi pemerintah untuk membebaskan polisi dari tanggung jawab. Keluarganya diminta untuk mengonfirmasikan klaim-klaim otoritas tentang kondisi medis Mahsa.
Mendapatkan penolakan bertubi, otoritas mengubah taktik. Pihaknya menyebarkan klaim bahwa Mahsa menjalani pelatihan di luar negeri yang diadakan kelompok separatis Kurdi. Keluarganya membantah tudingan-tudingan tersebut. Sebab, Mahsa tak pernah ke luar negeri.
Keponakannya yang berusia 17 tahun, Arkan, juga ditahan otoritas saat mengunjungi kantor media lokal untuk berbicara tentang Mahsa. Dia dibebaskan dengan jaminan USD 16.000 (Rp 240 juta).
"Tujuan dari tekanan ini adalah untuk mendapatkan pernyataan paksa dari keluarga Mahsa untuk menghentikan protes nasional," tutur Erfan.
