Profil Maruli Simanjuntak, dari KSAD kini Jadi Wakil Panglima TNI

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prabowo Subianto saat melantik Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebagai Wakil Panglima TNI di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Prabowo Subianto saat melantik Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebagai Wakil Panglima TNI di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Presiden Prabowo Subianto baru saja melantik Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menjadi Wakil Panglima TNI di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10). Sebelum dilantik, Maruli menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Pelantikan Maruli menandai pertukaran posisi dengan Jenderal Tandyo Budi Revita. Tandyo yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Panglima TNI kini mengisi posisi KSAD yang ditinggalkan Maruli.

Maruli sebelumnya menjabat sebagai KSAD sejak era Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Sebelum dipercaya memimpin TNI Angkatan Darat, Maruli pernah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Profil Maruli

Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 27 Februari 1970, ini merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1992. Sepanjang karier militernya, Maruli memiliki pengalaman di berbagai satuan TNI AD, termasuk infanteri, Komando Pasukan Khusus (Kopassus), hingga Detasemen Tempur Cakra.

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (kedua kanan) bersama KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, dan Danjen Kopassus Mayjen TNI Djon Afriandi (kedua kiri) menaiki kendaraan usai mengikuti apel peringatan HUT ke-72 Kopassus. Foto: ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

Maruli juga pernah menduduki sejumlah jabatan strategis, mulai dari Komandan Grup II Kopassus, Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Komandan Korem 074/Warastratama, Wakil Komandan Paspampres, Komandan Paspampres, Pangdam IX/Udayana, hingga Pangkostrad sebelum akhirnya dipercaya menjadi KSAD.

Salah satu jabatan yang pernah diembannya ialah Komandan Grup II Kopassus di Kandang Menjangan, Kartasura, Jawa Tengah. Saat menjabat posisi tersebut, Maruli berpangkat letnan kolonel.

Pada 2014, Maruli dipercaya menjabat sebagai Komandan Grup A Paspampres. Ia kemudian menjabat sebagai Komandan Korem 074/Warastratama Surakarta pada 2016 hingga 2017.

Ketika bertugas di Korem 074/Warastratama, Maruli pernah meraih prestasi di bidang ketahanan pangan. Ia disebut terpilih sebagai Danrem terbaik dalam bidang Upaya Khusus (Upsus) Ketahanan Pangan Tingkat Nasional pada 2017.

Karier Maruli berlanjut ketika ia ditunjuk menjadi Wakil Komandan Paspampres pada 2017 hingga 2018. Setahun kemudian, ia dipercaya menduduki jabatan Komandan Paspampres pada 2018 hingga 2020.

Pada 2020, Maruli mendapat penugasan sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana. Selanjutnya, pada 2022, ia ditunjuk sebagai Pangkostrad dengan pangkat letnan jenderal.

Jabatan tersebut menjadi salah satu posisi penting dalam perjalanan karier militernya sebelum akhirnya dipercaya menjabat sebagai KSAD pada era pemerintahan Jokowi.

Pengalaman Maruli dalam berbagai satuan dan jabatan strategis menjadi bagian dari perjalanan kariernya hingga dipercaya memimpin TNI AD. Sebelum menjadi KSAD, ia pernah menjabat sebagai Pangkostrad, Pangdam IX/Udayana, serta Komandan Paspampres.

Di luar perjalanan karier militernya, Maruli juga dikenal sebagai menantu eks Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letjen TNI Maruli Simanjuntak. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Maruli dan Kasus Cebongan

Nama Maruli juga sempat disebut dengan kasus penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 2013. Peristiwa tersebut terjadi ketika Maruli menjabat sebagai Komandan Grup II Kopassus di Kandang Menjangan dengan pangkat letnan kolonel.

Penyerbuan itu dilakukan oleh anggota Kopassus Grup II. Berdasarkan keterangan Tim Investigasi TNI AD saat itu, anggota Kopassus Grup II terlibat dalam penyerbuan dan pembunuhan terhadap empat tahanan yang menjadi tersangka pembunuhan Serda TNI Heru Santoso.

Kasus tersebut menjadi perhatian publik karena melibatkan anggota satuan elite TNI AD dan terjadi di dalam lembaga pemasyarakatan.

Saat peristiwa itu terjadi, Maruli diketahui baru satu hari menjabat sebagai Komandan Grup II Kopassus. Meski demikian, ia menyatakan siap bertanggung jawab atas perbuatan anak buahnya.

Kasus Cebongan menjadi salah satu peristiwa yang tercatat dalam perjalanan karier Maruli sebelum ia menempati sejumlah jabatan strategis lainnya di lingkungan TNI.