Profil Min Aung Hlaing, Pemimpin Baru Myanmar Otak Pembantaian Rohingya

Usai militer Myanmar melakukan kudeta dengan menangkap pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, kini sudah ada pemimpin baru yang muncul. Ia adalah Jenderal Min Aung Hlaing.
Min Aung berkuasa di Myanmar setelah menangkap Suu Kyi, Presiden Myanmar Win Myin dan beberapa pemimpin sipil lainnya.
Aksi kudeta dan penangkapan dilakukan karena militer yang tidak mau mengakui hasil pemilu yang dimenangkan oleh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).
Kudeta di Myanmar mendapat kecaman dunia. Min Aung dianggap sebagai sosok bertanggung jawab. Bukan tanpa selain Jenderal Senior, dirinya merupakan orang paling berkuasa di angkatan bersenjata.
Karier militer Min Aung Hlaing putra PNS Myanmar itu berawal saat dirinya bergabung dalam Akademi Layanan Pertahanan (DSA) tahun 1974.
Dikutip dari Reuters, Min Aung Hlaing sebelumnya sempat kuliah jurusan hukum di Universitas Yangon pada 1972-1974. Seorang teman sekelasnya mengatakan bahwa Min Aung merupakan orang yang pendiam dan tidak menonjol.
Setelah itu, Min Aung membuat mendaftar untuk bergabung dengan Akademi Layanan Pertahanan (DSA). Reuters melansir bahwa Min Aung juga merupakan seorang kadet yang biasa saja menurut keterangan seorang teman sekelasnya yang lain.
Karier militer Min Aung mulai bersinar saat pada 2002 ketika ia menjadi tokoh sentral dalam negosiasi dengan dua kelompok pemberontak, yang Tentara Negara Wa (UWSA) dan Tentara Nasional Aliansi Demokratik (NDAA).
Namanya makin meroket pada 2009. Ketika itu dia memimpin serangan terhadap pemberontak Tentara Nasional Aliansi Demokratik di Kokang.
Operasi militer itu membuat Min Aung Hlaing diberi wewenang menggantikan Jenderal Shwe Mann sebagai Kepala Gabungan Staf Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara pada Juni 2010.
Min Aung Hlaing mulai mengambil alih militer pada 2011 saat transisi menuju demokrasi dimulai. Di tahun itu dia memegang jabatan bergengsi yaitu Panglima Militer Myanmar.
Setelah berkuasa di militer para diplomat di Yangon mengatakan bahwa Min Aung Hlaing mendadak menjadi tokoh masyarakat sejak masa jabatan pertama Aung San Suu Kyi pada tahun 2016 dimulai.
Di masa pertama pemerintahan Aung San Suu Kyi, Min Aung Hlaing menyatakan bahwa jabatan Panglima Militer di Myanmar setara dengan Wakil Presiden.
Otak Pembataian Rohingya
Min Aung Hliang juga merupakan salah satu orang di balik pembantaian etnis Rohingya.
Min Aung Hlaing bahkan dikenal luas dengan salah kutipan kontroversial yang pernah terlontar dari mulutnya: "tidak ada Rohingya di negara kami."
Direktur Burma Human Rights Network, Kyaw Win, dalam percakapan dengan kumparan, Kamis (31/8/2018) bahkan menyebut sang Jenderal sangat bengis.
“Jenderal Min Aung Hlaing adalah orang yang memberi perintah untuk membunuh Rohingya. Aung San Suu Kyi mungkin ‘monster’, tapi tak ada apa-apanya dibanding dia,” kata Kyaw Win.
Perkataan Kyaw Win diperkuat dengan temuan Misi Pencari Fakta PBB di Myanmar. Laporan itu berisi pelanggaran yang dilakukan oleh balatentara Jenderal Min Aung Hlaing terhadap Rohingya.
Pelanggaran-pelanggaran itu antara lain: tentara Min Aung Hlaing memberi stempel pada bayi saat bayi itu baru lahir, membunuh bayi yang menangis karena haus ketika mereka memerkosa ibu si bayi, dan menembak anak-anak dari belakang saat bocah-bocah itu lari dari desa mereka yang terbakar.
Menurut hitungan PBB, akibat ulah Min Aung Hlaing jutaan warga Rohingya terpaksa kabur dari Myanmar. Mereka menjadi pengungsi di berbagai negara seperti Bangladesh, Malaysia, hingga Amerika Serikat.
