Profil Natalius Pigai, Putra Papua Calon Menteri Prabowo
ยทwaktu baca 3 menit

Natalius Pigai menjadi salah satu yang dipanggil Prabowo Subianto ke kediamannya di Kertanegara 4, Jakarta Selatan, Senin (14/10). Pigai dipanggil sebagai salah satu calon menteri kabinet Prabowo-Gibran 2024-2029. Pigai digadang akan menjadi Menteri Hak Asasi Manusia.
Diminta tanggapan apakah dirinya akan menjadi Menteri HAM, Pigai enggan berkomentar banyak.
"Saya tidak punya kewenangan untuk bicara itu. Saya tidak punya kewenangan menjawab," kata Pigai saat ditemui di kediaman Prabowo di Kertanegara.
Dalam kesempatan tersebut, Pigai menegaskan dirinya adalah anak buah Prabowo sekaligus seorang prajurit. Ia akan mematuhi apa pun keputusan Prabowo terkait dirinya di kabinet.
"Begini, mungkin saya dari banyak orang itu saya yang sering dipanggil. Dari udah belasan tahun yang lalu. Saya anak buahnya langsung kan, saya prajurit yang sering dipanggil," ucap Pigai.
"Dan sebagai seorang prajurit itu bagaimana memenangkan pertarungan, selain itu tak pernah memikirkan apa yang saya dapatkan, tapi dihormati dan dihargai sebagai seorang petarung yang memenangkan pertarungan," ucap dia.
Siapa Natalius Pigai?
Natalius Pigai bukanlah sosok yang asing di mata publik. Pigai merupakan tokoh kelahiran asli Paniai, Papua, pada 1975. Ia dikenal sebagai aktivis HAM. Ia bahkan pernah menjabat sebagai Komisioner di Komnas HAM.
Dikutip dari laporan tahunan Komnas HAM Tahun 2014, Pigai meraih gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan (SIP) dari Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) di Yogyakarta pada tahun 1999.
Selain pendidikan formal, ia juga mengenyam sejumlah pendidikan non formal antara lain pendidikan statistika di Universitas Indonesia (UI) tahun 2004, pendidikan Peneliti di LIPI tahun 2005, dan Pendidikan Kepemimpinan di Lembaga Administrasi Negara tahun 2010-2011.
Selama menjadi mahasiswa, Natalius cukup aktif di sejumlah lembaga seperti Senat Mahasiswa, PRD, dan lain-lain. Ia pun turut terlibat dalam kegiatan di lembaga-lembaga lain seperti:
Yayasan Sejati yang memiliki perhatian pada hak-hak masyarakat terpinggir di Papua, Dayak, Sasak dan Aceh (1999-2002);
Staf Peneliti Graha Budaya Indonesia-Jepang (GBI)(1998-2001);
Staf di Yayasan Cindelaras yang mempunyai konsentrasi mengembangkan kearifan lokal khususnya perjuangan hak-hak petani (1998); dan
Tergabung dalam elemen civil society (Rumah Perubahan, Petisi 28, Tata KTI, Alumni Kelompok Cipayung, dan lain-lain) yang cukup intensif dalam melakukan kegiatan diskusi, seminar, aksi dan seterusnya yang berorientasi pada perubahan.
Kemudian, dia juga tercatat pernah menjabat sejumlah jabatan lainnya, seperti: Ketua Lembaga Studi Renaissance 1997-2000. Melalui buletin WOOKEBADA, ia menggali budaya Noken Papua. Usaha mereka yang cukup panjang telah menghasilkan sebuah prestasi di tingkat dunia dengan diakuinya Noken sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO di Paris Tahun 2002.
Selain aktif berkiprah di sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Natalius juga sempat menjabat sebagai staf khusus menteri (Ir. Alhilal Hamdi dan Yacob Nuwa Wea) di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI untuk periode 1999-2004 dan jabatan terakhir sebagai pegawai struktural dan peneliti bidang Ketenagakerjaan dengan spesialisasi Migrasi Internal dan Internasional.
Kemudian, dia juga berkiprah di:
Membantu BRR Aceh-Nias pada Deputi Pengawasan sebagai penulis utama Ensiklopedia Tsunami Bidang Pengawasan (2008-2009).
Memberikan asistensi kepada Dirjen Otda dan Kesbangpol Kemendagri Dr. Ir. Sudarsono, H (2006-2008), dan Dirjen Otda Kemendagri Prof. Dr. Johermansyah Johan, MA (2009-2012).
Salah satu dari 11 anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (2012-2017).
