Profil Nupur Sharma, Jubir Partai Berkuasa India yang Diskors karena Hina Islam
ยทwaktu baca 4 menit

Partai berkuasa di India pimpinan PM Narendra Modi, Bharatiya Janta Party (BJP), pada Minggu (5/6/2022) menskorsing juru bicara nasionalnya, Nupur Sharma.
Hal ini merupakan dampak dari pernyataan kontroversial Sharma yang dinilai menghina Nabi Muhammad SAW dan Islam, yang telah memicu protes dari kelompok-kelompok Muslim di dunia.
"Keanggotaan utama Anda (Sharma) segera dihentikan dan Anda dikeluarkan dari partai," kata pihak bidang komunikasi di kantor Presiden BJP di kota Delhi, Adesh Gupta, dikutip dari media India, The Free Press Journal.
Presiden BJP di Kota Delhi, Adesh Gupta, dalam pernyataannya kepada Sharma mengatakan bahwa Sharma telah menyampaikan pandangan yang bertentangan dengan posisi partai dalam berbagai hal. Sharma juga dianggap secara terang-terangan melanggar konstitusinya.
"Menunggu penyelidikan lebih lanjut, Anda (Sharma) diskors dari partai dan dari tanggung jawab Anda, tugas jika ada, dengan segera," sambung mereka.
Lantas, siapakah Sharma?
Sharma lahir pada 23 April 1985 di New Delhi, India. Wanita yang kini berusia 37 tahun itu merupakan seorang sarjana fakultas ekonomi di Hindu College di Delhi.
Ia lalu melanjutkan studi S2-nya di fakultas hukum London School of Economics, Inggris. Semasa studinya di kampus, Sharma mulai tertarik di bidang politik dan aktif berorganisasi. Ia bergabung dengan serikat kemahasiswaan Akhil Bharatiya Vidyarthi Parishad (ABVP) di Delhi.
Sharma kemudian memenangi jabatan sebagai Presiden ABVP pada 2008. Seiring dengan tugasnya sebagai Presiden ABVP, Sharma memulai karier politiknya.
Peristiwa itu dimulai pada November 2008, ketika mahasisiswa di Delhi menggelar sebuah seminar fakultas bertajuk 'Komunalisme, Fasisme dan Demokrasi: Retorika dan Realitas'.
Seminar tersebut dipimpin oleh seorang Muslim yang berasal dari Kashmir, Syed Abdul Rehman (SAR) Geelani. Kala itu Geelani menjabat sebagai profesor yang mengajar bahasa Arab di kampus Sharma berada.
Sebelumnya, Geelani telah dijatuhi hukuman mati pada Desember 2002 atas dugaan serangan terhadap parlemen India di 2001. Geelani sempat dituding sebagai teroris, bahkan sebelum putusan pengadilan dikeluarkan. Namun, tiga tahun berikutnya, Pengadilan Tinggi Delhi dan Mahkamah Agung membebaskan Geelani dari semua tuduhan.
Pada seminar tersebut, Geelani menceritakan semua pengalamannya saat menjadi tahanan negara. Ia bercerita bagaimana ia dianiaya oleh pemerintah yang represif dan kerap menerima tindakan retorika komunal.
Namun saat Geelani sedang berbicara di podium, Sharma menggiring massa ABVP untuk menginterupsi dan mencela Geelani. Terkait peristiwa itu, Sharma kemudian muncul di acara televisi lokal dan memberikan tanggapan yang kontroversial.
Setelah Sharma menyelesaikan studi master hukumnya, ia menjadi pengacara dan bergabung ke BJP. Ia dikabarkan telah bekerja dengan para pemimpin BJP senior, seperti Arvind Pradhan, Arun Jaitley, dan Amit Shah.
Di usianya yang 30 tahun kala itu, Sharma maju mencalonkan diri di badan legislatif melawan Arvind Kejriwal dari Partai Aam Admi (AAP) dalam pemilihan Majelis Legislatif Delhi pada 2015. Namun, Sharma kalah dalam pemilihan itu dengan perolehan hanya 31.000 suara.
Setelah itu, Sharma dipercaya untuk menjadi juru bicara resmi untuk BJP Delhi di bawah pimpinan Manoj Tiwari. Pada 2020, ia diangkat sebagai juru bicara nasional BJP di bawah kepresidenan J. P. Nadda.
Debat 27 Mei 2022
Nama Nupur Sharma mulai mencuat di publik ketika ia berpartisipasi dalam debat yang disiarkan di saluran televisi lokal Times Now pada 27 Mei 2022 tentang perselisihan Masjid Gyanvapi. Dalam debat itu, Sharma mengutarakan sebuah pernyataan kontroversial tentang Nabi Muhammad SAW.
Diberitakan Reuters, tidak dijelaskan secara spesifik pernyataan Nupur Sharma yang disebut menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW.
Namun, sumber lainnya menyebut hinaan itu terkait dengan peristiwa Isra Mikraj, pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah RA maupun kutipan ayat Al-Quran dengan penafsiran yang keliru untuk memperkuat hinaannya.
Panelis yang ikut debat telah meminta Sharma berhenti bicara, tapi tidak digubris. Setelah debat selesai, Sharma pun banjir kecaman di medsos.
Pada Rabu (1/6/2022), kasus Sharma didaftarkan di kepolisian Kota Pune Maharashtra karena diduga telah menimbulkan sentimen agama melalui komentarnya dalam debat tersebut. Sederet laporan terhadap Sharma dari berbagai kota di India pun berdatangan, seperti dari Kota Mumbai dan Kondhwa.
Sejak insiden itu, Sharma mengatakan ia mulai menerima ancaman pemerkosaan dan pembunuhan. Dia juga menarik pernyataannya lewat statement di Twitter.
Sharma mengatakan pernyataannya adalah bentuk tanggapan atas komentar yang dibuat tentang dewa Hindu. Ia juga menekankan, tidak ada niat untuk menyakiti agama apa pun.
"Jika kata-kata saya telah menyebabkan ketidaknyamanan atau menyakiti perasaan keagamaan siapa pun, saya dengan ini menarik pernyataan saya tanpa syarat," tulis Sharma.
