Profil Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo: Usia Lebih Seabad, Santri dari Penjuru RI

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ponpes Al-Khoziny. Foto: Facebook/ Ponpes Al-Khoziny
zoom-in-whitePerbesar
Ponpes Al-Khoziny. Foto: Facebook/ Ponpes Al-Khoziny

Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, tengah berduka. Bangunan ponpes ambruk dan menimpa ratusan santri yang sedang melaksanakan salat Asar berjemaah pada Senin (29/9).

Proses evakuasi terus dilakukan hingga hari keempat, Kamis (2/10). Hingga Rabu (10/9) malam, total korban yang telah dievakuasi sebanyak 108 orang, lima di antaranya meninggal dunia dan 59 masih hilang/terjebak di reruntuhan.

Ponpes Al Khoziny menjadi salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Usianya lebih 100 tahun. Pesantren ini berdiri antara tahun 1915-1920 M.

Dikutip dari artikel di NU Online Jatim yang ditulis oleh alumnus Al-Khoziny, Moch Rofi"i Boenawi, Ponpes ini lebih dikenal sebagai Pesantren Buduran karena terletak di Desa Buduran.

Nama pesantren diambil dari nama pendirinya, yaitu KH Raden Khozin Khoiruddin dikenal juga sebagai Kiai Khozin Sepuh. Kiai Khozin merupakan menantu KH Ya’qub.

Dia juga pengasuh Pesantren Silawanpanji di periode ketiga. Sejumlah ulama besar pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Siwalanpanji. Di antaranya KH M Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang), KH Nasir (Bangkalan), KH Abd Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), KH Umar (Jember), KH Nawawi (Pendiri Pesantren Ma'had Arriyadl Ringin Agung Kediri), KH Usman Al Ishaqi (Alfitrah Kedinding, Surabaya), KH Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH Dimyati (Banten), KH Ali Mas’ud (Sidoarjo), dan KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo).

Keunggulan dan tradisi di Ponpes Al Khoziny adalah menjaga tradisi keilmuan Islam klasik (salaf), terutama kajian kitab kuning, nahwu, fikih, serta mata pelajaran agama Islam.

Ribuan santrinya datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera, kota-kota di Jawa, Kalimantan hingga wilayah timur Indonesia.

Ponpes ini memiliki pesantren untuk santri pria dan wanita. Ponpes juga memiliki sekolah tinggi, yaitu Institut Agama Islam Al Khoziny Buduran Sidoarjo untuk program sarjana dan pascasarjana.

Menteri Agama Nasaruddin Umar (baju putih) tinjau Ponpes Buduran di Sidoarjo yang ambruk Foto: Instagram @nasaruddin_umar
Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf (tengah) tinjau Ponpes Buduran di Sidoarjo yang ambruk Foto: Instagram/@yahyacholilstaquf

Sejumlah petinggi Indonesia telah menyambangi Ponpes Al Khoziny setelah musibah ambruknya bangunan, seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar, Mensos Saifullah Yusuf, hingga Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf.