kumparan
24 Jun 2018 17:38 WIB

Profil Recep Tayyip Erdogan, dari Pemain Bola jadi Presiden Turki

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: AFP/ADEM ALTAN)
Pemilu Turki tengah berlangsung. Petahana Recep Tayyip Erdogan disebut berkemungkinan besar untuk kembali memenangkan kursi presiden.
ADVERTISEMENT
Recep Tayyip Erdogan atau Erdogan, lahir di Istanbul pada 26 Februari 1954 namun dibesarkan di Rize, wilayah pesisir Laut Hitam. Ayahnya adalah seorang pelaut di Angkatan Laut Turki.
Erdogan merupakan lulusan dari SD Kasimpasa Piyale pada 1965, SMK Islam Istanbul Imam Hatip pada 1973, dan mendapat gelar diploma Fakultas Ekonomi dan Ilmu Administrasi di Universitas Marmara pada 1981.
Di usia 16 tahun, Erdogan sempat menjadi pemain sepak bola semi profesional. Setelah kudeta militer pada 12 September 1980, ia terpaksa meninggalkan sepak bola dan bekerja di sektor swasta.
Dengan terjadinya kudeta itu, seluruh partai politik di Turki membubarkan diri. Erdogan melanjutkan kariernya di bidang politik dan bergabung dengan Partai Kesejahteraan yang didirikan pada 1983. Ia terpilih sebagai Kepala Partai Kesejahteraan cabang distrik Beyoglu di tahun berikutnya.
ADVERTISEMENT
Pada 1985, Erdogan juga dipercaya memimpin Partai Kesejahteraan cabang provinsi Istanbul sekaligus tergabung sebagai anggota Dewan Eksekutif Pusat Partai Kesejahteraan.
Erdogan dinilai cukup berpengaruh karena gagasannya melibatkan perempuan dan anak muda, serta sejumlah langkahnya agar politik dihargai publik. Atas perannya ini, Partai Kesejahteraan menang dalam pilkada di Beyoglu pada 1989 dan menjadi contoh bagi partai lain di penjuru Turki.
Hingga pada 27 Maret 1994, Erdogan terpilih sebagai Wali Kota Istanbul dan melakukan sejumlah terobosan. Di antaranya membangun pipa sepanjang ratusan kilometer untuk mengatasi polusi air dan mendirikan 50 jembatan demi mengurangi masalah transportasi.
Namun kepemimpinannya harus usai pada 12 Desember 1997 setelah ia membacakan sebuah puisi di hadapan warga di Siirt. Erdogan pun harus turun dari kursi Wali Kota ketika polisi menjatuhkan hukuman penjara kepadanya akibat puisi yang dianggap memicu kekerasan agama dan bertentangan dengan nilai-nilai sekuler Turki yang dijunjung Mustafa Kemal Ataturk.
ADVERTISEMENT
Bait puisi yang dibacakan Erdogan adalah:
Masjid adalah barak kami,
Kubahnya adalah helm kami,
Menaranya adalah bayonet kami,
Dan orang-orang beriman adalah tentara kami.
Akibat puisi itu, Erdogan dipenjara selama empat bulan. Dia kembali ke dunia politik pada 14 Agustus 2001 dengan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP).
Popularitas partainya langsung naik dalam tahun pertama hingga pemilu 2002 memenangkan dua pertiga kursi di parlemen dan membentuk pemerintahan partai tunggal setelah 11 tahun.
Erdogan lantas menduduki kursi Perdana Menteri pada 15 Maret 2003 dan disebut memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan Turki. Di antaranya dalam pencegahan korupsi hingga inflasi yang memperkuat mata uang Turki. Banyak pengamat asing yang menyebut masa kepemimpinan Erdogan ini sebagai "Revolusi Senyap".
President Erdogan. (Foto: Reuters/Yasin Bulbul)
Lantas pada 10 Agustus 2014 lalu, Erdogan terpilih sebagai Presiden ke-12 Turki sekaligus presiden pertama yang memenangkan suara populer.
ADVERTISEMENT
Erdogan telah terlibat dalam 12 pemilu - lima pemilu legislatif, tiga referendum, tiga pemilu lokal, dan pemilu presiden - dan semuanya dia menangkan. Hanya pada 2015 partainya, AKP, menang namun tanpa suara mayoritas.
Jalan Erdogan memimpin Turki tidak selalu mulus. Dia dituding ingin mengembalikan pemerintahan Islam gaya Kekhalifahan Ottoman yang telah terguling pada 1922.
Pada 2013, aksi besar di Istanbul pecah, yang awalnya memprotes penggusuran taman menjadi aksi anti-pemerintah. Kubu Erdogan berhasil mengatasi protes ini. Pemerintahannya jadi sorotan pada akhir 2013 akibat tuduhan korupsi di lingkaran pemerintahan, yang kemudian dibantah Erdogan.
Pada 2015, proses perdamaian dengan milisi Kurdi yang komunis gagal. Hingga saat ini, Erdogan masih terus memberantas milisi Kurdi yang dianggap teroris.
Tayyip Erdogan (Foto: Reuters/Yasin Bulbul)
Salah satu cobaan terbesar Erdogan terjadi pada 15 Juli 2016. Tentara Turki melakukan kudeta, menyerang Ankara dan Istanbul. Tapi kudeta itu tidak direstui oleh sebagian besar jenderal Turki, sehingga berhasil digagalkan hanya dalam waktu sehari.
ADVERTISEMENT
Erdogan menuding Fethullah Gulen yang dalam pengasingan di AS jadi dalam dalam kudeta yang menewaskan ratusan orang itu, termasuk 179 warga sipil. Gulen membantahnya, Erdogan bersikeras akan memberantas orang-orang Gulen di pemerintahannya.
Hingga kini, pemerintah Erdogan telah menangkap, memecat, dan memenjarakan 77 ribu orang yang dituding terlibat gerakan Gulen.
Terlepas dari pasang surut perjalanan kariernya, pria 64 tahun itu menikahi Emine Gulbaran pada 1978 dan dikaruniai empat anak, yakni Ahmet Burak Erdogan, Necmettin Bilal Erdogan, Esra, dan Sumeyye.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan