Profil Resimen Azov, Kelompok Neo-Nazi yang Bertempur dengan Militer Ukraina
·waktu baca 6 menit

Gerakan milisi sayap kanan mulai beriak sejak awal invasi Rusia ke Ukraina pada Kamis (24/2/2022). Kelompok neo-Nazi mencuat dari seantero dunia untuk melawan membantu melawan ganasnya pasukan Kremlin.
Di Ukraina sendiri, kelompok neo-Nazi telah berpusat di Gerakan Azov. Para milisi itu telah berkumpul dalam Batalyon Azov, bagian dari unit Garda Nasional Ukraina. Mereka turut angkat senjata untuk memerangi pasukan Rusia.
Garda Nasional Ukraina menguggah sebuah rekaman di Twitter pada Senin (28/2/2022). Rekaman itu menunjukkan para tantara Azov yang melapisi peluru mereka dengan lemak babi untuk melawan sekutu Rusia, pasukan Muslim Chechnya.
“Saudara-saudara Muslim yang terkasih, di negara kami, Anda tidak akan masuk surga. Anda tidak akan diizinkan masuk surga. Silakan pulang. Di sini, Anda akan menemui kesulitan. Terima kasih atas perhatiannya, selamat tinggal,” kata seorang pria dalam rekaman itu.
Azov mencurahkan bantuan dalam berbagai bentuk. Unit militer itu turut melatih warga sipil menjelang invasi Rusia. Komunitas internasional lantas bertanya-tanya, bagaimana gerakan neo-Nazi dapat berkembang biak dalam militer Ukraina?
Pembentukan
Azov pertama dibentuk pada Mei 2014 oleh organisasi ultranasionalis Patriot Ukraina dan kelompok neo-Nazi Majelis Nasional Sosial (SNA). Kedua kelompok itu terlibat dalam tindak xenophobia dan neo-Nazi. Mereka kerap menyerang migran dan siapapun yang menentang ideologi mereka.
Pada mulanya, Azov bertempur melawan kelompok separatis pro-Rusia. Mereka kemudian berhasil merebut kembali kota pelabuhan strategis, Mariupol.
Kelompok itu lantas secara resmi diintegrasikan ke dalam Garda Nasional Ukraina pada 12 November 2014. Presiden Ukraina saat itu, Petro Poroshenko, memberikan pujian tinggi kepada Azov.
“Ini adalah pejuang terbaik kami. Relawan terbaik kami,” ujar Poroshenko saat upacara penghargaan.
Unit militer infanteri Azov kini terdiri dari sukarelawan sayap kanan yang datang dari seluruh dunia. Pasukan itu telah menarik hingga 900 anggota. Secara luas, gerakan neo-Nazi itu terdiri dari resimen resmi dalam Garda Nasional, Partai Korps Nasional, dan sebuah kelompok paramiliter.
“Mereka pada dasarnya berubah dari sekelompok preman sayap kanan. Begitulah cara mereka terlihat sebelum 2014: tidak relevan secara numerik dan politik,” kata seorang rekan pascadoktoral yang telah meneliti Azov di Pusat Penelitian Ekstremisme di Universitas Oslo, Kacper Rękawek.
Juru bicara resimen pada 2015 lalu, Andriy Diachenko, mengungkap 10 hingga 20 persen rekrutan Azov adalah Nazi. Mereka menunjukkan hal itu secara terang-terangan. Anggota Azov tak sungkan menggunakan simbol swastika SS regalia untuk tato pada tubuh mereka.
Seragam Azov turut membawa simbol Wolfsangel neo-Nazi. Simbol itu menyerupai swastika hitam dengan latar belakang kuning.
Kendati demikian, mereka menyangkal menganut ideologi Nazi secara keseluruhan. Mereka bahkan beralasan, simbol pada seragam hanyalah kombinasi dari huruf "N" dan "I" yang mewakili “ideologi nasional.
Terlepas dari sangkalan itu, Azov telah berulang kali terpojokkan oleh laporan atas kekerasan yang mereka lakukan. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM (OHCHR) merilis sebuah laporan pada 2016 lalu. Dokumen itu membahas pelanggaran hukum humaniter internasional oleh resimen Azov.
Kelompok paramiliter Azov yang dikenal sebagai Milisi Nasional kerap terjerat dalam tindak kekerasan. Mereka ‘berpatroli’ di jalanan Ukraina untuk menegakkan keadilan versi sendiri.
Anggota Azov melakukan kekerasan beruntun terhadap kelompok minoritas dalam beberapa tahun terakhir.
Pendiri
Unit militer Azov dipimpin oleh Andriy Biletsky. Ia menjabat sebagai pemimpin Patriot Ukraina yang didirikan pada 2005 dan SNA yang didirikan pada 2008. Biletsky kemudian mendirikan Partai Korps Nasional sayap kanan pada Oktober 2016.
Pria berusia 42 tahun itu dijuluki Bely Vozd, yang berarti Penguasa Putih, oleh para pendukungnya. Pada 2010 lalu, Biletsky menyebut tujuan nasional Ukraina adalah untuk memimpin ras kulit putih dunia dalam perang salib terakhir.
Biletsky kemudian terpilih menjadi anggota parlemen pada 2014. Ia lantas meninggalkan Azov. Sebab, pejabat terpilih tidak boleh bergabung dalam militer atau kepolisian. Meski begitu, Biletsky tetap menjadi anggota parlemen hingga 2019 lalu.
Pendanaan
Unit militer Azov dibiayai Mendagri Ukraina pada tahun 2014. Keputusan itu diambil sebab pemerintah mengakui militernya sendiri terlalu lemah untuk melawan separatis pro-Rusia. Akibatnya, mereka harus mengandalkan pasukan sukarelawan paramiliter.
Pasukan paramiliter juga didanai secara pribadi oleh oligarki. Salah satu oligarki tersebut merupakan Igor Kolomoisky. Ia adalah seorang miliarder. Kolomoisky juga sempat menjabat sebagai gubernur di wilayah Dnipropetrovsk pada saat itu. Gubernur dan miliarder dari wilayah Donetsk, Serhiy Taruta, turut mengalirkan dana untuk Azov.
Tanggapan Dunia
Pada Juni 2015, Amerika Serikat (AS) dan Kanada sempat mengumumkan pasukan mereka tak akan mendukung resimen Azov. Sebab, Azov memiliki koneksi dengan gerakan neo-Nazi.
Namun, AS menjilat ludahnya sendiri di tahun berikutnya. Akibat tekanan dari Pentagon, AS mencabut larangan dukungan tersebut.
Pada Oktober 2019, 40 anggota Kongres AS yang dipimpin oleh Perwakilan Max Rose berupaya mengadang pergerakan Azov. Mereka menandatangani surat yang menyerukan Departemen Luar Negeri AS untuk menunjuk Azov sebagai Organisasi Teroris Asing (FTO). Namun, upaya mereka tidak membuahkan hasil.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin memanfaatkan situasi itu. Putin menggunakan keterlibatan gerakan neo-Nazi dalam pertahanan Ukraina sebagai dalih invasi.
Sebagaimana dilansir dari Reuters, Putin mengatakan, ia hanya meluncurkan operasi khusus militer untuk memberantas Nazi. Kremlin merujuk pada organisasi-organisasi neo-Nazi untuk menggambarkan Ukraina sebagai negara yang dikuasai kaum radikal.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menampik tuduhan-tuduhan tersebut. Zelensky yang merupakan Yahudi menegaskan, masyarakatnya tak mungkin berada di bawah jempol kelompok Nazi. Sebab, mereka kehilangan hingga 8 juta nyawa penduduknya saat memerangi Nazisme.
“Bagaimana saya bisa menjadi seorang Nazi?” tanya Zelensky dalam bahasa Rusia, seperti dikutip dari Politico.
Pusat Supremasi Kulit Putih
Terlepas dari pernyataan Zelensky, dukungan transnasional terhadap Azov kian meluas. Akibatnya, masyarakat internasional mengangkat alis mereka. Ukraina lantas disebut-sebut sebagai pusat baru untuk kelompok sayap kanan.
Organisasi swasta yang melacak kelompok ekstremis meneliti pergerakan tersebut. SITE Intelligence Group mengungkap, kelompok-kelompok nasionalis kulit putih sayap kanan dan neo-Nazi dari seluruh Eropa dan Amerika Utara terbang ke Ukraina.
Dilansir dari The New York Times, mereka melakukan perjalanan itu untuk untuk mendapatkan pelatihan tempur. Motivasi mereka turut didorong secara ideologis. Direktur SITE Rita Katz menerangkan, mereka memandang perang melawan Rusia sebagai perang melawan komunisme.
Pusat nirlaba yang telah mendokumentasikan konflik di Ukraina, The Soufan Group, berbagi temuan yang sama. Kepala The Soufan Group, Ali Soufan, menjelaskan, perang saudara dan pemberontakan menarik sukarelawan dari luar. Oleh karena itu, Ukraina telah menjadi pusat supremasi kulit putih.
Soufan menegaskan, sebagian mungkin bergabung untuk tujuan kemanusiaan. Tetapi, mereka hanya memperburuk dan memperpanjang konflik.
“Ketidakstabilan di Ukraina menawarkan kepada ekstremis supremasi kulit putih kesempatan pelatihan yang sama dengan ketidakstabilan di Afghanistan, Irak, dan Suriah yang telah ditawarkan kepada militan selama bertahun-tahun,” tutur Soufan.
Sejumlah kelompok sayap kanan telah menggalang dana dan mengerahkan pasukan mereka ke Ukraina. Situs asal Finlandia dan Prancis mendorong pelanggan mereka untuk mengulurkan sumbangan. Kelompok dari Finlandia bahkan mendorong warga untuk turut angkat senjata.
“Rusia selalu menganiaya kami, dan ular itu tidak akan jatuh sampai kepalanya terpenggal,” tulis unggahan dari kelompok itu, seperti dikutip dari The New York Times.
