Profil Sarwo Edhie Wibowo: Prajurit RPKAD Jadi Pahlawan Nasional
·waktu baca 3 menit

Presiden Prabowo Subianto resmi memberikan gelar anugerah Pahlawan Nasional ke tokoh militer, Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, di Istana Negara, Senin (10/11). Seorang tokoh asal Jawa Tengah yang dikenal sosok prajurit tempur.
Almarhum Sarwo Edhie adalah ayah mertua dari mantan presiden SBY sekaligus kakek Menko AHY.
Seperti apa profil Sarwo Edhie?
Dikutip dari berbagai sumber, Sarwo lahir pada tanggal 25 Juli 1927 di Pangenjuru, Purworejo. Ia merupakan anak dari pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini.
Kedua orang tuanya berasal dari keluarga PNS, bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.
Ada cerita menarik semasa Edhie kecil. Awalnya ia lahir dengan nama Edhie Wibowo.
Namun karena sering sakit-sakitan sesuai dengan adat Jawa, nama Edhie pundi ditambah dengan Sarwo. Dan akhirnya namanya menjadi Sarwo Edhie, bahkan setelah menikah hingga wafat namanya dikenal tetap Sarwo Edhie Wibowo.
Pada tahun 1942, ketika Jepang menguasai Indonesia, Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk mendaftarkan diri sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA). PETA merupakan kekuatan tambahan Jepang yang terdiri dari tentara Indonesia.
Namun, selama berkecimpung di sana, Sarwo Edhie kecewa. Sebab, tugas-tugasnya selama periode ini sebagian besar hanya memotong rumput, membersihkan toilet, dan membuat tempat tidur bagi perwira Jepang.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Sarwo Edhie bergabung dengan BKR. BKR adalah organisasi milisi yang akan menjadi cikal bakal ABRI (Tentara Nasional Indonesia) dan membentuk batalion. Namun, usaha itu gagal dan batalion bubar.
Teman satu kampung halamannya, Ahmad Yani (yang kemudian menjadi jenderal), kemudian mendorongnya untuk terus menjadi seorang tentara dan mengundangnya untuk bergabung dengan Batalion di Magelang, Jawa Tengah.
Karier Sarwo Edhie di ABRI adalah sebagai berikut:
Komandan Batalion di Divisi Diponegoro (1945—1951)
Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951—1953)
Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional (1959—1961)
Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962—1964)
Komandan RPKAD (1964—1967)
Peran di RPKAD
RPKAD merupakan pasukan elite TNI AD saat itu. Ini merupakan cikal bakal terbentuknya Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD.
Sarwo Edhi bukan pendiri RKPAD, tapi perannya besar dalam memodernisasi dan membangun karakter RKPAD.
Pada tahun 1964, Ahmad Yani telah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat dan menginginkan seseorang yang bisa dia percaya sebagai Komandan RPKAD. Akhirnya Sarwo Edhielah yang dipilih.
Setelah menjadi Komandan RPKAD, ia kemudian berturut-turut menjabat Panglima Kodam II/Bukit Barisan, dan Panglima Kodam XVII/Cendrawasih.
Sarwo Edhie meninggal pada 9 November 1989 pada usia 62 tahun. Ia dimakamkan di daerah asalnya di tempat pemakaman keluarga Purworejo tepatnya di Kampung Ngupasan, Kelurahan Pangenjurutengah, Purworejo.
Dalam penganugerahan gelar pahlawan, hadir Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono. Sarwo Edhi merupakan kakek dari ibu AHY.
Sarwo Edhi punya anak perempuan, bernama Kristiani Herrawati atau dikenal dengan panggilan Ani Yudhyono. Ani menikah dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang kemudian menjadi Presiden ke-6 RI.
