kumparan
7 Januari 2019 12:12

Profil Singkat 16 Dubes RI yang Dilantik Jokowi

Presiden Joko Widodo, melantik 16 Dubes RI, negara sahabat, Istana Negara, Jakarta
Suasana saat Presiden Joko Widodo melantik 16 Dubes RI untuk negara sahabat di Istana Negara, Jakarta. (Foto: Jihad Akbar/kumparan)
Presiden Joko Widodo akan melantik 16 dari 22 Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (7/1). Mereka seluruhnya telah lulus uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) oleh Komisi I DPR RI pada Oktober 2017.
ADVERTISEMENT
Dubes-dubes yang akan dilantik ada yang berlatar belakang dari Kementerian Luar Negeri, ada juga yang non-karier. Ada yang pernah berkarier di politik, hingga yang segudang pengalaman bertugas di kantor-kantor pemerintahan RI. Siapa sajakah mereka?
1. Abdulkadir Jailani untuk Kanada merangkap ICAO, berkedudukan di Ottawa
Abdulkadir lahir di Surabaya, 18 Maret 1966. Pria lulusan sarjana hukum Universitas Airlangga ini melanjutkan pendidikan magisternya di Universitas Indonesia pada tahun 1997, lalu Master of European Law and Policy di Portmouth University. Pada tahun 2002-2005, ia mengikuti pendidikan S3 di Universitas Indonesia.
Ia pernah bekerja di KBRI Den Haag (1998-2002) sebagai Kasubdit Politik Luar Negeri, selanjutnya di Kantor Perwakilan RI (PTRI) di Jenewa dan New York. Sebelum dilantik oleh Presiden Jokowi hari ini, Abdulkadir sebelumnya menjabat sebagai Konsul Jenderal (Konjen) Indonesia di New York.
ADVERTISEMENT
2. Abdurachman Hudiono Dimas Wahab untuk Republik Hungaria, berkedudukan di Budapest
Abrurachman Hudiono pernah diangkat sebagai komisaris dari TVRI
Presiden Joko Widodo, melantik 16 Dubes RI, negara sahabat, Istana Negara, Jakarta
Suasana saat Presiden Joko Widodo melantik 16 Dubes RI untuk negara sahabat di Istana Negara, Jakarta. (Foto: Jihad Akbar/kumparan)
3. Al Busyra Basnur untuk Republik Demokratik Federal Etiopia merangkap Republick Djibouti dan African Union, berkedudukan di Addis Ababa
Pria kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, 58 tahun yang lalu ini pernah bekerja sebagai seorang wartawan. Alumni Universitas Andalas ini sudah mengagumi dunia jurnalistik semenjak SMA, yang kemudian dilanjutkannya hingga ke tingkat perguruan tinggi. Basnur juga menyelesaikan studi masternya di Universitas Santo Tomas Manila, Filipina.
Sebelumnya, ia pernah bertugas di Konjen RI di Houston, Amerika Serikat, periode 2010-2013. Pada Januari 2018, Menlu Retno Marsudi melantiknya sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik di Kemenlu.
ADVERTISEMENT
4. Arrmanatha Christiawan Nasir untuk Republik Perancis merangkap Kepangeranan Andorra Keharyapatihan Monaco dan UNESCO, berkedudukan di Paris
Arrmanatha merupakan lulusan sarjana dari University of Buckingham di bidang ekonomi, kemudian melanjutkan pendidikan masternya di University of Leicester dan Universitas Indonesia. Ia pernah berkarier di World Trade Organization sebagai sekretaris kedua/negosiator, kemudian menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat Pertanian di Direktorat Perdagangan, Industri, dan HKI.
Jubir Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir.
Jubir Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
Pada 2010-2011, pria yang akrab disapa Tata ini didaulat menjadi penasihat ekonomi untuk presiden di Majelis Umum Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) ke-65 dan dilanjutkan Sekretaris Pertama di Misi Tetap Indonesia untuk PBB di New York. Ia adalah juru Bicara Kementerian Luar Negeri, sebelum dilantik jadi dubes oleh Presiden Jokowi di Istana Negara.
ADVERTISEMENT
5. Cheppy T Wartono untuk Republik Meksiko Serikat merangkap Belize, Republik El Savador, dan Republik Guatemala, berkedudukan di Mexico City
Cheppy lahir di Jakarta, 17 Maret 1967. Ia pernah menjadi anggota DPR RI periode 2004-2009 dari Fraksi PDI Perjuangan. Tahun 2015, ia juga bergabung menjadi anggota Tim Transisi bentukan Kemenpora untuk mengatasi permasalahan di tubuh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Ia juga merupakan Ketua Yayasan Peduli Anak Bangsa yang bergerak di bidang pendidikan, serta komisaris PT Bali Bahari.
6. Dewa Made Juniarta Satrawan untuk Republik Zimbabwe merangkap Republik Zambia, berkedudukan di Harare
Juniarta lahir di Singaraja, Bali, 15 April 1961. Ia merupakan lulusan sarjana dari Universitas Indonesia, kemudian melanjutkan pendidikan Fiinders University Australia dan University of London.
ADVERTISEMENT
Ia pernah bekerja di PTRI New York (1990-1994), KJRI Hong Kong sebagai Kepala Bidang Ekonomi/Sekretaris I (1996-2000), jabatan yang sama di KBRI London (2004-2006), dan Wakil Kepala Perwakilan di KBRI London (2007-2008). Sebelum dilantik menjadi dubes, Juniarta adalah Staf Khusus Menteri Perhubungan RI.
Presiden Joko Widodo, melantik 16 Dubes RI, negara sahabat, Istana Negara, Jakarta
Suasana saat Presiden Joko Widodo melantik 16 Dubes RI untuk negara sahabat di Istana Negara, Jakarta. (Foto: Jihad Akbar/kumparan)
7. Edi Yusup untuk Republik Federasi Brasil, berkedudukan di Brasilia
Edi pernah menjabat sebagai Konjen RI di Guangzhou, China, pada 2010. Setelah itu, pada tahun 2017, Menlu Retno Marsudi melantik Edi sebagai Direktur Asia Timur dan Pasifik Kemenlu.
8. Hajriyanto Thohari untuk Republik Lebanon, berkedudukan di Beirut
Hajriyanto lahir di Karanganyar, Jawa Tengah, 26 Juni 1960. Ia merupakan mantan Wakil Ketua MPR periode 2009-2014 yang berasal dari Partai Golkar. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Periode 2015-2020.
ADVERTISEMENT
9. Julang Pujianto untuk Republik Suriname merangkap republik Guyana, berkedudukan di Paramaribo
Julang merupakan pejabat eselon II Kementerian Luar Negeri. Ia pernah dilantik menjadi Direktur Amerika Selatan dan Karibia seblum menjadi dubes.
10. Lalu Muhammad Iqbal untuk Republik Turki, berkedudukan di Ankara
Iqbal sebelumnya adalah Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia – Bantuan Hukum Indonesia (PWNI – BHI) pada Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI. Selain bergulat di bidang advokasi WNI yang tersandung masalah di luar negeri, ia juga jadi juru bicara Kemlu.
Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal
Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal. (Foto: Helmi Afandi/kumparan)
11. Mahendra Siregar untuk Amerika Serikat, berkedudukan di Washington DC
Mahendra lahir di Jakarta, 1 Januari 1970. Sebelum dilantik menjadi dubes, ia adalah ekonom asal Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Perdagangan Indonesia dan sejak 19 Oktober 2011 duduk sebagai Wakil Menteri Keuangan Indonesia di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada 1 Oktober 2013 ia dipilih untuk menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal hingga 27 November 2014.
ADVERTISEMENT
12. Muhammad Anshor untuk Republik Chile, berkedudukan di Santiago
Anshor adalah seorang diplomat karier yang pernah menjabat sebagai Direktur HAM dan Kemanusiaan, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Sebelum menempati posisi saat ini. Berbagai jabatan yang pernah diduduki Anshor diantaranya adalah staf di Direktorat Jenderal Politik pada tahun 1992-1997, Kepala Seksi di Direktorat Organisasi Internasional pada tahun 2001-2002, Kepala Sub Direktorat dalam Direktorat HAM dan Kemanusiaan (Mei 2002-Maret 2005 dan Juni 2009-Mei 2010).
Selain itu pernah menjadi Sekretaris Kedua pada Perwakilan Tetap RI-PBB di Jenewa selama tahun 1997-2001 dan dilanjutkan dengan menjabat sebagai Kanselir pada Perwakilan Tetap RI-PBB di New York pada tahun 2005-2009. Wakil Ketua Komite ketiga Sesi ke-16 Majelis Umum PBB pada tahun 2005 dan sebagai Wakil Ketua Konferensi Negara Pihak Konvensi PBB mengenai Segala Bentuk Diskriminasi Ras pada tahun 2006.
ADVERTISEMENT
13. Siti Nugraha Mauludiah untuk Republik Polandia, berkedudukan di Warsawa
Dubes RI untuk Polandia, Siti Nugraha Mauludiah
Dubes RI untuk Polandia, Siti Nugraha Mauludiah (Foto: Instagram @iningtea)
Siti Nugraha Mauludiah lahir di Bandung, 20 Juni 1967. Ia meraih gelar pendidikan Master of International affairs in International Economic Policy from School of International dan Public Affairs, Columbia University, New York.
Sebelum menjadi dubes, Siti Nugraha Mauludiah pernah menjabat sebagai Konsulat Jenderal di Shanghai.
14. Sunaryo Kartadinata untuk Republik Uzbekistan merangkap Republik Kirgizstan, berkedudukan di Tashkent 
Sebelum menjadi dubes, Sunaryo Kartadinata merupakan guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang saat ini menjabat Ketua Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) periode 2014-2019. Sunaryo juga pernah menjabat sebagai Rektor UPI selama dua periode, 2005-2010 dan 2010-2015.
Sunaryo tercatat sebagai rektor ke-7 sejak UPI bernama IKIP Bandung, dan merupakan Pimpinan ke-9 Kampus Bumi Siliwangi sejak bernama PTPG Bandung. Seorang Guru Besar Ilmu Pendidikan dalam bidang Bimbingan dan Konseling, Universitas Pendidikan Indonesia.
ADVERTISEMENT
15. Tri Tharyat untuk Kuwait, berkedudukan di Kuwait City
Tri Tharyat merupakan Master Hukum International, University of Pennsylvania, USA. Sebelum dilantik menjadi Dubes,Tri Tharyat pernah menjabat sebagai Konsulat Jenderal RI untuk Hong Kong.
KonJen RI untuk HongKong - Tri Tharyat
KonJen RI untuk HongKong, Tri Tharyat. (Foto: Jafri Anto/kumparan)
16. Wajid Fauzi untuk Republik Arab Suriah, berkedudukan di Damaskus
Wajib Fauzi lahir di Solo, 13 Agustus 1961 dan saat ini menjabat Staf Ahli Bidang Manajemen Kementerian Luar Negeri. Sebelumnya, ia pernah memangku jabatan sebagai Dubes RI untuk Yaman pada 2012-2016.
Ia memulai kariernya sebagai PNS di Kemlu pada 1986. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah bertugas di sejumlah pos perwakilan, mulai dari Kedubes RI di Tokyo, Jepang. Kemudian Konjen dan Kedubes RI di Berlin, Jerman, dan pernah menduduki posisi sebagai Wakil Kepala Perwakilan periode 2008-2009.
ADVERTISEMENT
-----
Ada enam orang lainnya yang ditunjuk Dubes namun belum dilantik hari ini oleh Presiden Jokowi, karena masih belum mendapat persetujuan dari negara penempatannya.
Keenam orang itu adalah Adriana Supandy, Berlian Napitupulu, Hasrul Azwar, Kenssy Dwi Ekaningsih, M. Chandra Widya Yudha, dan Usra Hendra Harahap.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan