Profil SM Amin, Gubernur Pertama Sumut yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Presiden Jokowi menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh nasional pada Hari Pahlawan 10 November 2020.
Salah satu tokoh yang menerima gelar pahlawan nasional yakni Gubernur Sumatera Utara pertama, Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution atau dikenal SM Amin. SM Amin merupakan pahlawan nasional ke-12 dari Sumut.
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menyambut baik penyematan pahlawan nasional terhadap SM Amin. Ia meminta masyarakat meneladani sikap S Amin yang cinta dan memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan sejak masa muda hingga menjabat sebagai gubernur.
“Itu yang akan kita kaji, besarkan dan kita berikan kepada seluruh anak-anak kita, sebagai penyemangat motivasi, untuk bagaimana anak kita mengisi kemerdekaan,” kata Edy kepada wartawan di Medan, Selasa (10/11).
Profil SM Amin
SM Amin lahir di Provinsi Aceh pada 22 Februari 1904 dan meninggal pada 16 April 1993 di Jakarta.
Sejarawan USU Budi Agustono mengatakan, lahir di masa penjajahan membuat hidup Amin bergejolak. Amin lahir bertepatan dengan awal mula Belanda memperkenalkan dunia pendidikan ke Indonesia.
“Jadi dengan pendidikan yang dimiliki dia menjadi seorang aktivis pergerakan, karena dia tidak ingin menjadi pegawai pemerintah. Karena dia tahu betul kalau bangsanya pada awal abad 20 mengalami proses keterbelakangan,” kata Budi.
Budi menjelaskan, semasa muda, selain sebagai pejuang Amin merupakan pemikir yang andal. Dia banyak menulis seputar perjuangan hingga bergabung dengan organisasi politik melawan Belanda.
“Dia pernah masuk Jong Sumatra, kemudian dia masuk Gerindo. Gerindo ini salah satu partai politik bangsa pada waktu itu yang cukup radikal, saya kira antikapitalis waktu itu,” ucap dia.
Budi menjelaskan, tujuan Amin merambah dunia politik demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa, terutama masyarakat Sumatera Timur dari penindasan.
“Pada waktu itu masyarakat Sumatera Timur mengalami proses kekuasaan asing yang memporak-porandakan struktur masyarakat,” tutur Dekan Fakultas Budaya USU ini.
SM Amin juga menjadi sosok yang dan sangat berperan dalam membangkitkan dan menghidupkan nasionalisme di wilayah Sumatera Timur. Semua karena pengalamannya di bidang politik.
“Jadi dengan rekam jejak SM Amin tak mengherankan dia mendapatkan anugerah sebagai pahlawan,” kata Budi.
Perjalanan SM Amin Menjadi Gubernur Sumut
Berdasarkan catatan sejarah, karier politik SM Amin cukup moncer. Pada 1947 dia diangkat menjadi Gubernur Sumatera Utara pertama.
Dalam tahun pertamanya, Amin dihadapkan dengan agresi Belanda pertama yang ingin mengambil kekuasaan di Sumatera Utara. Di sisi lain, ada juga persoalan internal yang belum selesai karena negara Indonesia baru terbentuk.
“Bayangkan ketika republik muda sedang mengalami penyesuaian sebagai bangsa merdeka lalu berhadapan dengan situasi internal terutama persoalan ekonomi dan politik yang belum kuat sebagai republik baru. Ditambah asing yang ingin menjajah kembali," ujar Budi.
Meski berada di tengah-tengah kemelut politik dan ekonomi ini, SM Amin sebagai gubernur mampu menyelesaikan persoalan struktural.
"Ini kontribusi besar SM Amin untuk bangsa dan rakyat Sumatera Utara," ucap Budi.
Tidak hanya sebagai politisi, sosok SM Amin juga dikenal sebagai problem solver. Amin tercatat pernah menjadi penengah pertikaian antara Aceh yang diinisiasi Daud Beureueh dengan pemerintah pusat.
Kala itu, Daud Beureueh ingin meredakan Aceh yang bertikai dengan pemerintah pusat.
"Dia seorang peace maker, orang yang sering memikirkan perdamaian, itu terbukti pada saat tahun 1950-an itu dia melakukan itu. Menulis persoalan Aceh yang pelik dan mencoba menyelesaikan konflik. Ini kontribusi besar SM Amin untuk menyelesaikan persoalan daerah dan pusat," jelas Budi.
Pemikiran SM Amin Perlu Diimplementasikan Pemprov Sumut
Setelah SM Amin dianugerahi gelar pahlawan nasional, Budi mengatakan hal itu harus menjadi motivasi Pemprov Sumut untuk menggali lagi pemikirannya, lewat buku yang telah ditulisnya.
“Pemikirannya sangat luar biasa lintas batas Sumut, bahkan nasional. Karena dia penulis buku yang sangat produktif saat dia jadi Gubernur Sumut," kata Budi.
Tercatat Amin sudah menulis buku sejak tahun 1970-an. Pada masa itu, SM Amin banyak menulis tentang demokrasi, hukum dan hukum syariah. Budi berharap pemikiran SM Amin bisa diaplikasikan
"Saya pikir banyak pikirannya yang belum tergali. Jika itu dibiarkan masyarakat Sumut akan mengalami kerugian, mengalami defisit pengetahuan karena tidak mengenal pemikiran pahlawannya yang terbaru," tutur Budi.
Sementara sejarawan UNIMED, Phil Ichwan Azhari, mengatakan SM Amin merupakan seorang sarjana hukum yang berintegritas dan produktif dalam menuangkan buah pikirnya dalam buku. Pengacara kondang alm Adnan Buyung, kata Ichwan, kerap menjadikan buku Amin sebagai referensi belajar hukum.
“SM Amin penulis tangguh, ia menulis 15 buku. Bukunya itu dijadikan referensi oleh Adnan Buyung Nasution. SM Amin merupakan pahlawan nasional yang sangat penting,” tutur dia.
Salah satu buku SM Amin berjudul "Hukum Beracara di Pengadilan Negeri" dan "Bertamasya ke Alam Hukum".
