Profil Soeripto, Pendiri PKS dan Eks Intelijen yang Meninggal pada Usia 89 Tahun
·waktu baca 2 menit

Salah satu pendiri PKS, Soeripto, meninggal dunia, pada usia ke 89 tahun, Kamis (6/11). Ia sebelumnya dikenal sebagai anggota intelijen.
Seperti apa profil Soeripto?
Soeripto lahir di Bandung pada 20 November 1936. Ia mempunyai seorang istri bernama Halimah dan 7 anak.
Soeripto pernah menjadi anggota Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) atau yang sekarang dikenal dengan Badan Intelijen Negara (BIN).
Semasa kuliah di Universitas Padjadjaran, Soeripto aktif dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos). Namun dalam perjalanannya ia dituduh sebagai salah satu aktor di balik kerusuhan anti-etnis Tionghoa di Bandung pada tahun 1963. Dia pun dipenjara.
Usai menghirup udara bebas, Soeripto kemudian bergabung dengan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di bidang intelijen.
Baru kemudian ia menjabat sebagai staf Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) hingga tahun 1970.
Pada era Reformasi, Soeripto terlibat dalam pendirian Partai Keadilan, yang kemudian menjadi PKS. Dia juga dikenal sebagai pengamat intelijen.
Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan dan Perkebunan dari tahun 1999 hingga 2001. Dia kemudian menjadi anggota DPR periode 2004-2009 dari PKS.
Pada tahun 2018, sebuah buku tentang Soeripto diluncurkan. Judulnya "Gagasan dan Pemikiran Suripto, Intel Tiga Zaman". Dia menjadi intel pada era Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi.
Dalam buku itu, Soeripto menuangkan gagasan soal isu-isu aktual di Indonesia, mulai BLBI, illegal logging, oligarki, destabilisasi, deintegrasi, Palestina, Arab Spring, dan lain-lain.
