Proses Pemakaman Anak Dianiaya Ibu Tiri: Digendong Ayah-Hanya Diantar 2 Motor

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Makam Rasya, bocah 6 tahun yang tewas dianiaya ibu tiri usai proses ekshumasi di Makam Kalang Anyar, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Makam Rasya, bocah 6 tahun yang tewas dianiaya ibu tiri usai proses ekshumasi di Makam Kalang Anyar, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Muhammad Arrasya Alfarizky (6) tewas dianiaya ibu tirinya, Rita Novita Sari (30), pada Minggu (19/10). Proses pemakaman berlangsung keesokan harinya atau pada Senin (20/10).

Sugeng, yang memandikan jenazah korban, bercerita saat prosesi pemakaman korban hanya diantar oleh ayah kandungnya dan tiga orang lainnya dengan menggunakan dua sepeda motor.

"Suasana saat pemakaman korban hanya diantar 2 motor tanpa menggunakan ambulans," kata Sugeng saat ditemui di TPU Kalang Anyar, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Kamis (23/10).

"Sepi, cuma hanya dihadiri pihak keluarga, RT, dan saya," tambahnya.

Sugeng, pemandi jenazah Rasya, bocah 6 tahun yang tewas dianiaya ibu tiri di Bojonggede, Bogor, Kamis (23/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Sugeng juga bercerita, jenazah korban digendong sang ayah menuju pemakaman.

"Saya sempat menawarkan ambulans dan itu gratis namun pihak keluarga menolak. Bapaknya menjawab lebih baik saya bawa saja pak sugeng, biar saya gendong saja," ceritanya.

Awal Mula Kasus Terungkap

Rumah kontrakan Rasya, bocah 6 tahun yang tewas dianiaya ibu tiri di Perumahan Griya, Kamis (23/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Rasya tewas usai dianiaya ibu tirinya, Rita Novita Sari (30), pada Minggu (19/10). Pelaku sempat mengarang cerita bahwa korban sakit hingga meninggal dunia.

Sugeng yang biasa memandikan jenazah itu ditugaskan untuk memandikan jenazah Arrasya. Saat Sugeng pertama kali melihat luka-luka di tubuh korban, Sugeng merasa ada yang janggal.

Sugeng sempat bertanya soal penyebab meninggalnya korban. Saat itu, sang nenek menjawab bahwa cucunya meninggal karena sakit.

Sugeng mengatakan dia sempat memeriksa wajah korban. Saat itu dia melihat tisu yang menyumpal mulut korban. Setelah tisu itu dilepas, dia melihat ada luka sobek.

Suasana usai ekshumasi makam Rasya, bocah 6 tahun yang tewas akibat dianiaya ibu tiri di Makam Talang Anyar, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

"Pertama saya periksa dulu, buka mukanya dulu, seperti apa. Pertama saya lihat, mohon maaf, ada di mulutnya itu ada tisu untuk menyumpal mulutnya itu. Karena ternyata setelah saya lepas tisunya itu, ada luka sobek pada bagian bibir korban," ungkapnya.

Tisu itu disinyalir Sugeng untuk menyumpal darah yang keluar dari bibir korban.

"Iya, masih [ada darah]. Makanya ada sumpal tisu supaya berhenti. Setelah saya buka tisunya, saya tutup kembali mukanya ya. Karena saya harus membereskan dulu tempat mandi. Makanya saya bersama warga membereskan tempat mandi," ceritanya.

Menurut Sugeng, proses pemandian jenazah itu turut disaksikan dan dibantu ayah kandung korban. "Ketika proses memandikan, ternyata saya [lihat] luka, beberapa luka di bagian muka," kata dia.

Suasana usai ekshumasi makam Rasya, bocah 6 tahun yang tewas akibat dianiaya ibu tiri di Makam Talang Anyar, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

"Bagian pelipis ini. Pelipis kanan. Pelipis kanan ya, itu membiru. Kemudian, yang tadi bibir pecah ya. Kemudian bagian perut sini juga membiru," tambahnya.

Sugeng mengaku sempat bertanya soal luka tersebut ke ayah korban. Saat itu, ayah korban menjawab luka itu didapat anaknya akibat kejedot pintu.

Sugeng saat itu menahan diri untuk tidak bercerita karena alasan etika pemandian jenazah.

Namun, setelah pemakaman selesai, dua orang perempuan datang menemuinya dengan tergesa-gesa. “Dua ibu-ibu (tetangga korban) dari Griya Citayam Permai lari-lari nyusul saya. Mereka tanya, 'Apakah jenazah sudah dikuburkan?' Saya jawab sudah. Mereka bilang, 'Ini anak korban KDRT',” ujarnya.

Sugeng mengatakan alasan dua perempuan itu menyebut Rasya merupakan korban KDRT.

"Mereka para tetangga korban, sebelumnya mereka sudah tahu adanya dugaan penganiayaan pada anak tersebut. Sehingga ketika mereka dapat kabar bahwa Arrasya meninggal maka ibu-ibu tersebut segera mengejar ke lokasi jenazah," ucapnya.

"Dengan harapan mencegah agar anak tersebut jangan dikubur dulu karena akan diproses ke aparat. Tetapi terlambat. Jenazah sudah dikuburkan," imbuhnya.

Rumah kontrakan Rasya, bocah 6 tahun yang tewas dianiaya ibu tiri di Perumahan Griya, Kamis (23/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Pernyataan itulah yang membuat Sugeng mulai mengaitkan luka-luka yang dilihatnya saat memandikan jenazah dengan dugaan kekerasan.

Setelah mendengar keterangan dari dua warga itu, Sugeng segera berkoordinasi dengan pengurus lingkungan. “Kami koordinasi dengan RT setempat, Pak Wahyu, RT 4 RW 4,” ucapnya.

Diketahui bahwa area RT 4 RW 4 adalah tempat tinggal nenek dari Arrasya, tak jauh dari rumah kontrakannya.

Sugeng mengatakan kasus ini lalu dilaporkan seorang warga ke Polsek Bojonggede. Rita pun akhirnya ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka.