Protes Invasi saat Siaran, Pegawai Stasiun Televisi Rusia Tuai Pujian

Seorang karyawan stasiun televisi milik pemerintah Rusia menyela siaran berita malam pada Senin (14/3/2022). Atas keberanian menentang invasi ke Ukraina, wanita bernama Marina Ovsyannikova itu lantas menuai pujian dari berbagai pihak.
Pasalnya, para pengamat Rusia mengatakan, protes semacam itu sangat langka ditemukan di media Kremlin.
"Ini sungguh sangat berani," ujar para pengamat, seperti dikutip dari Algemeen Dagblad.
Dalam rekaman berdurasi 10 detik yang beredar di media sosial, Ovsyannikova tampak melompat ke belakang pembawa acara. Ia lalu mengangkat kertas bertuliskan pesan-pesan anti-perang.
"No War. Hentikan perang. Jangan percaya propaganda. Di sini mereka berbohong kepada Anda," seru tulisan dalam bahasa Rusia.
"Rusia menentang perang," tegas baris lain dalam bahasa Inggris.
Pembawa berita, Yekaterina Andreyeva, sedang membacakan artikel perihal hubungan Rusia dengan Belarusia. Ketika Ovsyannikova menyela siaran, Andreyeva masih tidak menggubrisnya.
Andreyeva hanya meninggikan suara agar meredam seruan-seruan Ovsyannikova. Siaran kemudian tiba-tiba diputus dan diganti rekaman dari sebuah rumah sakit.
Usai aksi itu mencuat ke muka publik, arus tanggapan mengalir deras. Media Barat memuji aksi tersebut. Sejumlah pihak tak urung mendukung kecaman yang dilayangkan Ovsyannikova.
"Sangat mengejutkan," tulis koresponden BBC, Steve Rosenberg.
"Ini luar biasa berani," imbuh jurnalis The Times, Manveen Rana.
"Para demonstran pemberani yang tak tergoyahkan di Rusia, yang menentang perang biadab Putin, pantas mendapat kekaguman dan rasa hormat penuh dari kita," cetus politikus Inggris, David Lammy.
Kendati demikian, keberanian Ovsyannikova tetap menimbulkan konsekuensi besar. Ia kini terancam penjara seumur hidup.
Moskow memiliki undang-undang baru yang melarang pemberitaan berbeda dari versi resmi pemerintah. Tak hanya itu, Kremlin juga melarang demonstrasi yang menentang pergerakan militernya.
Negara Beruang Merah kerap mengimbau warga sipil agar memberikan dukungan penuh terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.
Bila melanggar, Kemdagri Rusia telah memperingatkan adanya konsekuensi. Pihak berwenang bahkan tak sungkan menangkap ribuan penduduk dalam aksi-aksi protes yang menjalar ke seantero negara itu.
UU itu turut merinci larangan penggunaan istilah. Media tidak diperbolehkan menyebut kata ‘invasi’ atau ‘perang’ saat membahas agresi Kremlin di Ukraina.
Stasiun Channel One pun menuruti aturan tersebut. Channel One menggambarkan invasi Rusia sebagai operasi khusus untuk membebaskan Ukraina dari genggaman Nazi.
Menilik hukum yang membayangi, implikasi mendalam tentu menyelubungi aksi Ovsyannikova. Tidak tanggung-tanggung, aksi Ovsyannikova merecoki acara berita paling unggulan di stasiun itu.
Acara Time yang ditayangkan pada pukul 21.00 waktu setempat telah ditayangkan sejak era Soviet dan ditonton oleh jutaan orang di seluruh negeri.
Walau mengadang gugatan dan gertakan, Ovsyannikova tak lantas getir. Organisai hak-hak sipil Rusia, OVD-Info, merilis rekaman teranyar dari Ovsyannikova.
Ovsjannikova telah bekerja sebagai direktur dan produsen untuk Channel One bertahun-tahun. Namun, ia telah mencapai ambang batas. Ovsjannikova mengungkap rasa muak dan malu sebab pernah terlibat dalam propaganda Moskow.
"Menyesal saya telah bekerja untuk Channel One selama beberapa tahun terakhir dengan propaganda untuk Kremlin. Saya merasa sangat malu," tutur Ovsjannikova yang terlihat memakai kalung dengan warna Rusia dan Ukraina.
Ovsjannikova menambahkan, keluarganya sendiri berasal dari dua negara tersebut. Ayah Ovsjannikova merupakan orang Ukraina sedangkan ibunya berasal dari Rusia. Ia tidak melihat kedua negara itu sebagai musuh.
Meski begitu, Ovsjannikova menegaskan, kekejaman yang menggerus Ukraina harus dikecam tegas. Ia kemudian mengimbau seluruh warga untuk melakukan demonstrasi.
"Apa yang sekarang terjadi di Ukraina adalah suatu kejahatan dan Rusia adalah agresor. Tanggung jawab atas agresi ini ada pada satu orang: Vladimir Putin. Kita cuma diam menonton rezim tak berperikemanusiaan ini. Kini seluruh dunia menjauhi kita," jelas Ovsjannikova.
"Mereka tidak bisa memenjarakan kita semuanya," pungkasnya.
Penulis: Eddi Santosa
