Psikolog: Art Therapy Bisa Obati Trauma Bully Pada Anak-Anak

21 November 2022 17:22
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi balita menggambar. Foto: yamasan0708/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi balita menggambar. Foto: yamasan0708/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Tindakan perundungan atau bully yang dilakukan dampak berdampak panjang pada korban, trauma psikologi adalah salah satunya. Untuk menyembuhkannya, Psikolog dari UI, Dian Wisnuwardhani, M.Psi. Psikolog, menyebut perlu waktu yang panjang pula.
ADVERTISEMENT
"Langkah-langkahnya panjang ya. Yang pertama sih kalau saya biasa juga melakukan Art Therapy," ujar Dian kepada kumparan melalui saluran telepon, Senin (21/11).
Art Therapy atau terapi seni adalah cara yang ia rekomendasikan untuk menyembuhkan trauma bully. Cara ini dianggap menarik sebab dapat mengali pikiran dan perasaan anak melalui ekspresi yang mereka tuangkan dalam gambar.
Dengan gambar anak yang jadi korban bully dapat 'bercerita' secara bebas tanpa takut dihakimi ataupun dibully kembali. Anak juga tidak perlu takut dengan stigma psikolog sebab mereka dikenalkan dengan kegiatan yang dekat dengan kegiatan yang sering dilakukan sehari-hari.
Ilustrasi anak sedang menggambar. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak sedang menggambar. Foto: Shutter Stock
"Kenapa sih art therapy itu bisa menarik? Karena gini anak-anak itu kan pada dasarnya mereka kadang-kadang sulit untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya karena mungkin takut juga ya takut," jelas Dian.
ADVERTISEMENT
"Terus kalau ketahuan bahwa mereka korban bully takutnya mereka di bully lagi sama teman-temannya terus atau juga mereka merasa ngapain sih aku ke psikolog kan aku bukan orang yang mengalami gangguan jiwa gitu," tambahnya.
Sederhananya, dengan terapi ini anak diminta untuk menggambar. Awalnya mereka diminta untuk menggambar bebas dengan menuangkan apa yang mereka rasakan. Pemilihan gambar, warna, dan goresan akan diinterpretasi oleh psikolog.
Psikolog selanjutnya akan menanyakan bagian mana dari gambar tersebut yang membuat anak senang ataupun tidak senang. Anak akan diminta untuk mendeskripsikannya.
"Jadi kita ngobrol sama anak itu yang bikin nggak senang itu apa sih kenapa itu bisa terjadi gitu," jelas Dian.
Setelahnya anak anak diminta menggambar kembali mengenai bayangan masa depan (sekitar 3-6 bulan ke depan) dari kondisi yang mereka rasakan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Anak akan diminta untuk menggambar impian mereka, apa yang ingin mereka capai, dan dengan siapa mereka ingin bergaul. Setelah psikolog melakukan interpretasi gambar, anak akan diajak kembali berdialog.
"Jadi kita menggunakan media gambar itu sebetulnya untuk membuat mereka merasa nyaman dulu. Karena menggambar itu kan sangat dekat dengan keseharian anak-anak juga ya mengekspresikan sebagai warna itu kan membuat mereka merasa bebas bebas berekspresi sebenarnya itu," ujar Dian.
Komisioner KPAI Retno Listyarti juga menekankan menyembuhkan trauma bully, korban harus meminta pertolongan profesional. Dimulai dari melakukan konseling hingga terapi untuk menyembuhkan trauma yang ditimbulkan.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Meminta profesional (psikolog) untuk melakukan assessment dan terapi/konseling untuk proses penyembuhan luka batin, proses penyembuhan akan lebih cepat jika ditangani sejak awal. Kalau didiamkan maka luka batin itu lebih sulit pulih," ujar Retno kepada kumparan melalui pesan teks, Senin (21/11) siang.
ADVERTISEMENT
Terapi Lain yang Dapat Dilakukan
Selain art therapy, Psikolog dari UI ini juga menyebut ada pula terapi lain yang dapat diterima korban bully dengan trauma seperti terapi stabilisasi emosi dan terapi EMDR.
Terapi stabilisasi emosi dilakukan agar korban tetap bisa menjalani kehidupannya sebagai pelajar meskipun telah mengalami trauma.
"Jadi walaupun dia mengalami trauma tapi paling tidak kita mengajak anak-anak tersebut untuk tetap stabil tetap bisa mengerjakan tugas sehari-hari sebagai murid tetap mengerjakan PR tetap mengerjakan tugas di sekolah tetap berusaha untuk tidak selalu teringat dengan bayang-bayang trauma yang terjadi gitu," jelas Dian.
Kendati demikian, Dian menegaskan bila kondisi semakin buruk di mana trauma anak terus berlanjut dan mengganggu kegiatan kesehariannya. Anak harus datang ke psikolog.
ADVERTISEMENT
Ciri-ciri sederhana yang Dian gambarkan bila anak mengalami trauma bully di sekolah adalah perubahan perilaku. Anak yang semula ceria menjadi pemurung, tidak mau sekolah, tidak mau berteman, dan tidak mau datang ke acara ulang tahun temannya.
Kondisi ini dicurigai sebagai kondisi anak sangat ketakutan dengan relasi pertemanan dan dengan orang-orang lain.
Terapi terakhir yang Dian sebutkan adalah EMDR. Terapi ini menggunakan teknik psikoterapi interaktif yang digunakan untuk meredakan stres psikologis. Ini adalah pengobatan yang efektif untuk trauma dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Teknik ini diyakini mampu mengurangi dampak ingatan atau pikiran terhadap trauma.
Dian menyebut tahapan untuk sembuh memang cukup panjang dengan terapi ini. Awalnya anak diminta untuk mengingat trauma yang pernah mereka alami, kemudian diobati dari akarnya. Pasalnya, bisa jadi bully bukanlah trauma melainkan akibat dari trauma yang sudah ada sebelumnya.
ADVERTISEMENT
"Bisa saja bullying itu Trigger, tapi bisa juga akar trauma yang harus diselesaikan yang lebih kecil di masa kecilnya yang harus diselesaikan yang membuat mereka jadi ketakutan," jelas Dian.
Selain terapi, psikolog ini menekankan pentingnya pencegahan perilaku bully dari sekolah dan keluarga. Menurut Dian bila pembekalan dari keluarga sudah diberikan tetapi penanganan di sekolah belum optimal, tindakann bully masih bisa terjadi. Begitu pula sebaliknya.
Pembentukan polisi sekolah dan polisi kelas dari anak yang dominan juga bisa jadi solusi untuk mengurangi bully. Pasalnya menurut psikolog ini, pelaku bully adalah orang yang merasa memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding orang lain.
"Jadi mereka diedukasi menjadi dominan itu baik, tapi dominan seperti apa yang baik, dan itu tentu menjadi proses juga karena bisa saja pelaku bullying ini sebetulnya mereka juga punya trauma ya maka dia melakukan itu kepada generasi selanjutnya gitu," tutup Dian.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020