Psikolog Ungkap Ciri Keluarga yang Terpapar Judi Online

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi judi online. Foto: Clari Massimiliano/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi judi online. Foto: Clari Massimiliano/Shutterstock

Psikolog keluarga, Muhammad Iqbal, mengungkapkan ciri keluarga yang mulai terpapar oleh judi online. Kebanyakan, ciri tersebut berlangsung pada masalah sosial dari si pemain judi online.

"Mereka lebih sosial, ya, menyendiri, tidak mau bergaul, kemudian juga mereka terus meminta uang, bahkan menjual barang," kata Iqbal Hal dalam diskusi Polemik Trijaya dengan tema Mati Melarat Karena Judi, Sabtu (15/6).

"Kemudian mereka akhirnya juga suka marah, emosi, nah itu tentu saja harus ada rehabilitasi," tambahnya.

Menurut Iqbal, kecanduan judi online ini mirip dengan kecanduan narkoba. Hal ini membuat para pemain judi online pun memerlukan rehabilitasi agar tidak terjerat pada kecanduan tersebut.

"Ya, sama seperti narkoba, adiksi ini. Adiksi, di mana dia menghadapi sebuah dopamin di otaknya, memenuhi otaknya sehingga dia tidak merasa malu, punya etika, yang penting keinginan dia tercapai. Jadi cirinya pertama adalah menarik diri dari lingkungan sosial," ucap Iqbal.

Kecanduan judi online ini pun bisa dikategorikan sebagai masalah psikologi berat. Sebab pemulihan dari adiksi judi online memerlukan waktu yang tak sebentar.

"Saya kira berat ya, karena memang dia memerlukan waktu untuk memulihkannya. Termasuk peran agama ini penting. Makanya mungkin ke depan ceramah-ceramah di berbagai rumah ibadah itu harus mengingatkan tentang bahaya ini," tuturnya.

Ilustrasi judi slot. Foto: Studio Romantic/Shutterstock

Korban judi online ini mayoritas masyarakat dengan ekonomi kelas bawah. Sebab mereka berpikir, judi online menjadi satu-satunya jalan untuk mendapatkan uang secara instan.

"Jadi saya melihat ini adalah penyakit masyarakat yang harus kita berantas dan harus kita cegah. Mencegah lebih baik daripada mengobati," ungkap Iqbal.

Selain itu, banyak di antara pemain judi online yang akhirnya mengurung diri dan bahkan menghindar dari keluarganya. Biasanya, mereka juga menggunakan pinjaman online (pinjol) untuk bisa terus berjudi.

"Makanya sekarang banyak kepala keluarga atau anggota keluarganya itu yang kalau main itu dia ghosting. Karena malu, mereka enggak bisa bayar utang, dikejar debt collector. Jadi judi online sama pinjol itu juga berkorelasi, karena mereka ini stres main game, kemudian judi lagi. Enggak punya uang, pinjol," jelasnya.

Iqbal melanjutkan, peran keluarga dalam pemulihan serta pencegahan untuk main judi online sangat penting dilakukan. Khususnya pada seorang ayah sebagai pemimpin keluarga.

"Saya kira memang ketahanan keluarga ini penting, bagaimana kepala keluarga ini harus memastikan, memantau, membimbing anggota keluarganya. Termasuk para suami, terkadang kalau kepala keluarganya main, bagaimana anaknya, ya, kan," imbuh Iqbal.

"Jadi ini penting tentang peran kepala keluarga khususnya ayah sebagai leader, pemimpin keluarga, bagaimana dia harus memberikan contoh. Termasuk juga kekerabatan ini penting. Keluarga tidak boleh individualis, dia harus berkumpul sehingga ketika ada masalah mereka saling menguatkan," sambungnya.

Lebih lanjut, peran pendidikan di sekolah juga penting untuk mengedukasi siswa sejak dini terkait dampak bahaya judi online.

"Dan termasuk juga perannya pendidikan, harusnya memang edukasi di sekolah tentang bahayanya judi ini sudah tersosialisasikan masuk ke kurikulum sehingga anak-anak ini tau bahayanya," pungkasnya.