Puan Dorong Kemerdekaan Palestina Lewat Two-State Solution
·waktu baca 2 menit

Ketua DPR RI Puan Maharani bicara kemerdekaan Palestina saat berpidato di Konferensi Uni Parlemen Negara Anggota Organisasi Kerja sama Islam (OKI) atau Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) ke-19.
Puang mendorong kemerdekaan rakyat Palestina dapat diselesaikan dengan Two-state solution atau solusi dua negara. Ia mengajak OKI mewujudkan hal tersebut.
“Parlemen harus mendorong lebih banyak negara di dunia untuk secara resmi mengakui negara Palestina. Kita juga harus mendorong penyelesaian konflik secara damai melalui Solusi Dua Negara,” kata Puan saat pembuka PUIC ke-19, Rabu (14/5).
Selain itu, Puan juga dengan tegas menolak wacana relokasi warga Palestina. Menurutnya, warga Gaza tanah kelahirannya adalah Palestina.
“Bapak Presiden dan Delegasi yang terhormat, kita harus menolak gagasan merelokasi rakyat Palestina dari wilayah Gaza, Gaza adalah milik rakyat Palestina,” tuturnya.
Solusi dua negara bukanlah ide baru, usulan mendirikan dua negara merdeka yang hidup berdampingan secara damai, yakni Negara Israel dan Negara Palestina yang akan didirikan di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya sudah pernah disuarakan di sidang PBB puluhan tahun silam.
Namun penolakan dari banyak negara Arab membuatnya tidak terlaksana sampai saat ini.
Maka dari itu, di depan pimpinan dan perwakilan parlemen dari negara OKI, Puan meminta agar negara Islam solid untuk membuat perubahan nyata dalam tatanan dunia. Salah satunya dengan mendorong solusi dua negara.
“Marilah pada kesempatan ini PUIC memperkuat peran, untuk dapat ikut menentukan arah perubahan tatanan dunia yang lebih baik,” kata Puan.
“PUIC juga harus semakin solid, yang ditunjukkan dengan kebersamaan dan solidaritas sebagai sesama anggota negara OKI dalam forum-forum internasional,” tuturnya.
Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah pelaksanaan PUIC ke-19. Meski acara pembukaan resminya baru digelar, namun rangkaian kegiatan PUIC ke-19 sudah dimulai sejak Senin (12/5), dengan sejumlah pertemuan penting.
Beberapa sesi pertemuan yang telah dilakukan antara lain membahas isu terkait Palestina dan Minoritas Muslim, Dialog Peradaban dan Agama, Ekonomi dan Lingkungan, serta isu Hak Asasi Manusia, Perempuan dan Keluarga.
