Puan Soal Kepala Daerah Kena OTT: Harus Evaluasi, Apa Biaya Politik Mahal?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua DPR RI, Puan Maharani (tengah) memberikan keterangan pers di DRP, Selasa (10/3). Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua DPR RI, Puan Maharani (tengah) memberikan keterangan pers di DRP, Selasa (10/3). Foto: Abid Raihan/kumparan

KPK kembali menangkap kepala daerah pada Selasa (10/3). Bupati Rejang Lebong, Fikri Thobari terjaring operasi tangkap tangan (OTT).

Penangkapannya menjadi OTT kepala daerah kedua pada bulan Maret ini, setelah sebelumnya Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq juga terkena OTT dan ditetapkan sebagai tersangka.

Ketua DPR RI, Puan Maharani pun menanggapi maraknya OTT kepala daerah ini. Menurutnya, ada hal yang perlu dievaluasi, termasuk biaya politik yang mahal.

“Kita harus sama-sama evaluasi antara DPR dengan pemerintah terkait dengan hal tersebut. Apakah kemudian mungkin biaya politik terlalu mahal atau kemudian bagaimana memberikan pendidikan akuntabilitas kepada seluruh kepala daerah,” ucap Puan di DPR, Selasa (10/3).

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Puan Maharani dalam Rapat Paripurna ke -15 di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan kesadaran pentingnya akuntabilitas kepada para kepala daerah.

“Juga bagaimana memberikan kesadaran kepada seluruh kepala daerah bahwa ya akuntabilitas itu penting bukan hanya untuk pengawasan akuntabilitas tapi bagaimana kesadaran untuk sama-sama saling menjaga,” tuturnya.

Petugas KPK menunjukkan barang bukti uang tunai dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Pengadilan Negeri Depok, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (6/2/2026). Foto: Darryl Ramadhan/ANTARA FOTO

Hal-hal tersebut lah yang menurut Puan harus dievaluasi demi mengurangi risiko korupsi di tingkat kepala daerah.

“Jadi memang harus evaluasi ke semua lini terkait dengan hal tersebut,” tandas Puan.