Puan Soroti Kasus Diabetes Anak, Dorong Konsumsi Bahan Lokal seperti Singkong

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua DPR RI Puan Maharani megecek singkong bersama petani. Foto: DPR RI
zoom-in-whitePerbesar
Ketua DPR RI Puan Maharani megecek singkong bersama petani. Foto: DPR RI

Ketua DPR RI Puan Maharani mendorong pemerintah mengambil langkah untuk menurunkan angka diabetes pada anak yang semakin melonjak.

Ketua DPP PDIP ini mendorong penggunaan bahan pangan pertanian lokal untuk dikonsumsi karena kandungannya yang sehat dan bergizi.

"Meningkatnya diabetes pada anak menuntut pengawasan ekstra dari banyak pihak, khususnya orang tua. Pentingnya sosialisasi dan konsumsi bahan pangan lokal juga sangat diperlukan untuk mencegah diabetes pada anak," ujar Puan dalam keterangannya, Rabu (7/8).

Di tengah gempuran pilihan minuman tinggi gula dan makanan ultra-proses yang ‘menggoda anak’, legislator dari dapil Jawa Tengah V ini menilai pangan hasil pertanian lokal dapat menjadi alternatif. Ia mencontohkan salah satunya adalah singkong.

"Singkong, salah satu sumber karbohidrat dengan indeks glikemik rendah bisa menjadi pilihan karena tidak memicu lonjakan gula darah, walau tentu saja konsumsinya tidak boleh berlebihan," ucap Puan.

Ilustrasi anak pengidap Diabetes. Foto: viktoria and anetta/Shutterstock

Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF), Indonesia menduduki peringkat kelima negara dengan jumlah diabetes terbanyak yaitu 19,5 juta penderita di tahun 2021 dan diprediksi akan menjadi 28,6 juta pada 2045.

Kemudian data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), angka diabetes pada anak melonjak hingga 70 kali lipat pada Januari 2023 dibandingkan tahun 2010. Sehingga perlu perhatian serius dari semua pihak.

"Data terbaru menunjukkan bahwa anak-anak kini semakin rentan terhadap diabetes, sebuah kondisi yang dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka secara signifikan. Tentu ini harus jadi perhatian kita bersama," ucap Puan.

Oleh sebab itu Puan menekankan pentingnya sosialisasi gerakan mengkonsumsi bahan pangan lokal.

“Selain mudah diolah menjadi bahan makanan dengan banyak kreasi untuk menggantikan nasi sebagai karbohidrat, bahan pangan lokal seperti singkong dan umbi-umbian memiliki banyak manfaat baik untuk tubuh, karena tidak melalui proses pengawetan sehingga lebih segar dan nutrisinya terjaga,” jelasnya.

Ilustrasi singkong Foto: Shutter Stock

Tak hanya itu, mengkonsumsi bahan pangan lokal bisa mengurangi emisi sebanyak 20 persen sekaligus bermanfaat untuk menghindari ancaman penyakit diabetes. Memanfaatkan hasil pertanian juga sekaligus mendukung upaya kedaulatan pangan.

“Hebatnya singkong yang mudah ditemukan sehari-hari ini juga diminati pasar internasional untuk dibuat tapioka dan bahan pangan lain,” kata Puan.

Eks Menko PMK ini menyebut singkong dapat dikembangkan menjadi produk pangan strategis yang dapat diunggulkan sebagai pendukung gerakan penganekaragaman konsumsi pangan. Puan mengatakan, penggunaan singkong sebagai bahan pangan memiliki banyak manfaat.

“Termasuk sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional dan mendukung produktivitas pertanian dalam negeri,” kata Puan.

kumparan post embed

Puan Soroti Marak Kasus Diabetes di Indonesia

Terkait maraknya kasus diabetes, Puan mendorong Pemerintah untuk memperbanyak program edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya pola makan sehat. Apalagi di era modern yang penuh dengan pilihan makanan tinggi gula dan makanan ultra-proses, banyak orang tua dan anak yang tidak menyadari dampak jangka panjang dari konsumsi makanan itu.

“Maka edukasi mengenai gizi dan kesehatan menjadi sangat penting. Di antaranya program kampanye edukasi yang mempromosikan konsumsi bahan pangan lokal yang sehat seperti singkong itu tadi, lalu sayuran, dan buah-buahan,” kata Puan.

“Tidak hanya membantu mencegah diabetes, langkah ini juga mendukung petani lokal dalam hal produksi dan distribusi makanan alami hasil pertanian Tanah Air,” tambah dia..

Puan juga mengingatkan pentingnya pengawasan dari instansi/lembaga terkait terhadap peredaran makanan/minuman tinggi gula dan ultra-proses. Regulasi dinilai akan semakin efektif dengan solusi yang dihadirkan oleh pembuat kebijakan.

"Yang pasti pengawasan dari Kemenkes dan BPOM harus ekstra dan benar-benar terasa manfaatnya. Pengetatan regulasi penting, tapi penting juga memastikan asupan sehat bisa terjangkau oleh semua," pungkas Puan.