Puisi Cinta Habibie untuk Ainun

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Indonesia B.J. Habibie dan istrinya, Hasri Ainun melambai kepada wartawan di luar gedung Parlemen di Jakarta 01 Oktober 1999 tak lama setelah menghadiri upacara pelantikan anggota baru Parlemen. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Indonesia B.J. Habibie dan istrinya, Hasri Ainun melambai kepada wartawan di luar gedung Parlemen di Jakarta 01 Oktober 1999 tak lama setelah menghadiri upacara pelantikan anggota baru Parlemen. Foto: AFP

Presiden ke-3 RI BJ Habibie telah tutup usia, Rabu (11/9). Sepanjang hidupnya, Habibie tak hanya menginspirasi lewat karya dan baktinya kepada negara, namun juga rasa cintanya yang begitu besar kepada Hasri Ainun Habibie.

Selama 48 tahun, Habibie dan Ainun nyaris tidak pernah terpisahkan. Namun, di tahun 2010, Habibie harus menelan takdir pahit. Ainun pergi selamanya menghadap Sang Khalik.

"Ainun, saya sangat mencintaimu. Tapi Allah lebih mencintaimu, sehingga saya merelakan kamu pergi," tutur Habibie, mengantarkan kepergian Ainun saat itu.

embed from external kumparan

Makam Ainun tak pernah sepi dan selalu dipenuhi bunga. Setiap Selasa dan Jumat, hingga akhir hayatnya, Habibie selalu mengirimkan bunga sedap malam dan anggrek ungu kesukaan Ainun.

Lima tahun setelah kepergian Ainun, rasa cinta Habibie tetap tidak pudar. Ia menuliskan rasa rindunya yang begitu dalam melalui tiga buah puisi yang tertuang dalam buku 'Habibie dan Ainun'.

"Bagi saya pribadi, hikmah menulis buku ini telah menjadi terapi untuk mengobati kerinduan, rasa tiba-tiba kehilangan oleh seseorang yang selama 48 tahun 10 hari berada dalam kehidupan saya, dalam berbagi derita dan bahagia, karena antara saya dan Ainun adalah dua raga tetapi hanya satu jiwa," tulis Habibie dalam pengantar bukunya.

Kini, sembilan tahun setelah kepergian Ainun, Habibie pun pergi menyusul kekasihnya. Meski Habibie-Ainun telah tiada, namun kisah cinta mereka akan tetap dikenang selamanya.

Presiden Indonesia BJ Habibie memasangkan istrinya, Hasri Ainun, dengan medali tertinggi bangsa selama upacara di istana presiden di Jakarta 14 Agustus. Foto: AFP/AGUS LOLONG

Berikut ketiga puisi cinta yang ditulis Habibie di hari ke-1000 meninggalnya Ainun:

Seribu

Sudah seribu hari Ainun pindah ke dimensi dan keadaan berbeda

Lingkunganmu, kemampuanmu, dan kebutuhanmu pula berbeda

Karena cinta murni, suci, sejati, sempurna, dan abadi tak berbeda

Kita tetap manunggal, menyatu, dan tak berbeda sepanjang masa

Ragamu di Taman Pahlawan, bersama para Pahlawan Bangsa lainnya

Jiwa, roh, batin, dan nuranimu telah menyatu denganku

Di mana ada Ainun ada Habibie, di mana ada Habibie ada Ainun

Tetap manunggal dan menyatu tak terpisahkan lagi sepanjang masa

Titipan Allah bibit cinta Ilahi pada setiap insan kehidupan di mana pun

Sesuai keinginan, kemampuan, kekuatan, dan kehendak-Mu Allah

Kami siram dengan kasih sayang, cinta, iman, taqwa, dan budaya kami

Yang murni, suci, sejati, sempurna, dan abadi sepanjang masa

Allah, lindungi kami dari godaan, gangguan mencemari cinta kami

Perekat kami menyatu, manunggal jiwa, roh, batin, dan nurani kami

Di mana pun dalam keadaan apapun kami tetap tak terpisahkan lagi

Seribu hari, seribu tahun, seribu juga tahun, sampai akhirat

Presiden Indonesia B.J. Habibie dan istrinya Ainun Habibie melambai kepada wartawan di gedung Parlemen di Jakarta, 21 September 1999, setelah ia memberikan penjelasan tentang kebijakan pemerintah tentang Timor Lorosa'e kepada anggota Parlemen. Foto: AFP/OKA BUDHI

Ainun

Hari ini,

tepat 50 tahun dan 8 menit yang lalu, kita bertatap muka

Tanpa direncanakan mata kita bertemu, bagaikan kilat menyambar

memukau, memesona 'Getaran Cinta', bagian dari 'Getaran Jiwa'

Alunan getaran yang tinggi, berirama denyutan jantung dan tarikan nafas

Tak terkendali mengkalbui diri kita sepanjang masa sampai akhirat

Sekarang,

50 tahun dan 8 menit kemudian, berkunjung ke Taman Makam Pahlawan

Tempat peristirahatan ragamu, getaran cinta dan getaran jiwa kita telah menyatu

Memukau, memesona berirama denyutan jatung dan tarikan nafas yang tinggi

Memanjatkan doa kepada Allah SWT,

Tuhan Yang Maha Esa telah memanunggalkan kita

Karena cinta kita paling suci, murni, sejati,

sempurna dan abadi sampai akhirat

Presiden ke-3 RI BJ Habibie berziarah ke makam istrinya, Hasri Ainun Habibie di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Rabu (5/6/2019). Foto: Antara Foto/Rivan Awal Lingga

Untuk Ainun

Tepat jam sepuluh pagi, lima puluh tahun yang lalu

Dengan ucapan Bismillahhirrahmaanirrahim, saya melangkah

Bertemu yang dilahirkan untuk saya dan saya untuk Ainun

Alunan budaya Jawa bernafaskan Islam, menjadikan kita suami isteri

Melalui pasang surut kehidupan, penuh dengan kenangan manis

Membangun keluarga sejahtera, damai dan tentram, keluarga sakinah

Tepat jam 10 pagi lima puluh tahun kemudian, di Taman Makam Pahlawan

Setelah membacakan tahlil bersama mereka yang menyayangimu

Saya panjatkan doa untukmu, selalu dalam lindungan-Nya dan bimbingan-Nya

Bersyukur pada Allah SWT yang telah melindungi dan mengilhami kita

Mengatasi tantangan badai kehidupan, berlayar ke akhirat dalam dimensi apa saja

Sekarang sudah 50 tahun berlalu, selalu menyatu dan tetap menyatu sampai akhirat