Puisi Wiji Thukul Berkumandang di Kampanye Ganjar-Mahfud, Nama Jokowi Disebut

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Butet Kartaredjasa pada Kirab Akbar Hajatan Rakyat Ganjar-Mahfud di Jalan Diponegoro, Kawasan Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (10/2/2024). Foto: Youtube/PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Butet Kartaredjasa pada Kirab Akbar Hajatan Rakyat Ganjar-Mahfud di Jalan Diponegoro, Kawasan Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (10/2/2024). Foto: Youtube/PDIP

Puisi Wiji Thukul, korban penculikan 1998, dibacakan di kampanye Ganjar-Mahfud. Putri Wiji Thukul, Nganthi yang membacakan puisi itu juga menagih janji Jokowi.

"Sampai sekarang kami masih mengingat janji Bapak Presiden Jokowi, perihal Wiji Thukul harus ketemu, kasus harus bisa selesai, dan harus bisa ditemukan hidup atau mati," kata Nganthi yang didampingi budayawan Butet di atas panggung kampanye Ganjar-Mahfud di Solo, Sabtu (10/2).

Ganjar Pranowo bersama istri dan anaknya mengikuti kirab menggunakan sapi saat kampanye akbar di Solo, Sabtu (10/2/2024). Foto: kumparan
Masa pendukung Ganjar-Mahfud tetap bertahan di Benteng Vastenburg, Solo meski hujan lebat. Foto: Paulina Herasmaranindar/kumparan

Butet sebelumnya menyampaikan, bahwa dari Solo perjuangan orde baru dimulai.

"Ada kekuatan yang dahsyat dari Solo, maka aku datang ke sini dengan cinta. Dari Solo, lahir penyair besar yang menjadi martir. Sahabatku, Wiji Thukul yang diculik. Dan, yang menculik men-capres-kan diri,” kata Butet.

Pada kesempatan itu, Nganthi yang mengenakan kebaya merah maron kemudian membacakan puisi karya Sang Ayah, berjudul ‘Peringatan’.

Jika rakyat pergi

ketika penguasa pidato

kita harus hati-hati

barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi

dan berbisik-bisik

ketika membicarakan masalahnya sendiri

penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh

itu artinya sudah gawat

dan bila omongan penguasa

tidak boleh dibantah

kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!

Butet mengatakan puisi Wiji Thukul masih relevan. Ia kemudian ikut membacakan puisi Wiji Thukul yang berjudul ‘Sajak Suara’ yang dibuat tahun 1988 pada masa orde baru.

Usai membacakan puisi, Butet tampil menirukan suara mantan presiden Soeharto, lalu kemudian bertransformasi menjadi suara Jokowi.