Puji Berlebihan Trump untuk Pangeran MBS

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Putra Mahkota sekaligus perdana menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman berbincang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat melakukan pertemuan di Riyadh, Arab Saudi, Selasa (13/5/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Putra Mahkota sekaligus perdana menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman berbincang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat melakukan pertemuan di Riyadh, Arab Saudi, Selasa (13/5/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP

Hubungan AS dan Arab Saudi memasuki babak baru di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Padahal, 4 tahun lalu Pangeran Mohammed bin Salman kesulitan untuk bisa bertemu dengan presiden saat itu, Joe Biden, yang ingin membuat Arab Saudi sebagai negara pariah (negara yang dikucilkan komunitas internasional -- red).

Saat itu, MBS dituduh terlibat dalam pembunuhan jurnalis Jamal Kashoggi -- tuduhan yang dibantah oleh MBS. Pada 2019, Biden berjanji akan membuat Arab Saudi jadi negara pariah karena pembunuhan Khashoggi dan catatan kejahatan HAM-nya yang luas.

Meski demikian, Biden pada akhirnya 'melunak', memutuskan mengatur ulang hubungan AS dengan Arab Saudi setelah harga minyak meroket pasca invasi Rusia ke Ukraina. Ini membutuhkan kerja sama antara Washington dan Riyadh.

Pada Juli 2022, Biden pun memutuskan bertemu dengan MBS. Meski, pertemuan itu pun menuai kritik karena keduanya saling menyapa lewat gestur fist bump, yang dinilai terlalu bersahabat. Gedung Putih berkilah hal itu dilakukan untuk mengurangi risiko Biden tertular COVID-19.

Hubungan AS dan Arab Saudi dengan cepat membaik di tengah upaya menjadi jembatan untuk menormalisasi hubungan Arab Saudi dengan Israel, dengan imbalan perjanjian pertahanan AS yang lebih luas. Namun, upaya itu terhenti ketika Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023 dan Israel yang terus membombardir Gaza setelah itu.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden melakukan pertemuan dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di Jeddah, Arab Saudi. Foto: Mandel Ngan/Pool via REUTERS

Trump Dinilai Berlebihan Memuji MBS

Putra Mahkota sekaligus perdana menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman berjalan bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat melakukan pertemuan di Riyadh, Arab Saudi, Selasa (13/5/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP

Kedatangan Trump pada Selasa (13/5) disambut langsung oleh MBS. Dia mengawalnya naik eskalator dan menyopiri Trump dengan mobil golf menjelang jamuan makan malam kenegaraan.

Trump juga berjanji untuk mencabut sanksi terhadap Suriah. Kata Trump, dikutip dari Reuters, Rabu (14/5), itu merupakan permintaan MBS.

"Oh, apa yang saya lakukan untuk putra mahkota," kata Trump.

Tak hanya itu, Trump memberikan pujian yang berlebihan kepada MBS. Trump menyebut MBS sebagai 'pria yang luar biasa' dan 'orang yang hebat', dan tidak menyinggung satu pun soal kekhawatiran HAM di negara itu.

"Saya menyukainya. Saya sangat menyukainya," kata Trump di pertemuan puncak investasi di Riyadh.

Hubungan AS dan Arab Saudi tetap berlandaskan pada kepentingan bersama: Trump mengejar keuntungan ekonomi besar dan peran negaranya di kawasan. Sementara MBS mengharapkan akses teknologi yang canggih, dukungan militer, sekutu yang kuat dalam upayanya memodernisasi Arab Saudi, dan menegaskan kepemimpinannya di kawasan.

Dalam pertemuan itu, Trump menggemborkan kesepakatan pertahanan senilai USD 142 miliar (setara Rp 2,3 T) dan paket investasi Arab Saudi senilai USD 600 miliar (setara Rp 9,9 T) yang mencakup kecerdasan buatan (AI), infrastruktur, dan energi.

Hubungan Trump dengan MBS menuai kritik dari anggota parlemen AS, kelompok HAM, dan analis kebijakan luar negeri. Menurut mereka, Trump memprioritaskan kepentingan ekonomi dibandingkan hak asasi manusia.