kumparan
6 Juni 2018 9:23

Pulau Sentosa Jadi Tempat Pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump

Sentosa Island Singapore
Sentosa Island Singapore (Foto: Flickr)
Pejabat Amerika Serikat mengatakan pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump akan digelar di sebuah hotel di pulau Sentosa, Singapura. Sebelumnya lokasi pasti pertemuan antara pemimpin Korea Utara dan Presiden Amerika Serikat itu sangat dirahasiakan.
ADVERTISEMENT
Pengumuman lokasi pertemuan di Sentosa ini disampaikan oleh juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders melalui akun Twitternya, Rabu (5/6). Dia mengatakan, Hotel Capella di Sentosa dipilih menjadi tempat kedua pemimpin bertemu.
"Tempat pertemuan di Singapura antara @POTUS dan Pemimpin Kim Jong-un adalah Hotel Capella di Pulau Sentosa. Kami berterima kasih kepada tuan rumah Singapura atas keramahan mereka," kata Sanders. POTUS adalah singkatan dari Presiden Amerika Serikat.
Jika tidak ada perubahan, pertemuan akan dilaksanakan pada 12 Juni pukul 9 pagi waktu Singapura. Pertemuan nanti akan membahas tindak lanjut rencana perdamaian Korea dan upaya denuklirisasi yang disepakati Kim dalam pertemuan dengan Presiden Korea Selatan April.
Capella Hotel Singapura
Capella Hotel Singapura. (Foto: Dok. Capella Hotel)
Awalnya pertemuan Kim dan Trump diprediksi oleh media akan digelar di hotel Shangri-La di pusat kota Singapura. Pasalnya, Shangri-La biasa digunakan untuk pertemuan kelas dunia yang dihadiri para pemimpin negara. Selain itu, polisi Singapura telah menetapkan zona aman di sekitar Shangri-La.
ADVERTISEMENT
Sementara hotel Capella dikenal sebagai hotel liburan yang terletak jauh dari pusat kota, tidak pernah digunakan untuk menyelenggarakan forum internasional. Hotel dengan pemandangan Laut China Selatan dan hutan hujan Singapura ini dilengkapi dengan lapangan golf, taman hiburan, dan spa.
Beberapa artis yang pernah menginap di Hotel Capella adalah Madonna dan Lady Gaga. Lokasinya yang berada di luar pulau Sentosa menjadikan hotel ini pilihan terbaik untuk pertemuan Kim dan Trump.
"Lokasi Capella yang terpisah dari pulau utama menjadi tembok virtual untuk menjauhkan ancaman keamanan dari pertemuan tersebut," kata Muhammad Faizal Abdul Rahman, peneliti keamanan nasional di Singapura dikutip dari This Week on Asia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan