Puluhan Tahun Merawat Sunyi, Namu, Setia Menjaga Makam di TPU Ngagel Rejo

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Namu (60), perawat Makam Ngagel Rejo, Surabaya, Jumat (23/1/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Namu (60), perawat Makam Ngagel Rejo, Surabaya, Jumat (23/1/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Di antara deretan nisan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel Rejo, Surabaya, Namu (60) akrab dengan kesunyian. Sejak pagi hingga sore, ia menyusuri makam-makam, membersihkan rumput liar, merapikan kijing, dan memastikan area pemakaman tetap terawat.

Pria berusia 60 tahun itu telah mengabdikan hidupnya sebagai perawat makam sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Pekerjaan tersebut bukan pilihan mendadak, melainkan warisan keluarga yang terus ia jalani hingga kini.

“Mulai SD sudah di sini. Dulu kakak yang kerja, terus saya ikut terjun,” kata Namu saat ditemui di TPU Ngagel Rejo, Jumat (23/1).

Warga berziarah di makam keluarganya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel Rejo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (27/2/2025). Foto: Didik Suhartono/ANTARA FOTO

Setiap hari, Namu bekerja dari pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Sementara pada malam hari, penjagaan pemakaman dilakukan secara bergiliran oleh petugas piket.

Di balik kesunyian area pemakaman, pekerjaannya tak selalu berjalan mulus. Ia kerap menerima keluhan dari keluarga almarhum yang datang berziarah.

“Kadang warga yang datang marah kalau makamnya kotor. Tapi kalau bersih ya enggak marah,” ujarnya singkat.

Soal penghasilan, Namu mengaku tak pernah menetapkan tarif. Uang yang ia terima sepenuhnya bergantung pada keikhlasan dan kemampuan keluarga yang berziarah.

“Ada yang kasih Rp 50 ribu, ada yang Rp 100 ribu. Enggak tentu,” katanya.

Suasana Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel Rejo, Surabaya, Jumat (23/1/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Meski bekerja di lingkungan yang kerap dianggap menyeramkan, Namu mengaku jarang mengalami peristiwa mistis. Menurutnya, hal yang lebih sering terjadi justru persoalan teknis pada tanah makam.

“Kalau tanah turun, di makam itu ada tlesing, rongga di dalam tanah. Di dalamnya masih kosong,” ungkapnya.

Biasanya, setelah sekitar 40 hari pemakaman, tanah dapat mengalami ambles sehingga bekas liang lahat kembali terlihat. Jika kondisi itu terjadi, Namu akan menginformasikannya kepada pihak keluarga agar dilakukan penimbunan ulang.

“Kalau sudah turun, keluarga datang lihat, memang turun,” ujarnya.

Suasana Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel Rejo, Surabaya, Jumat (23/1/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Dalam menjalani profesi yang jarang dilirik orang, Namu tak menyimpan harapan besar. Ia menjalani pekerjaannya dengan sederhana dan penuh keikhlasan.

“Kalau berharap ya enggak ada. Kalau ada yang datang ya dapat uang, kalau enggak ya enggak dapat,” katanya.

Setiap proses pemakaman di TPU Ngagel Rejo, lanjut Namu, juga harus melalui prosedur administrasi. Keluarga wajib melapor dan melengkapi dokumen sebelum pemakaman dilakukan.

“Pihak keluarga yang meninggal lapor dulu di sini. Kalau enggak ada surat-surat, enggak bisa. Kalau komplit, bisa dilayani,” pungkasnya.

Suasana Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel Rejo, Surabaya, Jumat (23/1/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan