Putin Akan Tingkatkan Jumlah Angkatan Bersenjata Rusia Jadi 2,04 Juta Personel
ยทwaktu baca 2 menit

Presiden Rusia, Vladimir Putin, memerintahkan peningkatan tajam dalam ukuran angkatan bersenjatanya pada Kamis (25/8).
Disadur dari Reuters, instruksi tersebut akan meningkatkan jumlah tentara dari 1,9 juta menjadi 2,04 juta. Militer juga dituntut untuk menambahkan sekitar 137.000 anggota dinas aktif menjelang Januari 2023. Alhasil, angka personel aktif akan mencapai 1,15 juta orang.
Putin lantas mengarahkan pemerintah untuk menyisihkan dana demi memenuhi target mendatang. Keputusan tersebut menandai perubahan signifikan dalam lima tahun terakhir. Kremlin sebelumnya konsisten merampingkan pasukan militer yang membengkak.
Para pejabat tidak menjelaskan alasan di balik perombakan dalam pendekatan itu. Tetapi, analis menduga, Putin memberikan sinyal akan mengarungi perang yang panjang di Ukraina.
Pejabat militer AS memperkirakan, Rusia menanggung 80.000 korban tewas dan terluka selama invasi Putin. Setelah enam bulan pertempuran, Putin tampaknya tidak berencana mengalah.
"Ini bukan langkah yang dibuat seseorang ketika mengantisipasi akhir yang cepat dari perang," papar peneliti kebijakan senior di RAND Corp, Dara Massicot, dikutip dari The New York Times, Jumat (25/8).
"Ini adalah sesuatu yang dilakukan ketika merencanakan konflik berkepanjangan," tambah dia.
Kondisi di medan perang mengindikasikan bahwa pertempuran sengit akan berlanjut hingga musim dingin berikutnya. Kedua belah pihak pun menolak bernegosiasi atau berkompromi.
Rusia awalnya menggencarkan serangan untuk menggulingkan pemerintah Kiev. Militer negara itu memiliki keunggulan signifikan dalam persenjataannya.
Namun, pasukan Rusia tidak mendapati kemajuan sejak awal Juli. Pasukan tersebur beralih merebut sebagian besar wilayah Ukraina. Tetapi, serangan Rusia di wilayah timur dan selatan telah melambat.
Analis militer menghubungkan hambatan itu dengan kurangnya tenaga kerja. Selama beberapa bulan terakhir, Rusia merekrut sukarelawan untuk bertugas di Ukraina.
Pemerintah mengharuskan pria berusia 18 hingga 27 tahun untuk menjalani dinas militer aktif selama setahun. Sejauh ini, Putin tetap menghindari wajib militer massal untuk perang di Ukraina.
Sebaliknya, pihak berwenang memikat rekrutan untuk bergabung dalam pertempuran dengan menawarkan insentif uang tunai dan keuntungan lainnya. Pada akhir Mei, Putin menandatangani undang-undang yang menghapus batas usia 40 tahun untuk tentara kontrak.
Analis militer Rusia, Pavel Luzin, skeptis tentang kemampuan negara itu dalam meningkatkan angkatan bersenjatanya. Sebab, peningkatan tajam seperti itu membutuhkan perubahan besar.
Pengelolaannya bisa memungkinkan bila Rusia meningkatkan durasi wajib militer menjadi 18 bulan. Luzin menjelaskan, solusi lainnya adalah dengan menyerap pasukan dari Garda Nasional Rusia.
