Putin Akui Situasi di 4 Wilayah Ukraina yang Direbut Rusia Sangat Sulit

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi jembatan yang menghubungkan daratan Rusia dengan Semenanjung Krimea melintasi Selat Kerch. Foto: Sputnik/Pool via REUTER
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi jembatan yang menghubungkan daratan Rusia dengan Semenanjung Krimea melintasi Selat Kerch. Foto: Sputnik/Pool via REUTER

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menggambarkan situasi di empat wilayah Ukraina yang diklaim telah dianeksasinya 'sangat sulit' pada Senin (19/12).

Rusia mencaplok provinsi timur Donbass—yang terdiri dari Donetsk dan Luhansk—serta wilayah selatan, Kherson dan Zaporizhzhia, dalam upacara penandatanganan pada 30 September.

Padahal, provinsi-provinsi ini belum sepenuhnya jatuh dalam cengkeraman Kremlin. Kepada badan keamanan Rusia yang beroperasi di Ukraina, Putin akhirnya mengungkap keadaan terkini.

"Ya, sekarang sulit bagi Anda. Situasi di Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk, di wilayah Kherson dan Zaporizhzhia sangat sulit," ujar Putin, dikutip dari Reuters, Selasa (20/12).

Presiden Rusia Vladimir Putin bersama para pemimpin yang dipasang Rusia di wilayah Donetsk, Luhansk, Kherson dan Zaporizhzhia Ukraina, di Aula Georgievsky di Istana Grand Kremlin, di Moskow, Rusia, Jumat (30/9/2022). Foto: Sputnik/Mikhail Metzel/Pool via REUTERS

Putin membuat komentar tersebut saat Hari Dinas Keamanan yang dirayakan di seluruh Rusia. Dalam kesempatan itu, dia turut memerintahkan penguatan perbatasan Rusia.

Putin kemudian menginstruksikan dinas keamanan agar lebih mengendalikan masyarakat, serta memastikan keselamatan orang-orang di wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia.

Terlepas dari pencaplokan sekitar 15 persen dari wilayah Ukraina, Putin mengakui perang dapat berlangsung lama.

Konflik yang sudah memasuki sepuluh bulan itu merupakan yang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Invasi Rusia ke Ukraina sudah menewaskan puluhan ribu orang, mengusir jutaan lainnya dari rumah mereka, dan mengubah kota-kota menjadi puing-puing.

Warga kembali ke tempat perlindungan mereka saat melintasi jembatan yang hancur di Bakhmut, Ukraina, Minggu (30/10/2022). Foto: Clodagh Kilcoyne/Reuters

Ukraina turut melaporkan pertempuran yang semakin berkecamuk. Pihaknya mengatakan, artileri Rusia telah menghantam 25 kota dan desa sekitar wilayah timur Bakhmut dan Avdiivka.

Penembakan juga melanda kota di timur laut yang direbut kembali pasukan Ukraina pada September, Kupiansk.

Ukraina melaporkan, sistem pertahanan udaranya telah menembak jatuh 23 dari 28 pesawat nirawak (drone) Rusia. Sebagian besar drone tersebut menargetkan Ibu Kota Kiev. Gempuran itu merupakan serangan udara ketiga dalam enam hari terakhir.

Rusia menyasar jaringan listrik Ukraina, sehingga menyebabkan pemadaman listrik saat suhu mencapai titik di bawah nol.

Serangan drone terbaru ini tidak menimbulkan korban jiwa. Tetapi, sembilan bangunan rusak di wilayah Kiev.

Kondisi sebuah gereja Ortodoks di desa Bohorodychne di wilayah Donetsk, Ukraina hancur akibat serangan Rusia. Foto: Yevhen Titov/Reuters

Sebagai balasan, Ukraina melancarkan belasan serangan terhadap pasukan dan peralatan Rusia.

Wali Kota Donetsk yang ditunjuk Rusia, Alexei Kulemzin, menyebut penembakan menghantam rumah sakit dan taman kanak-kanak.

Selama berbulan-bulan, aktivitas militer terlihat pula di barat laut Ukraina, tepatnya Belarusia. Negara tersebut merupakan sekutu dekat Kremlin. Rusia menggunakan Belarusia sebagai landasan untuk meluncurkan serangan terhadap Kiev pada Februari.

Putin lalu melangsungkan kunjungan pertamanya ke Belarusia sejak 2019 pada Senin (19/12). Dia menemui Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko. Mereka memuji hubungan kedua negara yang semakin mendalam pada konferensi pers yang berlangsung larut malam.

Ukraina khawatir bahwa mereka akan membahas keterlibatan angkatan bersenjata Belarusia dalam membantu invasi Rusia.

Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api akibat serangan drone Rusia di Kiev, Ukraina. Foto: Layanan Darurat Negara Ukraina/via REUTERS

Tetapi, Lukashenko telah berulang kali membantah bahwa dia berniat mengirim pasukannya ke Ukraina. Kremlin juga menolak anggapan bahwa Putin berusaha mendorong sekutunya mengambil peran yang lebih aktif dalam 'operasi militer khusus' di Ukraina.

"Rusia tidak tertarik untuk menyerap siapa pun," tegas Putin.

"Tidak ada gunanya dalam hal ini. Ini bukan pengambilalihan, ini masalah penyelarasan kebijakan," tambah dia.

Putin telah mengirimkan pasukannya ke Belarusia pada Oktober. Kementerian Pertahanan Rusia menerangkan, mereka akan melangsungkan latihan taktis batalion. Tetapi, pihaknya tidak membeberkan jadwal latihan militer tersebut.

Sementara itu, Ukraina sedang meminta lebih banyak bantuan senjata dari Barat.

"Senjata, peluru, kemampuan pertahanan baru. Segala sesuatu yang akan memberi kita kemampuan untuk mempercepat akhir perang ini," tutur Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.