Putin Masih Tak Percaya ISIS jadi Otak Penyerangan Moskow, Tetap Curigai Ukraina

25 Maret 2024 17:07 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
25
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Warga meletakkan bunga di tugu peringatan darurat di depan Balai Kota Crocus, Sehari setelah serangan senjata di Krasnogorsk, luar Moskow, Sabtu (23/3/2024) Foto: STR/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Warga meletakkan bunga di tugu peringatan darurat di depan Balai Kota Crocus, Sehari setelah serangan senjata di Krasnogorsk, luar Moskow, Sabtu (23/3/2024) Foto: STR/AFP
ADVERTISEMENT
Presiden Rusia Vladimir Putin masih tidak percaya dengan klaim ISIS soal penyerangan konser musik di Moskow pada Jumat (22/3). Serangan itu menewaskan 137 orang.
ADVERTISEMENT
Ketidakpercayaan Putin dan pemerintah ini disampaikan oleh Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Senin (25/3).
Sebelumnya, empat tersangka serangan teroris di gedung konser Crocus City telah didakwa di pengadilan Moskow pada Minggu (24/3) malam. Mereka diidentifikasi sebagai warga negara Tajikistan, di mana ISIS banyak merekrut simpatisan.
Dikutip dari TheGuardian, para pejabat dan media pemerintahan Rusia selalu mengabaikan klaim ISIS sebagai dalang serangan tersebut. Dalam satu-satunya pernyataan publik mengenai pembantaian itu, Presiden Putin tidak menyebut ISIS sebagai otak penyerangan.
Meskipun ISIS telah merilis rekaman dan foto untuk memperkuat bukti, Rusia tetap menuduh Ukraina.
Meduza, sebuah situs independen berbahasa Rusia, menyebut media yang didanai negara dan pro-pemerintah Rusia telah diinstruksikan Putin untuk menekankan kemungkinan keterlibatan Ukraina dalam serangan itu.
ADVERTISEMENT
"Intelijen militer Ukraina telah merekrut penyerang yang mirip ISIS, tapi ini bukan ISIS," ungkap seorang pembawa acara televisi pemerintah di Rusia, Olga Skabeeva, via Telegram, seperti dikutip TheGuardian.
Presiden Rusia dan calon presiden Vladimir Putin berbicara kepada massa saat rapat umum dan konser merayakan 10 tahun aneksasi Rusia atas Krimea di Lapangan Merah di Moskow pada 18 Maret 2024. Foto: Natalia Kolesnikova / AFP
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, juga mengabaikan laporan intelijen AS yang menyatakan ISIS berada di balik serangan tersebut.
“Saya berharap mereka bisa secara cepat menyelesaikan pembunuhan Presiden Kennedy mereka sendiri,” tulisnya Maria di Telegram, Minggu (24/3).
“Tapi tidak, selama lebih dari 60 tahun mereka belum bisa menemukan siapa yang membunuhnya. Atau mungkin itu ISIS juga?”
“Sampai penyelidikan atas serangan teroris di Balai Kota Crocus selesai, pernyataan apa pun dari Washington yang membebaskan Kiev dari tuduhan harus dianggap sebagai bukti,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Menurut Maria, ini adalah bagian dari pendanaan kegiatan teroris kaum demokrat liberal Amerika dan partisipasi korup keluarga Biden selama bertahun-tahun.
Tim penyelamat bekerja untuk memadamkan api di tempat konser Balai Kota Crocus yang terbakar setelah insiden penembakan, di luar Moskow, Rusia, Jumat (22/3/2024). Foto: Maxim Shemetov/REUTERS
Komite investigasi Rusia mengatakan, penyebab tewasnya ratusan penonton konser akibat luka tembak dan keracunan asap imbas kebakaran gedung.
Teroris bersenjata itu diduga telah merencanakan serangan dengan hati-hati. Mereka membakar tangga darurat untuk menggiring penonton menuju area pembunuhan di tengah lobi.
Kemudian beberapa tersangka ditangkap di wilayah selatan Bryans, saat mereka hendak melarikan diri ke hutan.
Usai tertangkap, sebuah video menunjukkan proses interogasi pasukan keamanan Rusia dengan tersangka, salah satunya berbicara bahasa Tajik. Kementerian Luar Negeri Tajikistan membantah bahwa para tersangka adalah warga negara Tajikistan.
Dalam panggilan telepon pada Minggu (24/3), Putin dan pemimpin Tajikistan, Emomali Rahmon, menekankan bahwa kerja sama antara Rusia dan Tajikistan dalam melawan terorisme akan terus ditingkatkan.
Shamsidin Fariduni, tersangka penembakan di tempat konser Balai Kota Crocus, duduk di balik dinding kaca terdakwa di pengadilan distrik Basmanny di Moskow, Rusia, Minggu (24/3/2024). Foto: Shamil Zhumatov/REUTERS
Beberapa video interogasi menunjukkan bahwa petugas keamanan Rusia menyiksa keempat tersangka. Salah satu klip, yang diunggah blogger Rusia, memperlihatkan anggota pasukan keamanan memotong telinga salah satu tersangka dan memasukkannya ke dalam mulut. Video lain menunjukkan pasukan keamanan memukuli tersangka dengan senapan dan menendangnya.
ADVERTISEMENT
Beberapa ahli menggambarkan serangan itu sebagai kegagalan sistem keamanan Rusia. Meski demikian, tak banyak diskusi yang memberatkan kegagalan keamanan tersebut. Muncul kekhawatiran bahwa serangan itu justru akan digunakan Putin sebagai cara untuk menggalang dukungan Rusia dalam konflik Ukraina.